setting

IHYA ULUMUDDIN : Tanda Kebagusan Akhlak

Tanda Kebagusan Akhlak



PENJELASAN:tanda-tanda kebagusan akhlak.

Ketahuilah kiranya, bahwa tiap-tiap manusia itu, tiada mengetahui dengan kekurangan dirinya. Apabila ia berjuang menentang nafsunya, dengan perju­angan sedikit saja, sehingga ia meninggalkan kekejian-kekejian perbuatan

1073

maksiat, kadang-kadang lalu ia menyangka sendiri, bahwa ia telah member- sihkan dirinya dan membaguskan akhlaknya. Dan merasa tidak perlu lagi mujahadah.

Dari itu, maka tak boleh tidak, dijelaskan tanda kebagusan akhlak. Sesungguhnya kebagusan akhlak itu, ialah iman. Dan keburukan akhlak itu, i- atah nifaq (sifat orang munafiq). Allah Ta'ala menyebutkan sifat-sifat orang mu'min dan orang munafiq dalam KitabNya. Dan sifat-sifat itu pada jumlah- nya, adalah buah (hasil) kebagusan akhlak dan keburukan akhlak. Maka ma- rilah kami kemukakan sebahagian dari yang demikian, untuk diketahui tanda kebagusan akhlak. Allah Ta'ala berfirman:-

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ

(Qad-aflahal-mu'minuunal-ladziina hum fii shalaatihim khaasyi 'uun, wal- ladziina huma-nil-laghwi mu'ridluun, wal-Iadziina hum liz-zakaati faa-'iluun, wal-ladziina hum li-furuujihim haafidhuun, illaa 'alaa azwaajihim au maa ma- lakat aimaanuhum, fa-innahumghairumaluumiin, fa-manib-taghaa wa-raa-a dzaalika, fa-ulaa-ika humul aaduun, wal-ladziina hum bi-amaanaatihim wa 'ahdi-him raa-'uun, wal-ladziina hum 'alaa shalaatihim yu haa-fidhuun,ulaa- ika humiil-waaritsuun). Artinya: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman itu. Mere­ka yang khusyu' dalam sembahyangnya. Dan yang menjauhkan diri dari per­kataan yang kotor. Dan yang mengerjakan perbuatan suci (membayarkan zakat). Dan yang menjaga kehormatannya (tidak melepaskan syahwatnya). Melainkan kepada isterinya atau kepunyaan tangan kanannya (sahaja perempuan).

Maka sesungguhnya mereka itu tiada tercela. Tetapi, orang-orang yang men- cari selain dari itu, maka merekalah orang-orang yang melanggar batas. Dan - orang beriman dan beruntung juga-, orang-orang yang memelihara keperca- yaan yang diberikan kepadanya serta janji yang dibuatnya. Dan yang menjaga sembahyangnya. Itulah orang-orang yang mempusakai". - S. Al-Mu'minun, ayat 1—2—3-4—5—6—7—8—9—10.

 Allah berfirman:-
التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
(At-taa-ibuuftal- 'aabiduunal-haamiduunas- saaihuunar - raaki 'uu-nas-saaji- duunal-aamiruuna bil-ma'ruufi, wan-nahuuna a'nil-munkari, wal-haafi- dhuuna lihuduudil-laah, wa basy-syi-ril-mu'miniin).

1074

Artinya: "Orang-orang yang tobat (kepada Allah), orang-orang yang me­nyembah (Allah), orang-orang yang memuji (Allah), orang-orang yang ber- puasa, orang-orang yang ruku', orang-orang yang sujud, orang-orang yang menyuruh mengerjakan perbuatan baik, orang-orang yang melarang menger­jakan kejahatan dan orang-orang yang menjaga batas-batas (aturan) Allah; sampaikanlah berita gambira kepada orang-orang yang beriman!". S. Al-Ba- ra-ah, ayat 112.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman
Artinya: "Sebenarnya orang-orang yang beriman itu, ialah mereka yang ketika disebut nama Allah, hatinya penuh ketakutan dan apabila dibacakan kepa­danya keterangan-keteranganNya, bertambah keimanannya karena itu dan mereka menyerahkan dirinya kepada Tuhannya. Mereka tetap mengerjakan shalat dan membelanjakan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang sebenarnya beriman". S. Al-Anfal, ayat 2— 3—4.


Allah Ta'ala berfirman, yang artinya (1): "Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha pemurah, ialah mereka yang berjalan dibumi dengan sopannya dan apa­bila orang-orang yang bodoh menghadapkan perkataan kepadanya, dijawabnya: Selamat!


Dan mereka yang pada malam hari menyembah Tuhan, sujud dan berdiri. Dan mereka yang berkata: "Wahai Tuhan kami! Jauhkanlah kira nya dari kami siksaan neraka. Sesungguhnya siksaan neraka itu memilukan hati. Sesungguhnya itulah kediaman dan tempat tinggal yang amat buruk. Dan mereka itu, apabila membelanjakan hartanya, tiada me'lampaui batas dan tiada (pula) bersifat kikir, tetapi pertengahan antara keduanya. Dan me reka itu tiada menyeru tuhan yang lain disamping Allah dan tidak membunuh jiwa yang dilarang oleh Allah (membunuhnya), melainkan untuk keadilan dan mereka tiada melakukan perzinaan. Dan siapa yang mengerjakan semua itu, niscaya akan menemui hukuman. Kepadanya akan diperlipat-gandakan siksaan pada hari kiamat dan mereka tetap disana dalam keadaan terhina. Kecuali orang yang telah kembali (tobat) dan mengerjakan perbuatan baik, ma­ka kejahatan orang-orang itu diganti oleh Allah dengan kebaikan. Dan Allah itu Maha pengampun dan Mahapenyayang. Dan orang yang kembali (tobat)

(1). Dalam Ihya' yang berbahasa Arab, hanya disebut ayat pertamanya, lain disebut: hingga akhir surat, maka disini kami salin semuanya, sampai akhir surat, agar dapat diperhatikan semuanya sifat-sifat itu (Peny.).
1075


dan mengerjakan perbuatan baik itu, maka sesungguhnya dia kembali kepada Allah dengan diterima baik. Dan mereka yang tidak mau menjadi saksi-palsu dan apabila melalui perkara yang omong-kosong, mereka berlalu dengan hormatnya. Dan mereka itu, apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan, mereka tiada bersikap menulikan telinga dan membutakan mata. Dan mereka itu berkata: "Wahai Tuhan kami! Kurniakanlah kepada isteri kami dan turunan menjadi cahaya mata dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang memelihara dirinya - dari kejahatan! - Mereka mendapat tempat yang tinggi, sebagai pembalasan dari kesabaran mereka dan disana mereka akan mendapat penghormatan selamat datang dan kebahagiaan, Mereka kekal di­sana. Alangkah baik kediaman dan tempat tinggalnya! Katakan: "Tuhanku ti­dak akan memperhatikan kamu, kalau tiada do'a (ibadah) kamu. Sesungguh­nya kamu telah mendustakan (Tuhan), karena itu, (hukuman) pasti datang". S. Al-Furqan, ayat 63—64-65—66—67—68—69—70—71—72—73—74—75 —76 dan 77.

Siapa yang menjadi pertanyaan tentang keadaannya, maka hendaklah ia mengemukakan dirinya pada ayat-ayat yang tersebut diatas. Adanya semua sifat- sifat itu menjadi tanda baik akhlaknya. Tidak adanya sifat-sifat itu, menjadi tanda buruk akhlaknya. Adanya sebahagian dan tidak adanya sebahagian menunjukan adanya sebahagian kebaikan akhlak dan tidak baiknya sebaha­gian. Maka hendaklah ia berusaha memperoleh yang tidak ada dan menja­ga yang sudah ada.

Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . menyifatkan orang mu'min dengan banyak sifat. Dan de­ngan semua itu ditunjukkannya kepada akhlak yang baik. Beliau bersabda:-
المؤمن بصفات كثيرة وأشار بجميعها إلى محاسن الأخلاق فقال المؤمن يحب لأخيه ما يحب لنفسه
(Al-mu'minu yuhibbu liakhiihi maa yuhibbu linafsihi).
Artinya: "Orang mu'min itu mencintai saudaranya, apa yang dicintainya un­tuk dirinya sendiri" (1).



Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:-
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه
(Man kaana yu'minu bi'llaahi wal-yaumil-aakhiri fal-yukrim dlaifahu). Artinya: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari-akhirat, maka hendak­lah ia memuliakan tamunya" (2).

1.Hadits ini diriwayatkan oleh Dua syaikh (Al-Bukhari dan Muslim) dari Anas.
2Hadits ini dijepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah dan Abi Syuraih Al- Khuza'i.
1076

Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:-
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره
(Man kaana yu'minu bi'llaahi wal-yaumil-aakhiri fal-yukrim jaarahu).Artinya: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendak­lah ia memuliakan tetangganya" (1).



 Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:-
وقال من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت
(Man kaana yu'minu bi'llaahi wal-yaumil-aakhiri, far-jaqul khairan au la- yashmut).
Artinya: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendak­lah ia berkata yang baik atau diam" (2).


Nabi صلى الله عليه وسلم . menyebutkan, bahwa sifat-sifat orang mu'min itu, ialah: kebaikan akhlak. Beliau bersabda:-
أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم أخلاقا
(Akmalul-mu'minima iimaanan ahsanuhum akhlaaqaa).Artinya: "Orang mu'min yang paling sempurna akhlaknya, ialah mereka yang terbaik akhlaknya" (3).



Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:-
إذا رأيتم المؤمن صموتا وقورا فادنوا منه فإنه يلقن الحكمة
(Idzaa raaitumul-mu'mina shamuutan waquuran, fadnuu minhu, fainnahu- yulaq qanul-hikmah).Artinya: "Apabila engkau melihat orang mu'min itu pendiam dan lemah-lem- but, maka dekatilah dia, karena dia itu akan diajarkan hikmah"(4)..


Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:-
من سرته حسنته وساءته سيئته فهو مؤمن
(Man sarrathu hasanatuhu wa saa-athu sayyiatuhu fahuwa mu'minun). Artinya: "Siapa yang menyenangkannya oleh kebaikannya dan memburukan nya oleh kejahatannya, maka dia adalah orang mu'min (yang sempurna)" (5).

(1).
Hadits ini disepakati oleh AI-Bukhari dan Muslim.
(2).
Hadits ini juga disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim.
(3).
Dirawikan Ahmad, Abu Daud dan Al-Baihaqi dari Abi Hurairah.
(4).
Dirawikan Ibnu Majah dari Abi Khallad dll. Sanad dla'if. ;
(5).
Dirawikan Ahmad dan Ath-Thabrani dari Abi Musa.
1077



Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:-
لا يحل لمؤمن أن يشير إلى أخيه بنظرة تؤذيه
(Laa yahillu Iimu'minin an yusyiira ilaa achiihi bi-nadh-ratintu'dzii-hi). Artinya: "Tidak halal (tidak dibolehkan) bagi orang mu'min, menunjuk kepa­da saudaranya (sesama mu'min) dengan pandangan yang menyakitinya" (1).


Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:-
لا يحل لمسلم أن يروع مسلما
(Laa yahillu limuslimin an yurawwi'a musliman).
Artinya: "Tidak halal (tidak dibolehkan) bagi orang muslim, menakut-nakuti sesama muslim" (2).


Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:
إنما يتجالس المتجالسان بأمانة الله عز وجل فلا يحل لأحدهما أن يفشي على أخيه ما يكرهه
(Inna maa yatajaalasu'l-mutajaalisaani bi-amaanati'llaahi 'Azza wa Jalla falaa yahillu li-ahadi-himaa an yufsyia 'alaa akhiihi maa yakrahuhu). Artinya: "Sesungguhnya duduk-duduklah dua orang yang duduk-duduk de­ngan amanah Allah 'Azza wa Jalla. Maka tidak halal (tidak dibolehkan) bagi salah seseorang menyiarkan terhadap temannya, apa yang tidak disukainya"


Sebahagian mereka mengumpulkan tanda-tanda kebagusan akhlak, lalu mengatakan: "Orang yang bagus akhlak itu: banyak malu, sedikit menyakiti orang, banyak perbaikan, lidah banyak yang benar, sedikit bicara,banyak kerja, sedikit terperosok, sedikit hal-hal yang tidak perlu, berbuatbaik, penyambung silaturrahim, lemah-lembut, penyabar, banyak berterima kasih (bersyukur), rela kepada apa yang ada, dapat mengendalikan diri ketika marah, kasih-sayang, dapat menjaga diri dan murah hati kepada fakir-miskin. Tidak mengutuk orang, tidak suka memaki, tidak menjadi lalat-merah, tidak mencaci orang, tidak tergesa-gesa dalam pekerjaan, tidak pendengki, tidak kikir, tidak penghasut, manis muka, bagus lidah, mencintai pada jalan Allah, benci kare­na Allah, rela karena Allah dan merah karena Allah". Itulah orang yang bagus akhlak!

(1)  Diriwayatkan Ibnul Mubarak hadits mursal.                        
(2)  Diriwayatkan AthThabrani dari AnNu'man bin Basyir dan AlBazzar dari Ibnu 'Umar isnad dla'if.         
(3)  Diriwayatkan Al-Baihaqi dan hadits ini hadits mursal.
1078


Ditanyakan kepada Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم  tentang tanda orang mu'min dan orang munafik, maka beliau menjawab :-
إن المؤمن همته في الصلاة والصيام والعبادة والمنافق همته في الطعام والشراب كالبهيمة
(Innai-mu'mina himmatuhu fish-shalaati wash-shiaami wal-'ibaadati, wal-mu- naafiqa himmatuhu fith-tha'aami wasy-syaraabi kal-bahiimati). Artinya: "Orang mu'min itu, cita-citanya pada shalat, puasa dan ibadah. Dan orang munafik itu, cita-citanya pada makan dan minum, seperti binatang ternak" (1).


Hatim AI-Ashamm berkata: "Orang mu'min itu sibuk dengan pemikiran dan pemerhatian. Dan orang munafik itu sibuk dengan loba dan angan-angan. Orang mumin itu tidak mengharap pada seseorang, selain pada Allah. Dan orang munafik itu mengharap pada tiap-tiap orang, selain Allah.


Orang mu'min itu, tidak merasa takut pada semua orang, selain pada Allah. Dan orang munafik itu takut pada semua oirang, selain pada Allah.

Orang mu'min itu, memandang ringan hartanya, tidak Agamanya. Dan orang munafik itu memandang ringan agamanya, tidak hartanya.

Orang mu'min itu berbuat baik (berbuat ihsan) dan menangis. Dan orang munafik itu berbuat jahat dan ketawa.

Orang mu'min itu menyukai khilwah dan sendirian. Dan orang munafik itu menyukai bercampur-baur dan orang banyak.

Orang mu'min itu menanam dan takut kepada kerusakan. Dan orang munafik itu, mencabut dan mengha­rap akan panen.

Orang mu'min itu, menyuruh dan melarang untuk siasah, lalu ia memperbaiki. Dan orang munafik itu, menyuruh dan melarang untuk ria sah (menjadi kepala), lalu merusak".

Yang paling utama ujian baiknya akhlak, ialah: sabar atas kesakitan dan tahan atas kekasaran orang. Siapa yang mengadu dari buruknya akhlak orang lain, niscaya yang demikian itu, menunjukkan kepada buruk akhlaknya. Karena baiknya akhlak itu, tahan kesakitan.

Diriwayatkan, bahwa Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم ."pada suatu hari berjalan kaki bersama Anas bin Malik r.a. Lalu bertemu dengan seorang Arab dusun. Maka ditariknya selimut Nabi صلى الله عليه وسلم . dengan keras dan pada diri Nabi صلى الله عليه وسلم . baju Najran (berasal dari negeri Najran Yaman), yang tebal pinggirnya. Anas menerangkan: "Lalu aku melihat leher Ra­sulu'llah صلى الله عليه وسلم ., telah membekas pinggir baju itu, lantaran keras tarikannya". Orang Arab dusun itu berkata-: "Hai Muhammad! Berilah kepadaku harta Allah yang ada padamu!".Lalu Rasulu'llahصلى الله عليه وسلم . menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian, beliau menyuruh memberikannya" (2).

(1). Al-'Iraqi (yang memberi penjelasan tentang hadits-hadits dalam Ihya'), berkata, bahwa hadits ini, tiada ia dapati dimana-mana.
(2). Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Anas r.a.
1079

Sewaktu orang Quraisy banyak menyakiti Nabi صلى الله عليه وسلم . dan memukulinya, beli­au berdo'a:
اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون
(Allaahu'mma'gh-fir liqaumii fa i'nnahum laa ya'lamuun" (1).
Artinya: "Wahai Allah Tuhanku! Ampunilah kaumku, karena mereka tidak tahu",- diri­wayatkan oleh Al-Baihaqi dari Sahl bin Sa'ad.Ada yang mengatakan, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم . mengucapkan ini pada hari perang Uhud.

Karena itulah, Allah Ta'ala menurunkan ayat ini kepada Nabi صلى الله عليه وسلم . :-
وإنك لعلى خلق عظيم
(Wa innaka la'alaa khuluqin 'adhiim).Artinya: "Dan engkau sesungguhnya mempunyai budi-pekerti (akhlak) yang tinggi".- S. Al-Qalam, ayat 4.


Diceriterakan, bahwa Ibrahim bin Adham pada suatu hari, keluar kepadang pasir (padang Sahara). Lalu seorang tentara menjumpainya, seraya berta nya: "Apakah kamu budak?". "Ya!",- jawab Ibrahim bin Adham.

"Dimana bangunan (yang kamu kerjakan)?"  tanya tentara itu.
Lalu Ibrahim bin Adham menunjukkan ke kuburan.
Tentara itu menjawab:"Yang aku maksudkan pembangunan".
Lalu Ibrahim bin Adham menjawab: "Itulah kuburan!"
Maka tentara itu marah yang demikian. Lalu dipukulnya kepala Ibrahim bin Adham dengan cambuk, sehingga berdarah. Dan dibawanya pulang kekampung. Lalu teman-teman Ibrahim menemuinya, seraya mereka jtu bertanya:"Apa kabar?".


Lalu tentara itu menerangkan kepada mereka, apa yang dijawab oleh Ibrahim bin Idham. Lalu teman-teman itu menerangkan: "Ini Ibrahim bin Idham!" Maka tentara itu turun dari kudanya, seraya mencium kedua tangan dan ke­dua kaki Ibrahim bin Idham, meminta ma'af kepadanya. Lalu orang bertanya sesudah itu kepada Ibrahim bin Idham: "Mengapa tuan katakan: "Aku ini budak".


Ibrahim bin Idham menjawab: "Tentara itu tidak bertanya kepadaku: "Bu­dak siapa engkau. Tetapi ia bertanya: "Engkau budak?" Lalu aku menjawab: "Ya, karena aku budak (hamba) Allah. Tatkala ia memukul kepalaku, aku bermohon kepada Allah, agar untuknya sorga".


Lalu orang bertanya: "Bagaimana begitu, sedang ia telah menganiayai tuan?".
Ibrahim bin Idham menjawab: "Aku tahu, bahwa aku mendapat pahala, ter hadap apa yang diperbuatnya pada diriku. Aku tidak menghendaki bahwa nasibku yang kuperoleh daripadanya itu baik, sedang nasibnya yang diperoiehnya daripadaku itu buruk".

(1). Artinya: "Wahai Allah Tuhanku! Ampunilah kaumku, karena mereka tidak tahu",- diri­wayatkan oleh Al-Baihaqi dari Sahl bin Sa'ad.
1080

Abu Usman Al-Hiyari diundang pada suatu undangan. Dan yang mengundang itu ingin mencobanya. Setelah Abu Usman tiba ditempatnya, lalu pe­ngundang itu berkata: "Saya tidak mempunyai maksud apa-apa".Lalu Abu Usman pulang kembali. Setelah ia pergi dan belum begitu jauh, maka diun dangnya kali kedua. Lalu pengundang itu berkata: "Ya tuan guru! Pulanglah!".Lalu Abu Usman pulang. Kemudian diundangnya lagi kali ketiga, se­raya ia berkata: "Pulanglah menurut yang diharuskan oleh waktu".Abu Usman lalu kembali. Sewaktu sampai dipintu, lalu pengundang itu mengatakan seperti perkataannya pertama. Maka Abu Usmanpun kembali.Kemudian datang lagi kali keempat, lalu kembali lagi. Sampai pengundang itu memperlakukan demikian beberapa kali. Dan Abu Usman tidak berobah sikapnya dari yang demikian.

Lalu pengundang itu bertekuk lutut pada dua kaki Abu Usman, seraya berka­ta: "Ya tuan guru! Sesungguhnya aku bermaksud, mencoba tuan. Alangkah bagusnya akhlak tuan!".

Abu Usman menjawab: ,Apa yang engkau lihat daripadaku itu, adalah perangai anjing. Anjing itu sesungguhnya apabila dipanggil, ia datang. Dan apabi­la digertak, ia pergi".

Diriwayatkan pula tentang Abu Usman itu, bahwa pada suatu hari ia melintasi suatu jalan, lalu dicampakkan orang suatu panci abu keatasnya. Lalu Abu Us­man turun dari kendaraannya dan beliau bersujud syukur. Kemudian, beliau membuang abu itu dari kainnya. Dan tiada mengatakan sesuatupun. Lalu orang bertanya kepadanya: "Mengapa tidak tuan bentak mereka itu?" Abu Us­man menjawab: "Orang yang mustahak api, lalu didamaikan dengan abu, ma­ka tidak boleh ia marah".

Diriwayatkan, bahwa Ali bin Musa Ar-Ridla r.a., warnanya condong kepada hitam, karena ibunya hitam. Dan di Naisabur ada sebuah sumur mandi (ham mam) dekat pintu rumahnya. Apabila ia bermaksud masuk hammam itu,lalu penjaga hammam mengosongkannya dari orang lain. Pada suatu hari Ali bin Musa Ar-Ridla masuk kehammam tersebut. Lalu, oleh penjaga hammam itu, menutup pintunya dari luar. Dan penjaga itu pergi ka­rena sesuatu keperluan. Lalu datanglah seorang Rustak (1) kepintu hammam, lalu dibukanya dan ia masuk dan membuka pakaiannya. Lalu ia masuk ke hammam. Maka dilihatnya Ali bin Musa Ar-Ridla. Dan disangkanya salah se­orang pelayan hammam.

(1). Orang Rustak, ialah yang bertempat tinggal dipinggir daerah Naisabur.
1081

Orang Rustak itu berkata kepada Ali bin Musa Ar-Ridla: "Bangun dan bawa- lah air kepadaku!"

Ali bin Musa lalu berdiri dan mematuhi semua yang disuruh oleh orang terse­but. Kemudian penjaga hammam itu kembali dan melihat pakaian orang Rus­tak itu dan mendengar kata-katanya kepada Ali bin Musa Ar-Ridla. Maka ia- pun takut dan melarikan diri, meninggalkan kedua orang itu disitu. Sewaktu Ali bin Musa keluar dari hammam, lalu menanyakan tentang penjaga hammam. Maka orang mengatakan kepadanya, bahwa penjaga itu takut tentang apa yang telah terjadi, lalu ia melarikan diri. Ali bin Musa menjawab: "Tiada seyogianya ia melarikan diri. Sesungguhnya dosa adalah bagi orang yang meletakkan airnya pada budak wanita hitam". (1).

Diriwayatkan bahwa Abu Abdillah Al-Khayyath (penjahit) duduk pada tokonya. Ia mempunyai seorang pekerja mayusi (beragama Zaroaster), yang dipekerjakannya pada menjahit. Apabila orang mayusi itu telah menjahit sesuatu lalu dibawanya kepada Abu Abdillah beberapa uang dirham buruk. Abu Abdillah mengambil uang itu dari orang mayusi tersebut. Dan tidak diberitahukannya yang demikian dan tidak dikembalikannya kepadanya. Pada suatu hari kebetulan terjadi, bahwa Abu Abdillah pergi untuk suatu ke­perluan. Maka datanglah orang mayusi itu. Ketika tidak didapatinya Abu Ab­dillah disitu, lalu diserahkannya ongkos menjahit itu kepada murid Abu Ab­dillah. Dan ia minta kembali pakaian yang telah dijahitnya. Dan itu adalah dirham buruk.

Tatkala murid tadi melihat wang tersebut, lalu diketahuinya, bahwa itu uang buruk. Maka dikembalikannya kepada orang majusi itu. Setelah kembali Abu Abdillah, lalu murid itu menceriterakannya yang demi­kian.

Maka Abu Abdillah menjawab: "Tidak baik yang engkau perbuat itu. Orang mayusi ini memperlakukan aku dengan perlakuan demikian, sejak setahun yang lalu. Aku sabar dan aku ambil dirham itu daripadanya. Aku lemparkan dalam sumur, supaya tidak tertipu dengan dirham itu, orang Islam".


Abu Yusuf bin Asbath berkata: "Tanda kebagusan akhlak itu sepuluh perka ra: sedikit perselisihan, baik keinsyafan, meninggalkan mencari kesalahan, memandang baik apa yang nyata dari kejahatan, meminta ma'af, menanggung kesakitan, kembali mencaci diri sendiri, sendirian dengan mengetahui keku­rangan diri sendiri, tidak kekurangan orang lain, jernih muka untuk orang kecil dan orang besar dan lemah-lembut perkataan, terhadap orang yang dibawahnya dan orang yang diatasnya.


Ditanyakan Sahl tentang kebagusan akhlak, lalu ia menjawab: "Sekurang-kurangnya menanggung kesakitan, meninggalkan meminta pembalasan, meminta rahmat kepada orang zalim, meminta ampun dosa orang zalim itu, dan kasih sayang kepadanya".

Ditanyakan kepada Ahnaf bin Qais: "Dari siapakah anda belajar sifat lemah lembut?".

Ahnaf bin Qais menjawab: "Dari Qais bin 'Ashim". Lalu ditanyakan lagi: "Sampai dimana kelemah-lembutannya itu?". Ahnaf bin Qais menjawab: "Pada waktu ia sedang duduk dirumahnya, lalu datanglah budak wanitanya membawa besi tempat pembakar daging, yang berisi daging bakar. Lalu jatuhlah besi itu dari tangannya Dan terjatuh atas puteranya yang masih kecil. Lalu meninggal. Lalu budak wani- ta itu gugup. Maka ia berkata kepada budaknya: "Engkau tak usah gugup. Engkau merdeka karena Allah Ta'ala".

(1). Maksudnya, ayahnya sendiri yang memperanakkandia dariihunya seorang budak wanita hitam (Periyalin).
1082

Ada yang mengatakan, bahwa Uais Al-Qarany, apabila dilihat oleh anak- anak, ialu dilemparinya dengan batu. Ia berkata kepada anak-anak itu: "Hai saudaraku! Jikalau tak boleh tidak demikian, maka iemparilah aku dengan batu-batu kecil, sehingga- kamu tidak membuat betisku berdarah. Lalu kamu mencegah aku dari pada shalat!".


Seorang Iaki-Iaki rnernaki Ahnaf bin Qais. Dan Al-Ahnaf tidak menjawabnya. Ia mengikuti laki-laki itu. Dan sewaktu telah dekat de­ngan kampung, ialu Ahnaf berhenti, seraya berkata: "Kalau masih ada pada dirimu sesuatu, maka katakanlah! Supaya tidak didengar nanti oleh sebagian orang-orang bodoh kampung ini. Nanti disakitinya engkau". Diriwayatkan, bahwa Ali r.a. memanggil seorang budak pria. Budak itu tidak menyahut ,lalu dipanggilnya?. kali kedua dan ketiga. Tidak juga menyahut. Lalu Ali pergi kepadanya, maka dilihatnya budak itu sedang ber baring. Lalu ia bertanya: "Apakah tidak engkau dengar, wahai budak?". Budak itu menjawab: "Ada!".

Lalu Ali bertanya: "Apakah yang mendorong engkau, untuk. tidak me­nyahut panggilanku?".
Budak itu menjawab: "Aku merasa aman daripada siksaanmu, lalu aku bermalas-malas".
Maka Ali menyambung: "Kalau begitu, pergilah! Engkau merdeka kare­na Allah Ta'ala".
Seorang wanita berkata kepada Malik bin Dinar r.a.: "Hai orang yang ria!".
Malik bin Dinar menjawab: "Hai wanita ini! Engkau dapati namaku yang dipandang sesat oleh penduduk kota Basrah".

Yahya bin Ziyad Al-Harisi mempunyai seorang budak jahat. Lalu orang bertanya kepadanya: "Mengapa engkau pegang (tidak engkau lepaskan) budak itu?".
Yahya menjawab: "Untuk aku pelajari lemah-lembut padanya". Maka inilah jiwa-jiwa yang telah dihinakan dengan latihan, lalu lurus akhlaknya dan bersih bathinnya dari pada tipuan, kungkungan dan deng- ki, Maka membuahkan ridla dengan semua yang ditakdirkan oleh Allah Ta'ala.


Itulah kebagusan akhlak tingkat kesudahan! Orang yang tidak menyukai dan tidak rela dengan perbuatan Allah Ta'ala, adalah orang yang paling buruk akhlaknya. Mereka itu telah menampak tanda-tanda pada zahiri- yahnya, sebagaimana telah kami sebutkan dahulu. Orang-orang yang tidak menjumpai tanda-tanda tersebut pada dirinya, maka tiada seyogiyanya tertipu dengan dirinya. Lalu menyangka bagus

1083


Akhlaknya. Tetapi seyogiyalah menggunakan waktu dengan latihan (riya- dlah) dan bersungguh-sungguh (mujahadah), sehingga ia sampai kepada derajat kebagusan akhlak. Itulah darajat tinggi, yang tidak dicapai, selain oleh orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah (orang-orang mu qarrabun) dan orang-orang siddik (yang membenarkan Allah).


PENJELASAN: jalan melatih anak-anak pada permulaan lahirnya, cara menyopankan dan membaguskan akhlaknya.

Ketahuilah, bahwa jalan pada melatih anak-anak itu, termasuk urusan yang sangat penting dan sangat kuat perlunya. Anak kecil adalah ama- nah pada ibu-bapanya. Hatinya yang suci adalah mutiara yang amat ber- harga, halus, kosong dari semua ukiran dan gambaran. Ia menerima un­tuk semua yang diukirkan. Dan condong kepada semua yang dicondong- kan kepadanya. Kalau anak itu membiasakan kebaikan dan mengetahui kebaikan, niscaya ia tumbuh diatas kebaikan. Ia berbahagia didunia dan diakhirat. Ibu bapanya, semua guru dan pendidiknya, sama-sama berkongsi pada pahala anak itu.

Kalau ia membiasakan kejahatan dan ia disia-siakan seperti disia-siakan binatang ternak, niscaya anak itu celaka dan binasa. Dan dosa itu adalah pada leher orang yang mengurus dan walinya. Allah 'Azza wa Jalla ber- firman:
وجل يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا
(Ya ayyuhal-ladziina aamanuu, quu anfusakum wa ahliikum naaraa). Artinya: Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan kaum keluargamu dari api neraka!" S. At-Tahrim ayat 6. Bagaimanapun bapak itu memelihara anaknya dari neraka dunia maka lebih utama lagi memeliharanya dari neraka akhirat. Pemeliharaannya, ialah mendidik, mencerdaskan dan mengajarinya budi- pekerti yang baik. Menjaganya dari teman-teman jahat. Tidak dibiasakan dengan kesenangan, tidak disukakannya dengan perhiasan dan sebab-se­bab kemewahan. Lalu ia menyia-nyiakan umurnya mencari kemewahan, apabila ia sudah besar. Maka binasalah ia untuk selama-lamanya. Tetapi selayaknyalah ia diawasi dari sejak permulaan. Tidak dipakai untuk menjaga dan menyusuinya, selain wanita shalih, beragama, makan yang halal. Karena susu yang berhasilnya dari yang haram, tak ada barakah padanya. Apabila pertumbuhan anak itu terjadi dari susu yang demikian, niscaya melekatlah kejadiannya dari yang keji. Lalu tabiatnya condong kepada yang bersesuaian dengan yang keji-keji itu.


Manakala telah kelihatan fantasinya dapat membeda-bedakan sesuatu,

1084

Manakala telah kelihatan fantasinya dapat membedabedakan sesuatu,maka selayaknyalah diperbagus pengawasannya. Permulaan yang demikian, ialah timbulnya permulaan sifat malu. Apabila ia marah, malu dan meninggalkan sebagian pekerjaan, maka yang demikian itu adalah karena bersinarnya cahaya akal. Sehingga ia melihat sebagian keadaan itu keji dan menyalahi dengan sebagian yang lain. Lalu ia malu dari sesuatu dan tidak malu dari yang lain. Ini adalah pemberian Allah Ta'ala kepada anak itu! Dan suatu kegembiraan yang menunjukkan kepada kelurusan akhlak dan kebersihan hati. Ia digembirakan dengan kesempurnaan akal ketika dewasa.

Maka anak kecil yang pemalu, tidaklah selayaknyanya disia-siakan. Akan te­tapi ditolong kepada mendidiknya dengan malu dan tamyiznya (1).


Sifat pertama yang menonjol pada anak-anak itu, ialah: rakus kepada makanan. Maka selayaknyalah ia dididik tentang makanan ini, umpamanya: bahwa anak itu tidak mengambil makanan, selain dengan tangan kanannya.

Bahwa ia membaca "Bismi'llah" ketika mengambilnya.
Bahwa ia makan makanan yang dekat dengan dia.
Bahwa ia tidak tergesa-gesa ke­pada suatu makanan sebelum orang lain.
Bahwa ia tidak menitikkan perhatian kepada sesuatu makanan dan kepada orang yang memakannya. Bahwa ia tidak makan cepat-cepat.
Bahwa ia mengunyah makanan de­ngan baik dan tidak ber-turut-turut suapan. Tidak mengotorkan tangan dan pakaiannya dengan makanan.
Bahwa ia membiasakan roti kering pada sebagian waktu. Sehingga ia tidak menjadi orang yang memandang harus adanya lauk-pauk.
Bahwa ia memandang jelek banyaknya makan dengan diserupakannya tiap-tiap orang, yang banyak makan itu, dengan binatang-ternak. Dan dengan dicelanya anak-anak dihadapannya yang banyak makan dan dipujinya anak-anak yang sopan, yang sedikit makan.

Bahwa disukakan kepadanya mengutamakan makanan itu untuk orang lain dan kurang memperhatikan kepada makanan itu. Dan merasa cukup dengan makanan kasar, makanan apa saja yang ada. Dan disukakan ke­padanya pakaian putih, tidak berwarna dan sutera. Ditetapkan padanya, bahwa yang demikian itu adalah keadaan wanita dan orang-orang yang menyerupakan dirinya dengan wanita. Bahwa orang laki-laki itu, mencegah dirinya dari-pada yang demikian. Dan diulang-ulanginya yang demi­kian kepada anak itu.


Manakala terlihat pada seorang anak kecil, pakaian dari sutera atau ber­warna, maka selayaknyalah ditantang dan dicela. Anak kecil itu dijaga dari­pada bergaul dengan anak-anak kecil yang membiasakan dirinya berse­nang-senang, bermewah-mewah dan memakai pakaian yang membanggakan. Dan dijaga dari-pada bergaul dengan tiap-tiap orang, yang memperdengarkan apa yang digemarinya. Karena anak-anak itu apabila disia-siakan pada permulaan pertumbuhannya, niscaya menurut

(1). tamyiz, ialah: anak itu sudah dapat membedakan antara baik dan buruk, antara manfa'- at dan sia-sia dan sebagainya. (pent.).
1085

yang kebanyakan, anak itu keluar dengan buruk akhlak, pendusta, pen- dengki, pcncuri, Ialat merah, suka meminta-minta, banyak perkataan sia- sia, suka tertawa, menipu dan banyak senda-gurau. Sesungguhnya yang demikian itu, dapat dijaga dengan baiknya pendidik­an.Kemudian disibukkan dia dimadrasah.

Maka ia mempelajari Al-Qur'an, hadist-hadist yang mengandung ceritera- ceritera, riwayat dan hal-ihwal orang baik-baik. Supaya tertanam dalam jiwanya kecintaan kepada orang-orang shalih.

Anak-anak itu dijaga daripada membaca syair-syair (pantun-pantun), yang didalamnya disebutkan asyik-wal-ma'syuk (urusan sex) dan orang-orangnya. Dan dijaga dari-pada bergaul dengan orang-orang sastrawan, yang mendakwakan bahwa yang demikian itu, termasuk perbuatan senda- gurau dan kehalusan tabiat. Sesungguhnya yang demikian itu, akan menanamkan bibit kerusakan dalam hati anak-anak.

Kemudian, manakala telah Iahir kelakuan baik dan perbuatan terpuji pa­da seorang anak, maka selayaknyalah dimuliakan dan diberi ganjaran, de­ngan yang menggembirakannya. Dan dipuji dimuka orang banyak. Kalau pada sebagian keadaan, pada suatu kali anak itu menyalahi yang demikian, maka selayaknyalah tidak diperhatikan (seolah-olah tidak diketahui). Tidak dirusakkan tutupnya dan tidak dibuka-bukakan. Dan tidak tampak bagi anak itu, bahwa tergambar baginya, ada seseorang yang berani melakukan seperti itu. Lebih-lebih apabila anak itu sendiri menutupinya dan bersungguh-sungguh menyembunyikan. Karena melahirkan yang demikian itu kepadanya, kadang-kadang membawa anak itu kepada keras kepala. Sehingga tidak perduli lagi dengan terbukanya keadaan itu. Maka ketika demikian, kalau diulanginya kali kedua, niscaya selayaknyalah dicela secara berbisik dan dibesar-besarkan hal itu. Dan dikatakan kepa­danya: "Awas, bahwa engkau ulangi lagi sesudah itu yang seperti ini! Dan bahwa dilihat orang kepada engkau, tentang hal yang seperti ini. Lalu tersiarlah keburukanmu diantara orang banyak". Janganlah engkau membanyakkan perkataan terhadap anak itu dengan celaan^ pada setiap waktu. Karena yang demikian itu, memudahkan baginya mendengar cacian dan perbuatan yang keji-keji. Dan hilanglah pengaruh perkataan itu pada hatinya.


Hendaklah orang tua itu, menjaga pengaruh perkataannya dengan anak. Tidak mengejek anaknya, kecuali sewaktu-waktu. Ibu mempertakutkan anaknya kepada bapak dan menggertakannya dari-pada perbuatan keji. Selayaknyalah anak itu dilarang tidur siang hari, karena membawa kepada kemalasan. (1).

Dan tidak dilarang tidur pada malam hari. Akan tetapi dilarang pada



(1). Terserah kepada pembaca menanggapinya secara positif. (Peny.) 1086

tempat tidur yang empuk. Sehingga keraslah anggota tubuhnya dan tidak gemuk badannya. Maka ia tidak sabar kalau tidak ada kesenangan. Akan tetapi ia membiasakan dengan tempat tidur, pakaian dan makanan kasar. Selayaknyalah dilarang, dari setiap perbuatan yang diperbuatnya dengan sem- bunyi-sembunyi. Sesungguhnya tidak disembunyikannya suatu perbuatan, kecuali diyakininya bahwa perbuatan itu keji. Maka apabila telah dibia- sakannya demikian, niscaya ia akan meninggalkan perbuatan keji. Anak itu dibiasakan pada sebagian waktu disiang hari, dengan jalan-jalan, gerak badan dan olah raga. Sehingga ia tidak menjadi malas. Dan dibiasakan, bahwa tidak terbuka anggota badannya dimuka orang dan ti­dak berjalan cepat, tidak men jatuhkan kedua tangannya kebawah, tatapi diletakkannya kedua tangan itu pada dada.


Dilarang menyombongkan diri dengan teman-temannya, disebabkan sesuatu yang dimiliki oleh ibu-bapanya atau disebabkan sesuatu dari makanannya dan pakaiannya atau batu tulis dan tintanya. Akan tetapi dibiasa­kan merendah-diri dan memuliakan setiap orang yang bergaul dengan dia. Dan berkata lemah-lembut dengan mereka.


Dilarang anak-anak itu mengambil dari anak-anak lain, sesuatu yang kelihatannya berharga, kalau ia termasuk anak orang-orang besar. Akan tetapi diberitahukan, bahwa ketinggian darajat seorang adalah pada memberi, tidak pada mengambil. Mengambil itu tercela, keji dan hina. Kalau ia termasuk anak orang-orang miskin, maka diberi-tahukan, bahwa loba dan mengambil hak orang adalah hina dan rendah. Dan itu terma­suk tabiat anjing. Anjing itu menggerak-gerakkan ekornya, menunggu danLmengharap sesuap makanan.


Kesimpulannya, dinyatakan keji kepada anak-anak, akan cinta kepada emas dan perak dan kepada kelobaan memperoleh keduanya. Dan lebih banyak diperingati dari emas dan perak itu, dibandingkan daripada diperingati dari hai ular dan kala-jengking. Karena bahaya mencintai emas dan perak dan loba untuk memperolehnya itu, lebih besar dari-pada ba­haya racun kepada anak-anak, bahkan juga terhadap orang-orang besar. Selayaknyalah anak itu dibiasakan, bahwa ia tidak meludah pada tempat du- duknya. Tidak membuang hingus dan menguap dihadapan orang lain. Dan tidak membelakangi orang lain. Tidak meletakkan kakinya yang se- belah diatas kakinya yang sebeiah lagi. Tidak meletakkan tapak tangan­nya dibawah dagunya. Dan tidak raenegakkan kepalanya dengan lengan- nya. Karena yang demikian itu menunjukkan kemalasan. Dan diajarkan cara duduk dan dilarang banyak berbicara. Diterangkan kepadanya, bahwa yang demikian itu menunjukkan kepada kurang malu. Dan itu adalah anak-anak tercela. Dan anak itu dilarang bersumpah mut- lak, baik ia benar atau bohong. Sehingga ia tiada terbiasa yang demiki­an, pada waktu kecil.


Dilarang ia memulai berbicara. Dan dibiasakan bahwa ia tidak berbicara;

1087

Dilarang ia memulai berbicara. Dan dibiasakan bahwa ia tidak berbicara;Dilarang ia memulai berbicara. Dan dibiasakan bahwa ia tidak berbicara;selain menjawab pembicaraan orang lain dan sekedar pertanyaan. Dan bahwa ia mendengar perkataan orang lain baik-baik, manakala orang itu berbicara, orang yang lebih tua dari padanya. Dan bahwa ia berdiri un­tuk orang yang diatasnya. Dan bahwa ia meluaskan tempat duduk untuk- nya. Dan duduk dihadapannya.


Dilarang anak-anak itu dari perkataan yang sia-sia, yang keji, dari mengutuk, memaki dan bergaul dengan orang yang lidahnya selalu berbuat demikian. Karena tidak dapat dibantah, bahwa yang demikian itu akan menjalar dari teman-teman jahat.

Dan pokok pendidikan anak-anak, ialah menjaga dari teman-teman jahat.

Selayaknyalah, apabila anak itu dipukul oleh guru, bahwa tidak membanyakkan memekik-mekik dan berteriak-teriak. Dan tidak meminta tolong pa­da seseorang. Akan tetapi bersabar dan menyebutkan kepada anak itu, bahwa yang demikian adalah kebiasaan orang-orang berani dan laki-laki. Dan membanyakkan memekik-mekik itu kebiasaan budak dan wanita. Selayaknyalah, sesudah keluar dari sekolah, anak-anak itu diizinkan berma- in-main yang baik. Ia beristirahat dari kepayahan sekolah, dimana ia ti­dak merasa payah dalam permainan. Sesungguhnya melarang anak-anak daripada bermain dan selalu memaksakannya belajar, akan mematikan hatinya, merusakkan kecerdikannya dan mengeruhkan hidupnya. Sehing­ga ia akan mencari daya upaya untuk melepaskan diri dari-padanya. Selayaknyalah, anak itu diajar mentaati ibu-bapanya, gurunya, pendidiknya dan setiap orang yang lebih tua dari-padanya. ahli kerabatnya dan orang asing. Bahwa ia memandang orang-orang itu dengan pandangan kemulia- an dan penghormatan. Dan ia tidak bermain-main dihadapan mereka. Manakala anak itu telah sampai usia tamyiz, maka selayaknyalah tidak diperbolehkan meninggalkan bersuci dan shalat. Disuruh ia berpuasa pa­da beberapa hari bulan Ramadlan. Dijauhkan ia memakai kain yang berisikan sutera (ad-dii-baj), sutera dan emas. Diajarkan ia setiap yang di- perlukan dari batas-batas agama. Ditakutkannya dari-pada mencuri, makan haram, berkhianat, berdusta, berbuat keji dan setiap perbuatan yang biasa dilakukan oleh anak-anak.


Apabila telah terjadi pertumbuhan anak-anak itu demikian pada masa kanak-kanak, maka sewaktu telah mendekati dewasa, niscaya mungkin ia diperkenalkan rahasia segala hal tersebut. Lalu disebutkan kepadanya, bahwa makanan itu obat. Sesungguhnya yang dimaksud dari obat itu, ia­lah lintuk menguatkan manusia ta'at kepada Allah Azza wa Jalla. Dan dunia seluruhnya tidak mempunyai pokok, sebab tidak kekal. Kematian akan memutuskan kenikmatan dunia. Dan dunia itu negeri lintasan, bu- kan negeri ketetapan. Dan akhirat itu negeri ketetapan, bukan negeri lintasan. Kematian itu menunggu pada setiap sa'at. Orang pandai bera- .kal, ialah orang yang mencari bekal dari dunia untuk akhirat. Sehingga tinggilah darajatnya pada sisi Allah Ta'ala dan luaslah kenikmatannya dalam sorga.

1088


Apabila pertumbuhan anak itu baik, maka kata-kata diatas tadi, ketika ia dewasa, adalah berpengaruh, membekas dan menyembuhkan, yang tetap dalam hatinya, sebagaimana tetapnya ukiran pada batu. Jikalau pertumbuhan anak itu sebaliknya, sehingga anak itu menyukai main-main, perbuatan keji, kurang malu, rakus kepada makanan dan pa­kaian, suka berhias dan menyombong, niscaya hatinya jauh dari-pada menerima kebenaran, sebagaimana jauhnya dinding tembok dari tanah kering.


Maka pekerjaan yang pertama-tama, ialah yang seharusnya dijaga. Se­sungguhnya anak itu dengan zat kejadiannya, dijadikan, yang dapat me-, nerima yang baik dan yang jahat.


Ibu-bapanyalah yang membawa anak itu, condong kepada salah satu dua segi. Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:كل مولود يولد على الفطرة وإنما أبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه(Kullu-mauluudin yuuladu 'alail-fithrati. Wa innamaa abawaahu yuhaw - widaanihi au yunash-shiraanihi au yumajjisaanihi). Artinya: "Semua anak itu dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah). Ibubapanyalah yang meyahudikannya atau menasranikannya atau memajusikannya". (1).


Sahl bin Abdullah At-Tusturi berkata: "Adalah aku sewaktu berumur tiga tahun, aku itu bangun malam. Lalu aku melihat shalat pamanku Mu­hammad bin Suwar. Pada suatu hari, ia berkata kepadaku: "Tidakkah engkau mengingati Allah yang menjadikan engkau?". Lalu aku bertanya: "Bagaimana aku mengingati-NYA?". Pamanku men­jawab: "Katakanlah dengan hatimu, ketika kamu berbalik-balik dalam pakaianmu, tiga kali, tanpa kamu menggerakkan lidahmu:

الله معي الله ناظر إلي الله شاهدي

(Allaahu ma'ii, Allaahu naadhirun ilayya, Allaahu syaahidii". (2).

Lalu aku bacakan yang demikian beberapa malam. Kemudian aku beritahukan kepada pamanku. Lalu ia menjawab: "Bacalah pada tiap-tiap ma­lam tujuh kali!". Lalu aku lakukan yang demikian. Kemudian aku beritahukan kepada pamanku. Maka ia menjawab: "Bacalah yang demikian se­tiap malam sebelas kali!". Lalu aku lakukan yang demikian.

(1). Hadits ini diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah r.a.
(2). Artinya: "Allah bersamaku, Allah memandang kepadaku, Allah menyaksikan aku".
1089


Maka terjadilah dalam hatiku kemanisannya. Sesudah setahun kemudian, pamanku berkata kepadaku: "Jagalah apa yang aku ajarkan kepadamu! Dan terus- meneruslah yang demikian, sampai engkau masuk kubur! Karena bermanfa'at kepadamu didunia dan diakhirat". Maka selalulah aku lakukan yang demikian bertahun-tahun. Karena itu, aku memperoleh manisnya pada batinku.


Kemudian, pada suatu hari pamanku berkata kepadaku: "Hai Sahl! Ba- rang siapa ada Allah bersamanya, Allah memandang kepadanya dan menyaksikannya, adakah ia berbuat maksiat kepadaNya? Awaslah dari-pada perbuatan maksiat!".


Lalu aku menyendiri (berkhilwah). Maka mereka kirim aku kesekolah. Lalu aku jawab: "Aku takut bercerai dengan cita-citaku". Tetapi rupanya, mereka membuat syarat dengan guru, bahwa aku pergi pada guru hanya satu jam, lalu belajar. Kemudian aku pulang. Maka pergilah aku kesekolah, lalu mempelajari Al-Qur'an dan menghafalnya. Umurku ketika itu enam atau tujuh tahun. Aku berpuasa sepanjang ma­sa. Makananku dari roti tepung syair (1) sampai aku berusia dua belas tahun. Lalu timbullah suatu persoalan bagiku dan umurku sudah tiga be­las tahun. Lalu aku meminta kepada keluargaku, supaya aku dikirim ke Basrah, untuk bertanya di Basrah. Aku datang di Basrah, lalu aku berta nya pada ulama-ulamanya. Maka tiada seorangpun yang dapat memuaskan sesuatu daripada dahagaku. Lalu aku pergi ke Abadan, kepada seo­rang laki-laki yang bernama: Abi Habib Hamzah bin Abi Abdillah Al- Abbadany. Aku bertanya kepadanya tentang persoalan itu. Lalu ia mem­beri jawapan kepadaku. Maka aku tinggal padanya beberapa waktu. Aku mengambil manfaat dengan kata-katanya. Dan aku mendapat pendi­dikan dengan adab-kesopanannya. Kemudian, aku kembali ke Tustur. Lalu aku buat makananku secara sederhana. iaitu: dibelikan untukku sesukat biji syair dengan harganya satu dirham. Ditumbuk dan dibuat ra­ti bagiku. Pada waktu sahur tiap-tiap malam aku makan satu ugiyah (2) saja, tanpa garam dan lauk-pauk. Maka tepung syair harga sedirham itu mencukupi bagiku untuk setahun.


Kemudian, aku berazam menahan lapar tiga malam. Kemudian aku berbuka pada suatu malam. Kemudian, aku tahan lima malam, kemudian tujuh, kemudian dua-puluh lima malam.


Aku berada demikian selama duapuluh tahun. Kemudian, aku pergi me- ngembara dibumi bertahun-tahun. Kemudian, aku kembali ke Tustur. Aku bangun malam seluruhnya. Masya Allah Ta'ala. Anmad berkata: "Aku tiada melihat dia makan garam, sampai ia meninggal, menjumpai Allah Ta'ala".


(1). Syair, semacam beras, tetapi lebih kecil.
(2). satu ugiyah, yaitu seperdua belas hati.
1090



PENJELASAN: Syarat-syarat kemauan, mukaddimah mujahadah dan berangsur-ansurnya seorang murid menjalani jalan latih­an.



Ketahuilah, bahwa barang siapa menyaksikan akhirat dengan hatinya de­ngan penyaksian keyakinan, niscaya dengan mudah ia ber,kemauan usaha akhirat, rindu kepada akhirat, menempuh jalan-jalan akhirat, memandang hina kepada kenikmatan dan kelazatan dunia. Karena orang yang ada padanya manik-manik, lalu melihat mutiara yang berharga, nis­caya tidak lagi ia mempunyai keinginan pada manik-manik itu. Dan kuatlah kemauannya menjual manik-manik tersebut untuk membeli muti­ara.


Orang yang tidak berkehendak kepada usaha akhirat dan tidak mencari untuk bertemu dengan Allah Ta'ala, adalah karena ketiadaan imannya kepada Allah dan hari akhirat.Aku tidak bermaksud dengan: iman itu, bisikan jiwa dan gerakan lidah dengan dua kalimah Syahadah, tanpa dibenarkan dengan hati dan keikhlasan. Sesungguhnya yang demikian itu, menyerupai dengan perkataan orang yang membenarkan, bahwa mutiara itu lebih baik dari manik-manik. Karena ia tidak lah mutiara itu, selain kata-katanya saja. Adapun hakikat mutiara yang sebenarnya, ia tidak tahu.

Orang yang membenarkan sesuatu seperti ini, apabila ia menyukai manik-manik, kadang-kadang tidak akan ditinggalkannya lagi. Dan tidak be­sar keinginannya kepada mutiara.

Jadi, yang mencegah dari pada sampai ialah: tiada dijalani. Yang mencegah dari pada dijalani, ialah tiada kemauan. Yang mencegah dari-pada kemauan, ialah: tiada iman. Dan sebab tiada iman, ialah tiada orang-o­rang yang memberi petunjuk, tiada orang-orang yang memperingati dan tiada ulama-ulama Allah yang menunjukkan kepada jalanNya, yang memperingati atas kehinaan dan kehancuran dunia. Dan besarnya serta kekalnya urusan akhirat.


Manusia itu lalai, terjerumus dalam nafsu syahwat. Dan terbenam dalam laut ketidurannya. Dan tak ada pada ulama agama, orang yang memperi­ngati mereka. Kalau ada daripada mereka yang terbangun, niscaya ia lemah dari-pada menjalani jalan itu, karena kebodohannya. Kalau ia mencari jalan pada ulama-ulama, niscaya didapatinya mereka condong kepada hawa nafsu, berpaling daripada jalan yang lurus. Lalu, jadilah lemahnya kemauan, bodohnya tentang jalan dan pembicaraannya ulama-ulama dengan hawa nafsu itu, menjadi sebab sepinya jalan Allah Ta'ala dari orang-orang yang ber jalan padanya.

Manakala yang dicari itu tertutup, dalil penunjuk tidak ada, hawa nafsu yang menang dan yang mencari itu lalai, niscaya sudah pasti terhalanglah sampai kepada Allah Ta'ala dan tertutuplah semua jalan.

1091

Manakala yang dicari itu tertutup, dalil penunjuk tidak ada, hawa nafsu yang menang dan yang mencari itu lalai, niscaya sudah pasti terhalanglah sampai kepada Allah Ta'ala dan tertutuplah semua jalan.

Kalau orang itu terbangun dari dirinya sendiri atau dibangun oleh orang lain dan tergerak kemauannya pada usaha dan perniagaan akhirat, maka selayaknyalah diketahuinya bahwa ada syarat-syarat yang harus dikemuka- kannya pada permulaan kemauan itu. Baginya pegangan yang harus dipegangnya dan baginya benteng yang harus dibentenginya. Supaya ia aman dari musuh-musuh yang memotong jalannya. Ada beberapa tugas yang harus diperhatikannya pada waktu menjalani jalan itu. Syarat-syarat yang harus didahulukannya pada kemauan, ialah membuang tutup dan hi jab, yang ada diantara dia dan kebenaran. Sesungguhnya tidak tercapainya kebenaran bagi makhluk, sebabnya ialah bertindis-lapisnya hijab dan adanya tutup pada jalan.


AllahTa'alaberfirman:

Artinya: 'Dan kami adakan tutup dihadapan dan dibelakang mereka, la­lu mereka kami tutup, sebab itu, mereka tiada menampak". (surat Ya- Sin, ayat 9).Tutup diantara murid dan kebenaran, ada empat, yaitu: harta, kemegah­an, taklid dan maksiat.

Hijab harta baru terbuang, dengan keluarnya dari harta miliknya, sehing­ga tiada tinggal baginya selain sekedar yang perlu. Selama masih ada sa^ tu dirham yang terpaling hatinya kepada dirham itu, maka dia terikat dan terhijab dari pada Allah Azza wa Jalla.
Hijab kemegahan baru terbuang, dengan menjauhkan diri dari tempat kemegahan, dengan merendahkan diri, mengutamakan menyembunyikan diri dari orang banyak, melarikan diri dari pada sebab-sebab disebut orang dan melakukan perbuatan-perbuatan yang melarikan hati manusia dari padanya.
Hijab taklid baru terbuang, dengan meninggalkan fanatik (ta'assub) kepa­da mazhab-mazhab. Membenarkan pengertian ucapannya:

(Laa ilaaha illa'llaah, Muhammadur-rasuulu'llaah) (1) dengan pembenaran keimanan. Dan diusahakan pengokohan pembenarannya de­ngan menghilangkan setiap yang disembah, selain Allah Ta'ala. Yang paling besar disembah oleh manusia, ialah: hawa nafsu. Sehingga apabila diperbuatnya demikian, niscaya terbukalah baginya hakekat kea­daan, tentang pengertian kepercayaannya yang diperolelmya secara

1) Artinya: 'Tiada yang disembah, selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah."
1092

taklid. Maka selayaknyalah dicarinya pembukaan yang demikian itu dari mu­jahadah (bersungguh-sungguh dengan amalan). Tidak dari pertengkaran lidah (mujadalah dengan lisan).

Kalau dimenangi oleh kefanatikan bagi aqidahnya dan tidak tinggal lagi pada jiwanya tempat yang lapang untuk yang lain, maka yang demikian itu, menjadi ikatan dan hijab baginya. Karena tidaklah sekali-kali menjadi syarat bagi seorang murid,menyandarkan diri kepada mazhab (aliran) tertentu.

Adapun maksiat adalah hijab dan tak ada yang membuangnya, selain taubat, keluar dari segala perbuatan zalim, meneguhkan cita-cita kepada ti­dak akan kembali lagi kepada perbuatan maksiat, menyatakan penyesalan terhadap apa yang telah lalu, mengembalikan harta-harta yang zalim kepada pemiliknya dan meminta kerelaan musuh. Orang yang tidak membetulkan taubatnya dan tidak meninggalkan per­buatan maksiat dhahiryah dan ia bermaksud mengetahui rahasia agama dengan mukasyafah (terbuka hijab), adalah seperti orang yang bermak­sud mengetahui rahasia Al-Qur'an dan tafsirnya dan ia sesudah itu tiada mempelajari bahasa Arab. Karena yang pertama-tama haruslah mendahulukan terjamah (penyalinan) bahasa Arab Al-Qur'an. Kemudian, meningkat kepada rahasia pengertiannya.

Maka begitu pula, haruslah pada pertama-tamanya dan pada penghabisannya, pembetulan hukum syariat yang dhahiryah. Kemudian, meningkat kepada yang mendalam dan rahasia-rahasianya.

Apabila telah didahulukan empat syarat ini dan melepaskan diri dari harta dan kemegahan, niscaya ia adalah seperti orang yang bersuci, berwudlu' dan membuang hadats. Dan jadilah ia patut untuk shalat. Lalu ia memerlukan kepada imam yang akan diikutinya.

Maka demikian pula seorang murid, memerlukan kepada seorang syaikh (guru) dan ustaz, yang sudah pasti untuk diikutinya, untuk menunjuk- kannya kepada jalan yang benar. Sesungguhnya jalan agama itu sulit dan jalan setan itu banyak dan terang. Orang yang tiada mempunyai guru yang akan menunjukkannya, niscaya sudah pasti akan dibawa oleh setan kepada jalannya.

Orang yang menjalani jalan-jalan desa yang membinasakan, tanpa penunjuk jalan, sesungguhnya membahayakan dirinya sendiri dan membina- sakannya. Dan adalah orang-yang berdiri sendiri itu seperti pohon kayu yang tumbuh sendiri. Pohon itu akan kering dalam waktu dekat. Dan ka- laupun hidup beberapa waktu dan berdaun, niscaya tidak akan berbuah; Yang menjadi pegangan bagi seorang murid, sesudah mendahulukan syarat-syarat tersebut, ialah: gurunya. Maka hendaklah ia berpegang kepada gurunya, sebagai seorang buta berpegang kepada penuntun ditepi sungai, dimana ia menyerahkan seluruh urusannya kepada penuntun tersebut. Ia tidak akan menyalahinya pada datang dan pergi. Tiada suatupun yang tiada diikutinya dan tiada yang tinggal. Dan hendaklah diketahuinya, bah­wa manfa'atnya pada kesalahan gurunya, kalau guru itu bersalah, adalah lebih banyak dari manfa'atnya pada betul dirinya sendiri, jikalau ia betul.

1093

Apabila murid itu memperoleh orang yang menjadi pegangannya seperti diatas tadi, niscaya haruslah atas orang yang menjadi pegangan itu, menjaga dan memelihara murid tersebut, dengan benteng yang kokoh. Dito- laknya perampok-perampok jalan dengan benteng itu. Yaitu empat perkara: khilwah (menyendiri), diam, lapar dan tidak tidur malam. Inilah benteng dari perampok-perampok jalan. Maksud murid itu, ialah memperbaiki hatinya, supaya ia dapat ber-musyahadah dengan Tuhannya dan patut untuk mendekatiNYA.

Adapun lapar itu mengurangkan darah jantung dan memutihkannya. Dan pada putihnya itu, nurnya (cahayanya). Dan menghancutkan lemaknya hati.

Dan pada kehancuran itu halusnya hati. Dan halusnya itu kunci muka- syafah, sebagaimana kesatnya itu sebabnya hijab. Dan manakala darah jantung telah berkurang, niscaya sempitlah jalan musuh. Karena jalan yang dilalui musuh, ialah urat-urat yang penuh dengan nafsu syahwat (1). Nabi Isa a.s. bersabda: "Hai para murid! Laparkanlah perutmu, moga- moga hatimu melihat Tuhanmu!".


Sahl bin Abdullah At-Tusturi berkata: "Para wali itu, tidak menjadi wa- li, kecuali dengan empat perkara: mengempiskan perut, tidak tidur malam (untuk beribadat), diam (tidak suka berbicara) dan mengasing- kan diri dari manusia".

Faedah lapar pada mencemerlangkan hati adalah suatu hal yang jelas, di- saksikan oleh pengalaman. Dan akan datang penjelasannya secara ber- ansur-ansur pada "Kitab Menghancurkan Dua Nafsu Syahwat". Tentang tidak tidur malam, maka ia membersihkan, menjernihkan dan menyinarkan hati. Yang demikian itu menambahkan kepada kejernihan yang telah berhasil dari lapar, Lalu hati itu menjadi seperti bin tang yang berkilau-kilauan dan kaca yang terang. Lalu nampaklah padanya keelokan kebenaran. Dan disaksikan padanya ketinggian derajat diakhi- rat dan kehinaan serta bahaya dunia. Dengan demikian maka sempurna- lah kebenciannya kepada dunia dan menghadap hatinya kepada akhirat. Juga tidak tidur malam itu hasil dari lapar. Karena tidak tidur malam pa­da waktu kenyang tidak mungkin. Tidur itu mengesatkan dan mematikan hati. Kecuali apabila tidur itu sekedar perlu. Maka yang demikian men­jadi sebabnya mukasyafah (terbuka) rahasia-rahasia ghaib. Ada yang mengatakan, tentang sifat wali-wali itu, bahwa makanannya sekedar perlu, tidurnya karena terpaksa dan perkataannya yang penting-penting saja.

(1). Uraian ini dapat diselami benar-benar, apabila diperhatikan akibat kekenyangan, yang mendatangkan akibat-akibat buruk, seperti darah tinggi dan lain-lain. Dapat dikatakan, bahwa diet itu obat dari penyakit. Dari itu, camkan benar-benar. (pent).
1094


Ibrahim Al-Khawwash r.a. berkata: "Telah sepakat pendapat tujuh puluh orang benar (orang shiddiq), bahwa banyaknya tidur itu dari banyaknya minum air".

Adapun diam (tidak suka bicara) itu, sesungguhnya dipermudahkan oleh mengasingkan diri ('uzlah). Tetapi orang yang mengasingkan diri itu, ti­dak terlepas dari pada melihat orang yang mengurus makanannya, minumannya dan pengaturan urusannya. Maka selayaknyalah ia tidak berkata- kata, kecuali sekedar perlu. Karena berkata-kata itu menyibukkan hati. Keinginan hati kepada berkata-kata itu besar. Karena berkata-kata itu menyenangkan hati dan memberatkan untuk melepaskan hati kepada zikir dan fikir. Lalu hati itu merasa senang kepada berkata-kata. Diam itu membersihkan akal, menarik kepada wara' dan mengajarkan taqwa. Adapun khilwah (menyendiri), maka faedahnya menolak semua yang me­nyibukkan, mengendalikan pendengaran dan penglihatan. Pendengaran dan penglihatan itu serambi hati. Dan hati itu dalam wewenang kolam yang dialirkan kedalamnya, air keji, keruh dan kotor dari sungai-sungai panca-indera. Dan maksud dari latihan, ialah mengosongkan kolam itu dari air-air tersebut dan dari lumpur yang terjadi daripadanya. Supaya berpancarlah bawah kolam, lalu keluarlah dari padanya air bersih yang suci. Dan bagaimanakah air itu dapat habis dari kolam, sedang sungai terbuka kepada kolam itu?. Maka dalam segala hal, air baru lebih ba­nyak dari pada yang kurang.

Dari itu, haruslah dikekang panca-indera, kecuali sekedar perlu saja. Dan yang demikian itu tidak sempurna selain dengan khilwah dalam rumah gelap. Dan kalau ia tidak mempunyai tempat gelap, maka hendak­lah membalut kepalanya dalam saku bajunya atau berselimut dengan pa­kaian atau kain sarung.


Dalam keadaan yang seperti ini, ia mendengar panggilan kebenaran dan menyaksikan keagungan Hadlarat Ketuhanan. Apakah anda tidak tahu, bahwa seruan kepada Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . sampai kepadanya dan beliau dalam keadaan yang seperti ini?. (1).

Panggilan itu dengan dikatakan: "Yaa ayyuhal-muzzammil! Yaa ayyuhal- muddatstsir! (2).    

Empat yang tersebut itu, adalah tembok dan benteng. Dengan itu tertolaklah perampok-perampok jalan. Dan tercegahlah halangan-halangan yang menghalangi jalanan.


(1). Dirawikan Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir.
(2)."Yaa  ayyuhal-muzzammil" artinya: "Hai orang yang meletakan pakaian!" SUrat Al-Muz- zammil ayat 1.
"Ya ayyuhal-muddatstsir" artinya: "Hai orang yang berselimut!" Surat Al-Muddatstsir, ayat 1.
1095


Apabila telah diperbuat demikian, niscaya dapatlah sesudah itu meneruskan perjalanan. Dan perjalanannya itu dengan membuang rintangan-rintangan. Dan tak ada rintangan pada jalan Allah Ta'ala, selain dari sifat- sifat hati, yang sebabnya berpaling kepada jalan Allah Ta'ala, selain dari sifat-sifat hati, yang sebabnya berpaling kepada dunia. Dan sebagian dari rintangan-rintangan itu, lebih besar dari sebagian yang lain. Dan penertiban pada penyingkirannya, ialah dengan melaksanakan yang lebih mu­dah, lalu yang lebih mudah. Yaitu sifat-sifat tersebut, ya'ni: rahasia sega­la hubungan yang dipotongnya pada permulaan kemauan dan bekas-bekas- nya, ya'ni: harta, kemegahan, kecintaan dunia, berpaling kepada makhluk dan menoleh kepada perbuatan maksiat.


Maka haruslah batin itu dikosongkan dari bekas-bekas sifat tersebut, se­bagaimana dhahir dikosongkan dari pada sebab-sebab sifat yang dhahir. Dalam hal yang demikian, perjuangan itu panjang dan berbeda dengan berbedanya keadaan. Kadang-kadang ada orang yang telah mencukupi banyak sifat. Maka baginya tak panjang perjuangan (mujahadah). Dan telah kami sebutkan dahulu, bahwa jalan mujahadah, ialah melawan semua keinginan dan menentang hawa nafsu, pada setiap sifat yang mengerasi atas jiwa murid, sebagaimana telah disebutkan dahulu. Apabila ia merasa cukup demikian atau merasa lemah dengan mujahadah dan tiada tinggal lagi dalam hatinya hubungan, niscaya ia me- nyibukkan dirinya sesudah itu, dengan dzikir, yang mengharuskan hatinya terus-menerus. Dan mencegahnya dari pada membanyakkan wirid-wirid dhahiriyah.


Tetapi ia menyingkatkan kepada ibadah wajib dan sunat rawatib. Dan wiridnya adalah satu saja. Yaitu: Isi segala wirid dan buahnya. Yakni: harus menerusnya hati mengingati kepada Allah Ta'ala, sesudah terlepas dari pada mengingati lain-Nya. Dan tidak dapat menyibukkan hati dengan zikir, selama hati itu menoleh kepada hubungan-hubungan lain.


Asy-Syaibly berkata kepada Al-Hashary: "Jikalau terguris pada hatimu dari Jum'at yang engkau datang kepadaku sampai Jum'at lain (Jum'at dimuka), sesuatu selain Allah Ta'ala, maka haramlah engkau datang kepa­daku".


Hati yang semata-mata begini tidak akan diperoleh, selain dengan kebe­naran kemauan dan bersemayamnya kecintaan kepada Allah didalam hati. Sehingga ia dalam bentuk orang yang rindu, yang tiada memperha­tikan yang lain, yang tiada baginya, selain hanya satu cita-cita saja. Apabila sudah ada seperti yang demikian, maka syaikh (guru) mengharuskan murid itu tinggal disuatu sudut langgar (pondok) sendirian. Dan diserahkan kepada seorang yang mengurus makanannya, sekadar sedikit makanan halal. Sesungguhnya pokok jalan agama, ialah: makanan halal. Ketika itu, guru mengajarkannya salah satu zikir, sehingga lidah dan hati

1096


Sesungguhnya pokok jalan agama, ialah: makanan halal. Ketika itu, guru mengajarkannya salah satu zikir, sehingga lidah dan hatinya sibuk dengan zikir itu. Ia duduk dan membaca, umpamanya: A L L A H - A L L A H"- atau "SUBHANALLAH - SUBHANALLAH" Ataupun kata-kata lain, menurut pendapat gurunya. Senantiasalah ia membiasakannya, sehingga jatuh gerakan lidah dan berada kata-kata tadi, seakan-akan lalu diatas lidah, tanpa digerakkan. Kemudian senantiasalah murid itu membinasakannya, sehingga jatuh be­kasnya dari lidah dan kekal bentuk kata pada hati. Kemudian senanti­asalah seperti yang demikian, sehingga terhapuslah dari hati, huruf per­kataan dan bentuknya. Dan tinggallah hakikat artinya, yang terus-menerus dihati, berada pada hati dan menguasai hati, dimana hati itu kosong dari semua yang lain. Karena hati, apabila sibuk dengan sesuatu, niscaya ia terlepas dari yang lain, barang apapun juga.


Apabila hati sibuk dengan dzikir kepada Allah Ta'ala - dan itu yang di- maksud - niscaya sudah pasti, ia terlepas dari yang lain. Dan ketika itu, haruslah murid tersebut, mengawasi bisikan hati dan gurisan-gurisan yang menyangkut dengan dunia dan apa yang diingatinya, dari keadaannya sendiri dan keadaan orang lain, yang terjadi pada masa yang lampau. Karena manakala hati itu sibuk dengan sesuatu, walaupun pada waktu sekejap mata, niscaya hati itu kosong dari dzikir pada masa sekejap mata itu. Dan juga itu adalah suatu kekurangan. Maka hendaklah bersungguh- sungguh menolak yang demikian.


Manakala. telah ditolak semua bisikan dan dikembalikan jiwa kepada kata-kata yang tersebut, niscaya datanglah bisikan dari kata-kata itu sen­diri. Yaitu: "Apakah hakikat kata-kata itu? Apakah artinya kata kita "A L L A H?" Dan karena pengertian apa, DIA itu disembah?". Ketika itu, ia diliputi oleh bermacam-macam gurisan, yang membuka ke­padanya, pintu pikiran. Kadang-kadang datang kepadanya sesuatu sifat kufur dan bid'ah dari bisikan setan. Manakala ia benci kepada yang de­mikian dan berusaha menjauhkannya dari hati, niscaya tidak mendatangkan melarat yang demikian itu kepadanya.


Gurisan-gurisan itu terbagi: kepada yang diketahui dengan yakin, bahwa Allah Ta'ala mahasuci daripadanya. Akan tetapi setan itu, melemparkan yang demikian dalam hatinya dan melakukannya atas gurisan hatinya. Maka syaratnya, bahwa tidak memperdulikannya. Dan ia berlindung ke­pada dzikir (mengingati) Allah Ta'ala. Dan berdo'a kepadaNya, untuk menolak dari yang demikian, sebagaimana firman Allah Ta'ala:-
وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه سميع عليم
(Wa immaa yanzaghannaka minasy-syaithaani nazghun, fas-ta'idz bil- laahi, innahu samii'un 'aliim).Artinya: "Dan kalau setan (orang jahat) itu membisikkan kepada engkau bisikan (yang membawa kepada kejahatan), maka hendaklah engkau ber­lindung kepada Allah.Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Tahu". - S. Al-A'raf, 200.-

1097

Allah Ta'ala berfirman:-
إن الذين اتقوا إذا مسهم طائف من الشيطان تذكروا فإذا هم مبصرون
(Innal-la-dziinat-taqau, idzaa massa-hum, thaa-i-fun minasy-syaithaani, ta- dzakkaruu, fa-idzaa hum mubshi-ruun).Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa, apabila mereka diti- pu oleh setan yang datang berkunjung, niscaya mereka ingat- kembali dan ketika itu mereka menjadi orang-orang yang mempunyai pemandangan" - S. Al-A'raf, ayat 201.


Dan terbagi kepada yang diragukan. Maka selayaknyalah dibentangkannya yang demikian kepada gurunya. Bahkan setiap apa keadaan, yang dida- patinya dalam hatinya, baik lesu atau rajin atau menoleh kepada hu­bungan (keduniaan atau keakhiratan) atau benar tentang kemauan, maka selayaknyalah dilahirkannya yang demikian itu kepada gurunya. Dan ditutupkannya pada orang lain. Lalu tidak diperlihatkannya kepada seorang juapun.


Kemudian, bahwa gurunya melihat keadaannya dan memperhatikan ten­tang kecerdikan dan kepintarannya. Kalau guru itu mengetahui, bahwa kalau murid itu ditinggalkannya dan disuruhnya berfikir, niscaya ia menyadari dari dirinya akan hakekat kebenaran. Maka selayaknyalah murid itu dibawa kepada berfikir dan disuruhnya selalu berfikir. Sehingga tercurahIah dalam hatinya nur, yang membukakan hakikat itu kepadanya. Kalau guru itu mengetahui bahwa yang demikian tidak akan menguatkan murid yang seperti itu, niscaya dikembalikannya murid tersebut kepada keyakinan yang tegas, dengan apa yang dapat dibawa oleh hatinya, dari pengajaran, dzikir dan keterangan yang mendekati dengan pemahaman- nya. Dan selayaknyalah guru itu bersikap halus dan lemah-lembut dengan murid itu. Sesungguhnya ini, adalah jalan kebinasaan dan tempat yang amat berbahaya. Berapa banyak murid yang berbuat latihan, lalu banyaklah padanya khayalan yang merusak, yang tidak mampu ia me- nyingkapkannya. Maka terputuslah jalannya. Lalu ia berbuat kebatilan dan menempuh jalan yang membolehkan. Dan itu adalah kebinasaan be­sar.


Orang yang bertindak semata-mata untuk dzikir dan menolak hubungan- hubungan yang menyibukkan dari hatinya, niscaya ia tidak terlepas dari pemikiran-pemikiran yang seperti itu. Dia sesungguhnya menumpang ka- pal bahaya. Kalau selamat, niscaya dia termasuk raja-raja agama. Dan kalau bersalah, ia termasuk orang yang binasa

1098

Karena itulah, Nabi صلى الله عليه وسلم  bersabda:-
"Alaikum bidiini'l-'ajaa-iz"-Artinya: "Haruslah kamu berpegang dengan agama orang-orang lemah". (1)

Yaitu: mengambil perkara iman dan zahiriyah i'tikad dengan jalan taqlid dan berbuat amal kebajikan. Sesungguhnya bahaya berpaling dari demi­kian itu, banyak. Karena itulah dikatakan: harus guru itu mencari firasat pada muridnya. Kalau murid itu tidak pandai dan cerdik, yang memungkinkan dengan zahiriah i'tikad, niscaya tidak disibukkannya dengan dzikir dan pikiran. Tetapi dikembalikannya kepada amaliyah zahiriyah dan wirid-wirid yang berturut-turut dikerjakan. Atau menyibukkannya dengan melayani orang-orang yang semata-mata mengarahkan kegiatannya untuk bertafakkur. Supaya barakah mereka, meratainya. Karena orang yang le­mah dari berjihad pada garis peperangan, selayaknyalah memberi minum kaum pejuang dan menyiapkan binatang kenderaan mereka. Supaya ia dibangkitkan pada hari kiamat, dalam rombongan mereka dan meratai­nya oleh barakah mereka. Walaupun ia tidak sampai kepada tingkat mereka.

Kemudian, murid yang semata-mata menuju kepada dzikir dan tafakkur, kadang-kadang ia dipotong oleh banyak pemotong, yang terdiri dari: sifat mengherani diri ('ujub),ria dan gembira dengan terbuka hal-hal kepada­nya dan apa yang menampak dari permuiaan-permulaan kiramah (kemuliaan).


Manakala murid itu berpaling kepada sesuatu dari yang demikian dan menyibukkan dirinya dengan itu, niscaya adalah yang demikian itu kelemahan dijalan dan perhentian. Akan tetapi selayaknyalah ia membiasakan keadaannya dalam jumlah umurnya, sebagaimana dibiasakan oleh orang haus yang tidak akan diberi kepuasan oleh air laut, walaupun dicurahkan kepadanya. Dan ia terus-menerus kepada yang demikian. Dan modalnya, ialah putus hubungan dengan manusia, menuju kepada Al-Haq dan menyendiri. Setengah para pengembara berkata: "Aku bertanya kepada setengah wali, yang memutuskan hubungan dengan manusia: "Bagaimana jalan memperoleh hakikat kebenaran?". Wali itu menjawab: "Bahwa adalah engkau didunia, seakan-akan orang yang melintasi jalan!".

(1). Ibnu Thahir berkata dalam Kitab "At-Tadzkirah", bahwa yang dikatakan hadits ini, ada­lah kata-kata yang terdapat pada orang awam, tidak berasal dari riwayat yang benar atau lemah. Sehingga dapat &masukkan dalam hadits palsu.
1099

Pada suatu kali, pengembara itu berkata: "Aku berkata kepada wali itu: "Tunjukilah aku kepada amal perbuatan, yang aku dapati hatiku pada­nya bersama Allah Ta'ala terus-menerus!".
Lalu wali itu menjawab kepa­daku: "Jangan engkau melihat kepada makhluk. Karena memandang ke­pada mereka itu suatu kegelapan".
Aku bertanya lagi: "Tak boleh tidak yang demikian bagiku!".
Wali itu menjawab: "Jangan engkau mendengar perkataan mereka, karena perka­taan mereka itu kesat".
Aku bertanya lagi: "Tak boleh tidak yang demi kian itu bagiku!".
Wali itu menjawab: "Maka jangan engkau bergaul de ngan mereka, karena pergaulan dengan mereka itu liar".Lalu aku berkata: "Aku berada dihadapan mereka, tak boleh tidak aku bergaul dengan mereka".
Wali itu menjawab: "Jangan engkau bertempat. bersama mereka. Karena bertempat bersama mereka itu suatu kebinasaan".Aku berkata: "Ini karena sesuatu sebab".

Wali itu menjawab: "Wahai saudara! Adakah kamu melihat kepada orang-orang yang lalai dan kamu men dengar perkataan orang-orang yang bodoh, bergaul dengan orang-orang yang berbuat batil dan engkau ingin memperoleh hatimu bersama Allah Ta'ala terus-menerus? Ini barang yang tidak. akan ada selama-lamanya!" Jadi, kesudahan latihan (riadlah), ialah, bahwa ia dapati hatinya bersama Allah Ta'ala terus-menerus. Dan yang demikian tidak mungkin, kecuai ia menyendiri dari orang lain. Dan ia tidak menyendiri dari orang lain kecuali dengan lama mujahadah. Apabila berhasil hatinya bersama Allah Ta'ala, niscaya terbukalah baginya keagungan hadlarat Ketuhanan, cemerlanglah baginya kebenaran (al-haq) dan Jahirlah baginya sifat kelemah-lembutan Allah Ta'ala, yang tidak boleh disifatkan. Bahwa tidaklal sekali-kali diliputi oleh penyifatan.


Apabila tersingkap bagi murid, sesuatu dari yang demikian, maka pemotong jalan yang terbesar kepadanya, ialah: bahwa ia berkata-kata dengan demikian, sebagai pengajaran dan nasehat dan ia berhadapan untuk memperingati. Lalu jiwanya memperoleh kelazatan padanya, dimana tiada lagi kelazatan lain dibaliknya.


Maka kelazatan itu mengajaknya un­tuk bertafakkur tentang cara mendatangkan segala pengertian itu, membaguskan kata-kata yang disebutkan, menyusun penyebutannya, menghiasinya dengan ceritera-ceritera, dalil-dalil Al-Qur-an dan hadits dan membaguskan perbuatan kata-kata, supaya hati dan pendengaran condong kepadanya. Kadang-kadang setan mendatangkan khayalan kepadanya, bahwa: ini adalah dari engkau untuk menghidupkan hati orang-orang mati, yang lengah terhadap Allah Ta'ala.


Engkau itu sesung­guhnya perantara antara Allah Ta'ala dan makhluk. Engkau mengajak hambaNya kepadaNya. Dan engkau tiada mempunyai bahagian dan tiada padanya kelazatan bagi diri engkau. Dan jelaslah tipuan setan itu, de­ngan melahirkan pada teman-temannya, siapa yang terbagus perkataan, yang banyak kata-kata dan yang lebih sanggup menarik hati orang awam

1100

Lalu-sudah pasti-bergeraklah pada batinnya, kala jengking kedengkian, kalau penggeraknya itu, tipuan penerimaan. Dan kalau penggeraknya adalah kebenaran, karena ingin mengajak hamba Allah Ta'ala kepada jalanNya yang lurus, maka sangatlah gembiranya dan berkata: "Segala pujian bagi Allah yang menolongku dan menguatkan aku, dengan orang yang membantuku pada memperbaiki hambaNya". Seperti orang yang menjadi kewajibannya-umpamanya-membawa orang mati untuk dikuburkannya, karena didapatinya mayat itu disia-siakan orang. Dan menjadi fardlu 'ain yang demikian atas dirinya pada Agama. Lalu datanglah orang yang menolongnya. Maka ia sangat bergembira dan tidak akan iri- hati kepada orang yang menolongnya.

Orang-orang yang lalai itu mati hati. Pengajar-pengajarnya itu adalah yang membangunkan dan yang menghidupkannya. Lalu dengan banyaknya mereka, mendatangkan kesenangan dan tolong-menolong. Maka selayaknyalah, bahwa sangat menggembirakan, dengan yang demikian. Hal yang seperti ini sangat sukar terjadi, Maka selayaknyalah murid berhati- hati daripadanya. Karena itu adalah jaringan setan yang terbesar pada memotong jalan, orang yang terbuka baginya permulaan jalan. Sesung­guhnya memilih (mengutamakan) kehidupan duniawi adalah sifat yang mengerasi atas manusia.


Karena itulah, Allah Ta'ala berfirman:
بل تؤثرون الحياة الدنيا
(Bal tu'tsizuu-nal-hayaatad-dun-ya).
Artinya: - Telapi, kamu memilih kehidupan dunia" - S. Al-A'la, ayat 16.

Kemudian, Allah Ta'ala menerangkan, bahwa kejahatan itu adalah barang lama pada sifat (karakter) manusia. Dan itu tersebut padaj kitab-kitab purbakala.



Allah Ta'ala berfirman:-
إن هذا لفي الصحف الأولى صحف إبراهيم وموسى
(Inna haadzaa lafish-shuhu-fil-ulaa, shu-hufi Ibraa-hiima wa Muu-saa). Artinya: "Sesungguhnya ini ada dalam buku-buku purbakala. Buku-buku Ibrahim dan Musa" - S. Al-A'la, ayat 18 - 19.


Maka inilah jalan latihan dan pendidikan murid dengan jalan ansur-ber- ansur untuk bertemu dengan Allah Ta'ala.

Adapun uraian latihan pada tiap-tiap sifat, maka akan datang uraiannya. Sesungguhnya sifat yang lebih menguasai pada manusia,- ialah perutnya, kemaluannya dan lidahnya. Saya maksudkan nafsu syahwat yang me- nyangkut dengan anggota-anggota badan tadi. Kemudian sifat marah, di- mana marah itu adarnh seperti tentara untuk menjaga nafsu-syahwat. Ke- mudian, manakala manusia mencintai nafsu-syahwat perut dan kemaluan dan berjinakan hati dengan keduanya, niscaya ia telah mencintai dunia.

1101

Dan tidak mungkin diperoleh syahwat itu, kecuali dengan harta dan ke­megahan. Apabila harta dan kemegahan dicari, niscaya datanglah takab- bur (membesarkan diri), 'ujub (mengherani diri) dan suka menjadi kepa­la. Apabila telah menampak yang demikian, niscaya dirinya tidak mem- bolehkan lagi meninggalkan dunia. Dan dari agama dipegang apa yang ada padanya hal kekepalaan. Dan mengerasilah tertipu dengan hal-ikhwal dunia kepadanya.


Karena itulah, sesudah kami hidangkan dua kitab ini (kitab tentang keaja- iban hati dan kitab tentang latihan jiwa), akan kami sempurnakan Rubu' Yang Membinasakan (Rubu' Al-Muhlikat) itu, dengan delapan kitab insya Allah Ta'ala, yaitu:-

1.  Kitab tentang menghancurkan nafsu-syahwat perut dan kemaluan.
2.  Kitab tentang bahaya lisan (lidah).
3.  Kitab tentang menghancurkan kemarahan, busuk hati dan kedengkian.
4.  Kitab tentang celaan dunia dan penguraian tipuannya.
5.  Kitab tentang menghancurkan kecintaan kepada harta dan mencela ki­kir.
6.  Kitab tentang mencela ria dan suka kemegahan.
7.  Kitab tentang mencela takabbur (sombong) dan 'ujub.
8.  Kitab tentang tempat-tempat terjadinya tipuan dunia.

Dengan menyebutkan semua yang membinasakan dan mengajarkan jalan-jalan pengobatannya, maka sempurnalah maksud kami dari Rubu' Al-Muhlikat insya Allah Ta'ala.

Apa yang kami sebutkan pada kitab pertama, adalah uraian sifat-sifat ha­ti, yang menjadi tambang al-muhlikat (sifat-sifat yang membinasakan) dan al-mujiat (sifat-sifat yang melepaskan dari kebinasaan). Dan apa yang kami sebutkan pada kitab kedua, adalah isyarat secara keseluruhan, kepada jalan pemurnian budi-pekerti dan pengobatan penyakit hati. Ada- pun uraiannya maka akan datang pada kitab-kitab tersebut tadi insya Allah Ta'ala.

Dengan pujian kepada Allah, pertolongan dan baik taufiqNya, sempur­nalah Kitab Latihan Jiwa dan Pemurnian Akhlak, yang akan diiringi de­ngan "Kitab Tentang Menghancurkan Dua Nafsu-Syahwat", insya Allah Ta'ala.

Segala pujian bagi Allah Tuhan yang Maha Esa. Kiranya Allah mencu- rahkan rahmat kepada penghulu kita Muhammad, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan kepada semua hambaNya yang pilihan dari penduduk bumi dan Iangit. Dan tiadalah yang memberi taufiqtkepadaku, selain Allah. KepadaNya aku menyerahkan diri. Dan kepadaNya aku kembali.

1102


KITAB YANG MENERANGKAN TENTANG MENGHANCURKAN DUA MACAM NAFSU SYAH WAT. YAITU: KITAB KETIGA DARI "RUBU' - AL-MUHLIKAT"

بسم الله الرحمن الرحيم


Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih. Segala pujian bagi Allah Yang sendirian dengan kemuliaan pada kebesar- an dan ketinggianNya. Yang Berhak untuk pemujian, peng-qudus-an, pen-tasbih-an dan pensucian. Yang Berdiri dengan keadilan mengenai apa yang dihukumkan dan yang ditentukanNya, Yang Berkepanjangan kelimpahan mengenai apa yang dini'matkan dan yang disampaikanNya. Yang Menanggung pemelihaiaan hambaNya pada semua yang datang dan yang berlalu. Yang Menganugerahkan ni'mat kepada hambaNya dengan yang melebihi diatas kepentingan maksud-maksudnya. Bahkan dengan yang menyernpurnakan segala cita-citanya. IA yang menunjukkan jalan akan hamba dan yang menganugerahkan hidayahNya. IA yang memati kan dan yang menghidupkari. Dan apabila hambaNya itu sakit, maka IA yang menyembuhkan. Apabila lemah, maka IA yang menguatkan. la yang menganugerahkan taufik untuk ta'at dan Yang Merelakannya. IA yang menganugerahkan makanan dan minuman, yang memelihara daripada kebinasaan. Yang menjaga dan mengawal dengan makanan dan minuman itu daripada yang membinasakan dan yang merusakkannya. Dan yang memungkinkannya dengan perasaan cukup dengan sedikit ma­kanan dan menguatkannya. Sehingga sempitlah jaian setan yang memusuhinya. Dengan itu dapatlah menghancurkan keinginan hawa-nafsu yang memusuhinya. Lalu menolak kejahatannya. Kemudian, ia menyembah Tuhannya dan bertaqwa kepadaNya. Ini, adalah sesudah diluaskan oleh Tuhan kepadanya, apa yang mengenakkan dan yang dirinduinya. Dan ai- perbanyak kepadanya, apa yang menggerakkan segala pembangkit dan yang menguatkan segala pengajak. Semua itu dicoba olehNya dan diujikanNya. Lalu dilihat, bagaimana hamba itu memilih terhadap yang dirin­duinya dan yang dicenderunginya. Bagaimana ia menjaga segala perin- tahNya dan mencegah segala laranganNya. Rajin menta'atiNya dan men- jauhkan diri daripada segala perbuatan ma'siat kepadaNya. Dan rah mat kepada Muhammad hambaNya yang mulia dan rasulNya yang megah, Rahmat yang mendekatkannya kepadaNya, yang memberi pangkat kepadanya, yang mengangkat kedudukannya dan yang meninggikannya. Dan rahmat itu pula kepada yang berbuat baik,daripada keturunannya dan kaum kerabatnya dan kepada yang pilihan dari para sahabat dan pengikutnya.


1103

Kemudian, maka pembinasa yang paling besar bagi anak Adam (manu­sia), ialah keinginan perut (hawa nafsu perut). Disebabkan hawa nafsu ini, Nabi Adam a.s. dan Hawwa' dikeluarkan dari negeri ketetapan (sorga), kenegeri kehinaan dan kehayatan (bumi ini). Karena' keduanya dila­rang memakan buah kayu. Lalu keduanya dikalahkan oleh nafsunya, se­hingga dimakannya. Maka terbukalah auratnya.



Pada hakikatnya, perut itu sumber segala nafsu-syahwat dan tempat tum buh segala penyakit dan bahaya. Karena: syahwat-perut itu, diiringi oleh syahwat kemaluan dan bersangatan keinginan kepada wanita yang dikawini. Kemudian keinginan kepada makanan dan perkawinan itu, diikuti oleh kesangatan keinginan kepada kemegahan dan harta, yang menjadi jalan kepada meluasnya wanita yang dikawini dan makanan yang dimakan. Kemudian, oleh kebanyakkan harta dan kemegahan, lalu diikuti oleh bermacam-macam sifat kebodohan, berbagai rupa perlombaan dan kedengkian. Kemudian, diantara keduanya itu, beranaklah bahaya ria, mala-petaka kebanggaan, kebanyakkan harta dan kesombongan. Kemudian, yang demikian itu mengajak kepada kebusukan hati, kedengkian, permusuhan dan kemarahan. Kemudian, membawa orang yang bersifat demiki­an, kepada mengerjakan perbuatan durhaka, mungkar dan keji. Semua itu, adalah hasil daripada menyia-nyiakan perut dan apa yang ter­jadi daripadanya, dari anggapan mudah kepada kekenyangan dan penuhnya perut. Jikalau hamba Allah menghinakan dirinya dengan kelaparan dan sempitnya jalan lalunya setan, niscaya sesungguhnya dirinya telah ya- kin untuk menta'ati Allah 'Azza wa Jalla dan tidak akan menempuh ja­lan sombong dan durhaka. Dan tidaklah yang demikian itu membawanya terperosok pada dunia dan mengutamakan dunia dari akhirat. Dan tidak­lah berterus-terang begitu rupa kepada dunia.

Apabila bahaya nafsu-syahwat perut telah menghebat sampai kepada ba­tas itu, niscaya haruslah diuraikan segala mala-petaka dan bahayanya, untuk pengawasan daripadanya. Haruslah dijelaskan jalan mujahadah dan peringatan kepada keutamaannya, untuk menggemarinya. Begitu pula penguraian nafsu-syahwat kemaluan, karena dia mengikuti nafsu-syahwat perut. Kami akan menjelaskan yang demikian dengan per­tolongan Allah Ta'ala pada beberapa pasal, yang akan dikumpulkan oleh penjelasan keutamaan lapar. Kemudian faedah-faedahnya. Kemudian jalan latihan pada menghancurkan nafsu-syahwat perut dengan menyedikitkan makanan dan melambatkan makan. Kemudian, penjelasan perbedaan hu- kum lapar dan keutamaannya dengan perbedaan keadaan manusia. Ke­mudian, penjelasan latihan pada meninggalkan nafsu-syahwat. Kemudian, membica'rakan tentang nafsu-syahwat kemaluan. Kemudian, penjelasan apa yang harus atas murid, meninggalkan perkawiijan dan melakukannya. Kemudian, penjelasan keutamaan orang yang menentang nafsu-syahwat perut, kemaluan dan mata.

1104


PENJELASAN: keutamaan lapar dan kecelaan kenyang:

Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bersabda:-
Artinya: "Bemujahadahlah (berjuanglah) terhadap dirimu (nafsumu) de­ngan lapar dan haus.
Sesungguhnya pahala pada yang demikian, seperti pahala orang yang berjuang fii sabilillah (perang sabil). Sesungguhnya tiada amal yang pa­ling disukai oleh Allah, selain dari lapar dan haus'. (1).



Ibnu Abbas berkata: "Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bersabda:-
لا يدخل ملكوت السماء من ملأ بطنه
(Laa yadkhulu malakuuta's-samaa-i man mala-a bathnahu).
Artinya: "Tiada akan masuk kekerajaan langit, orang yang memenuhkan:perutnya". (2).


Orang bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم .: "Wahai Rasulu'llah! Manusia mana- kah yang lebih utama?".Beliau menjawab: "Orang yang sedikit makannya dan tertawanya. Dan ia rela dengan apa saja yang dapat menutupi auratnya". (3). Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Penghulu segala amal, ialah lapar. Dan kehinaan diri, ialah pakaian bulu". (4).


Abu Sa'id Al-Khudri berkata: "Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Pakailah, makanlah dan minumlah setengah perut! Karena itu adalah sebahagian dari kenabian". (5).


Al-Hasan berkata: "Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Berpikir itu setengah ibadah dan sedikit makanan, itulah ibadah". (6).


Al-Hasan berkata pula: "Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Yang paling uta­ma kedudukanmu pada Allah dihari kiamat, ialah yang paling lama lapar dan bertafakkur tentang Allah s.w.t. diantara kamu. Dan yang paling di-marahi kamu oleh Allah 'Azza wa Jalla pada hari kiamat, ialah yang ba­nyak tidur, banyak makan dan banyak minum". (7).


(1). Menurut Al-'Iraqy, bahwa ia tidak pernah menjumpai hadits tersebut.
(2).       Juga Al-'Iraqy tidak pernah menjumpai hadits ini.
(3).       Bahwa hadits ini-menurut Al-'Iraqi-tidak pernah dijumpainya. Begitu pula hadits-hadits sesudahnya, yaitu:
- (5) - (6) - (7). Pembaca dapat meneliti dan memberi pendapat tentang yang demikian. (Pent.).
1105



Pada suatu hadits disebut: "Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم . adalah lapar, tanpa perlu", artinya: beliau memilih lapar. (1).


Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala membanggakan de­ngan malaikat, akan orang yang sedikit makannya dan minumnya didunia. Allah Ta'ala berfirman: "Lihatlah kepada hambaku! Aku mencobanya dengan makanan dan minuman didunia, lalu ia sabar dan ia tinggalkan makan dan minum itu. Lihatlah wahai malaikatKu! Tiap makanan yang ditinggalkannya, akan Aku gantikan dengan beberapa tingkat sorga". (2).


Nabi صلى الله عليه وسلم  bersabda: "Janganlah engkau matikan hati dengan banyak makanan dan minuman! Sesungguhnya hati itu seperti tanaman yang akan mati, apabila banyak airnya". (3).


Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Tiada bejana yang dipenuhkan oleh anak Adam, yang lebih jahat, dari perutnya. Mencukupilah bagi anak Adam itu, be­berapa suap kecil, yang akan menegakkan tulang pinggangnya. Kalau mesti ia berbuat, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk mi- numannya dan sepertiga untuk dirinya (nafsunya)". (4).


Pada hadits panjang yang diriwayatkan oleh usamah bin Zaid dan Abi Hurairah, disebutkan keutamaan lapar. Karena Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda pa­da hadits tersebut: "Manusia yang paling dekat kepada Allah 'Azza wa Jalla pada hari kiamat, ialah orang yang lama laparnya, hausnya dan gundahnya didunia;yang berjalan tidak beralas kakiyyang bertaqwa kepa­da Allah, yang kalau. mereka menyaksikan (hadlir), mereka tidak dikenal. Dan kalau mereka tidak kelihatan (tidak hadir), niscaya orang tidak me­rasa kehilangan. Mereka dikenal oleh tempat-tempat dibumi dan dikelilingi mereka oleh para malaikat langit. Manusia berni'mat-ni'mat didunia dan me­reka berni'mat-ni'mat dengan menta'ati Allah 'Azza wa Jalla. Manusia tidur dikasur empuk, sedang mereka tidur dengan dahi dan lutut (5). Manusia menyia-nyiakan perbuatan dan akhlak nabi-nabi dan mereka menjagainya.Mereka ditangisi oleh bumi apabila telah hilang. Dan Tuhan Yang Maha perkasa marah pada tiap-tiap negeri yang tiada seorang pun daripada mereka padanya. Mereka tiada melompat-lompat di dunia, sebagaimana anjing melompat-lompat diatas bangkai. Mereka makan sedikit makanan, memakai pakaian buruk, rambutnya kusut dan mukannya berdebu. Me­reka dilihat oleh manusia, lalu menyangka bahwa mereka itu sakit, pada hal mereka tidak sakit. Dan dikatakan orang, mereka itu telah dicampur

(1).  Kata Al-'Iraqi, bahwa hadits ini diriwayatkan Al-Baihaqi dari AMsyah, isnadnya lemah.
(2). Diriwayatkan oleh Ibnu Uda. Dan telah diterangkan pada bab puasa dahulu.
(3). Kata Al-'Iraqi, hadits ini juga tidak pernah dijumpainya.
(4). Hadits ini diriwayatkan At-Tirmidzi dari AI-Miqdam.
(5). Ini dimaksudkan banyak shalat pada malam hari, dengan meletakkan dahi dan lututnya (Pent.).
1106

aduk, Ialu hilanglah akal mereka. Pada hai akal mereka tidak hilang. Te­tapi kaum itu melihat dengan hatinya kepada perintah Allah, yang menghilangkan kecintaan mereka kepada dunia. Lalu menurut orang dunia, mereka itu berjalan, tanpa akal. Mereka berakal ketika akal manusia te­lah hilang. Mereka mempunyai kehormatan pada hari akhirat. Hai Usamah! Apabila engkau melihat mereka pada suatu negeri, maka ketahui lah, bawa mereka yang membawa keamanan bagi penduduk negeri itu. Allah tiada akan meazabkan sesuatu kaum, dimana mereka itu berada pada kaum itu. Bumi gembira kepada mereka. Dan Tuhan Yang Maha perkasapun rela kepada mereka. Ambillah mereka menjadi teman bagi dirimu! Mudah-mudahan engkau terlepas dengan sebab mereka. Kalau engkau sanggup, bahwa kematian mendatangi engkau dan perut engkau itu lapar dan hati engkau itu haus, maka perbuatlah! Karena dengan de­mikian, engkau akan mengetahui kemuliaan tingkat. Dan engkau akan menempati bersama nabi-nabi. Para malaikat gembira dengan kedatangan roh engkau dan Tuhan Yang Mahaperkasa mencurahkan rahmat kepada engkau"- (1).


Al-Hasan meriwayatkan dari Abi Hurairah, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Pakailah pakaian bulu (wol) dan sinsinglah lengan baju! Makanlah sete­ngah perut, niscaya kamu akan masuk dalam kerajaan langit'.". (2).


Nabi Isa a.s. bersabda: "Wahai para sahabatku! Laparkanlah hatimu dan telanjangilah tubuhmu! Mudah-mudahan hatimu akan melihat Allah 'Azza wa Jalla!"-

Yang demikian diriwayatkan pula dari Nabi kita صلى الله عليه وسلم . yang diriwayatkan oleh Thawus. Dan ada yang mengatakan, sudah tertulis dalam Taurat: bahwa sesungguhnya Allah marah kepada orang berilmu yang gemuk. Karena gemuk itu menunjukkan kepada kelalaian dan kebanyakan ma­kan. Yang demikian itu keji, lebih-lebih bagi orang berilmu. Dan karena itulah, Ibnu Mas'ud r.a. berkata: "Sesungguhnya Allah marah kepada qariah (ahli pembacaan Al-Qur-an) yang gemuk". (3).


Tersebut pada suatu hadits mursal: "Bahwa setan itu berjalan pada tubuh anak Adam,pada tempat Ialu darah. Maka sempitkanlah tempat lalunya dengan lapar dan dahaga!"-.Pada suatu hadits tersebut: "Bahwa makan pada waktu kenyang itu mewarisi penyakit supak"- (4).


Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Orang mu'min itu makan pada satu perut dan orang munafik itu makan pada tujuh perut"- (5).

Artinya: orang munafik itu makan tujuh kali Iipat dari pada yang dima- kan oleh orang mu'min. Atau nafsu syahwat orang munafik itu tujuh kali nafsu syahwat orang mu'min. Dan disebutkan: perut disini, adalah sindir- an (kinayah) dari nafsu-keinginan. Karena nafsulah yang menerima ma­kanan dan yang mengambilnya, sebagaimana yang diambil oleh perut. Dan tidaklah artinya, bilangan perut orang munafik bertambah dari perut orang mu'min.


(1). Kata Al-'Iraqi, hadits ini diriwayatkan Al-Khatib dari Sa'id bin Zaid. Dan ada yang me­ngatakan, hadits ini termasuk hadits maudlu'.
(2). Diriwayatkan Abu Manshur Ad-Dailami dengan sanad dla'if.
(3). Kata Al-'Iraqi, harists Thawus itu tidak pernah dijumpainya.
(4). Juga hadits ini tak pernah dijumpai oleh Al-Iraqi.
(5). Hadits ini muttafaqaliih (disepakati Al-Bukhari dan Muslim) dari Umar dan Abi Hurairah
1107





Diriwayatkan Al-Hasan dari 'A'isyah r.a., bahwa 'A'isyah berkata: "Saya mendengar Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Terus-meneruslah kamu mengetuk pintu sorga, niscaya akan dibuka bagimu!". Lalu saya bertanya: "Bagamana kami terus-menerus mengetuk pintu sorga?". Nabi صلى الله عليه وسلم . menjawab: "Dengan lapar dan dahaga"- (1).


Diriwayatkan: "Bahwa Abu Juhaifah bersendawa dihadapan Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . Lalu Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bersabda kepadanya: "Pendekkan sendawamu! Sesungguhnya manusia yang paling lama lapar dihari akhirat, ia­lah: yang paling banyak kenyang didunia". (2).


'A'isyah r.a. berkata: "Sesungguhnya Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . tidak pernah sekali-kali kenyang. Kadang-kadang aku menangis karena kasihan melihat ia lapar. Lalu aku sapu perutnya dengan tanganku dan aku berkata: "Diriku menjadi tebusan bagimu, jikalau sampailah engkau dari dunia ini sekedar yang menguatkan engkau dan mencegah engkau dari kelaparan".


Lalu beliau menjawab: "Wahai 'A'isyah! Saudara-saudaraku para rasul Ulu'l-azmi (3) telah bersabar dalam hal yang lebih berat dari ini. Mere­ka terus dalam keadaan mereka, lalu mereka datang kepada Tuhan. Ma­ka Tuhan memuliakan kembalinya mereka dan membanyakkan pahalanya. Aku rnerasa malu jika aku bermewah-mewah dalam hidupku, bahwa Ia menyingkatkan untukku besok, sedang untuk mereka itu tidak. Bersabar dalam hari-hari yang mudah, adalah lebih aku sukai daripada dikurangi bahagianku besok diakhirat. Dan tiada suatu pun yang lebih aku sukai, selain berhubungan dengan teman-temanku dan saudara-sau­daraku".

'A'isyah r.a. berkata: "Demi Allah! Tiada sampai seminggu se­sudah itu, ia pun diambil oleh Allah kehadliratNya". (4).


Diriwayatkan dari Anas, yang menerangkan: "Fatimah r.a. datang kepa­da Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . dengan membawa sepotong roti.

Lalu Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bertanya: "Sepotong apa ini?".

Fatimah menjawab: "Sepotong ro­ti. Hati anakanda tidak enak sebelum membawa sepotong roti ini kepada ayahanda".

Maka Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . menjawab: "Sesungguhnya inilah makanan pertama yang masuk kemulut ayahmu semenjak tiga hari ini". (5).

(1). Hadits ini tak pemah dijumpainya kata Al-Iraqi.
(2). Hadits ini diriwayatkan Al-Baihaqi dari Abi Juhaifah.
(3). Ulu'l-'azmi, artinya: mempunyai cita-cita yang tetap. Rasul (nabi) UluVazmi, ialah lima orang, yaitu: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad صلى الله عليه وسلم .
(4). Menurut Al-Iraqi, dia tidak pernah menjumpai hadits ini.
(5). Diriwayatkan AI-Harits bin Abi Usamah dengan sanad dla'if.
1108


Abu Hurairah berkata: "Tiada dikenyangkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم . keluargt nya tiga hari berturut-turut, dari roti gandum, sehingga ia bercerai de ngan dunia". (1).

Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Sesungguhnya orang yang lapar didunia, adalah orang yang kenyang diakhirat. Orang yang paling dimarahi oleh Allah, ialah orang yang banyak makan, yang penuh perutnya. Seorang hamba yang meninggalkan makanan yang disukainya, maka berhaklah baginya suatu tingkat dalam sorga". (2).

Adapun atsar (kata-kata sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم , diantaranya, 'Umar r.a. berkata: "Jagalah daripada perut kenyang! Karena berat dalam hidup dan busuk pada mati".

Syaqiq Al-Balakhi berkata: "Ibadah itu suatu pekerjaan. Gudangnya khilwah (menyendiri) dan alatnya lapar".

Luqman berkata kepada anaknya: "Hai anakku! Apabila perut penuh, niscaya tidurlah pikiran, bisulah ilmu-hikmah dan duduklah (malaslah) anggota tubuh daripada beribadah".

Al-Fudhail bin Tjadl berkata kepada dirinya: "Apakah yang engkau takuti? Adakah engkau takut lapar? Jangan engkau takut yang demikian itu! Engkau lebih senang dari yang demikian kepada Allah. Sesungguh­nya Muhammad صلى الله عليه وسلم . dan para sahabatnya itu lapar". Kahmas bin Al-Hasan (semasa dengan Al-Hasan Al-Bashari, golongan tabi'in) berdo'a: "Wahai Tuhanku! ENGKAU laparkan aku dan ENGKAU tiada memberi pakaian bagiku. Dalam kegelapan malam, dengan tiada lampu, ENGKAU dudukkan aku. Maka dengan wasilah (jalan) apakah ENGKAU sampaikan aku, akan apa yang telah ENGKAU sampaikan aku?".


Adalah Fathu'l-Mausuli apabila bersangatan sakit dan laparnya, lalu ber­do'a: "Wahai Tuhanku! ENGKAU coba aku dengan sakit dan lapar. Dan seperti itu juga ENGKAU perbuat dengan para wali ENGKAU. Maka dengan amalan apakah, aku laksanakan untuk mensyukuri apa yang telah Engkau nikmatkan kepadaku?".



Malik bin Dinar berkata: "Aku berkata kepada Muhammad bin Wasi': "Wahai Abu Abdillah! Berbahagialah orang yang mempunyai penghasil- an, yang menjadi makanannya dan tidak memerlukannya untuk meminta pada manusia-'. Lalu Muhammad bin Wasi' berkata kepadaku: "Wahai Abu Yahya: "Berbahagialah orang pada petang dan pagi dalam keadaan lapar, sedang ia rela kepada Allah".


Al-Fudlail bin 'Iyadl berdo'a: "Wahai Tuhanku! ENGKAU laparkan aku dan ENGKAU laparkan keluargaku. ENGKAU tinggalkan aku dalam kegelapan malam, dengan tiada lampu. Sesungguhnya ENGKAU perbuat demikian kepada para waliMu. Maka dengan tetnpat mana, aku menca- pai ini daripada MU?",


(1). Diriwayatkan Muslim dari Abi Hurairah.
(2). Diriwayatkan Ath-Thabari dan Abu Nu'aim dairi Ibnu Abbas, dengan isnad dla'if.
1109

Yahya bin Ma'az berkata: "Lapar orang-orang yang gemar itu peringatan Lapar orang-orang yang tobat itu percobaan. Lapar orang-orang yang rajin (mujtahid) itu kemuliaan. Lapar orang-orang yang sabar itu kebijak- sanaan. Dan lapar orang-orang zuhud itu hikmah".


Dalam Taurat tersebut: "Bertaqwalah kepada Allah! Apabila engkau ke­nyang, maka ingatlah kepada orang-orang yang lapar!".

Abu Sulaiman berkata: "Lebih aku sukai meninggalkan sesuap makanan dari makanan malamku, daripada bangun malam sampai waktu subuh" Ia berkata pula: "Kelaparan pada Allah dalam perbendaharaanNya, tiada diberikan kecuali kepada orang yang dicintaiNYA".


Adalah Sahal bin Abdillah At-Tusturi, melalui duapuluh hari lebih tiada makan. Dan mencukupi satu dirham untuk makanannya setahun. Ia me ngagungkan lapar dan bersangatan pada lapar, sehingga ia berkata: "Tia­da datang amal kebajikan pada hari kiamat, yang lebih baik daripada meninggalkan makanan yang tidak perlu, karena mengikuti Nabi صلى الله عليه وسلم  pada makannya".


Dan ia berkata pula: "Orang yang berakal tiada meli­hat sesuatu yang lebih bermanfa'at, daripada lapar, karena agama dan dunia.


Ia berkata lagi: "Aku tiada mengetahui sesuatu yang lebih memelaratkan penuntut akhirat, selain daripada makan". Dan berkata pula: "Hikmah dan ilmu itu diletakkan pada lapar. Ma'siat dan kebodohan itu diletakkan pada kenyang". Seterusnya, ia berkata: "Tiadalah sesuatu, yang lebih utama bagi hamba Allah, daripada melawan hawa-nafsu untuk meninggalkan yang halal". Dan tersebut pada hadits: "Sepertiga bagi makanan. Siapa yang melebihkan dari itu, maka sesungguhnya ia makan daripada kebaikannya". (1).


Sahal tadi ditanyakan, tentang lebih itu. Lalu ia menjawab: "Tidak diperoleh lebih, sebelum lebih disukai meninggalkannya daripada makan Dan apabila ia lapar pada suatu malam, lalu ia bermohon pada Allal untuk dijadikanNya satu malam itu menjadi dua malam. Apabila ada de nikian, niscaya ia memperoleh lebih itu".
Sahal berkata pula: "Wali itu tidak menjadi wali, selain dengan kempis nya perut, tidak tidur malam, diam dan menyendiri (khilwah)".
Sahal berkata lagi: "Kepala setiap kebajikan yang turun dari langit kebumi, ialah lapar. Dan kepala setiap kezaliman diantara bumi dan langit itu, ialah kenyang".
Seterusnya, ia berkata: "Barangsiapa melaparkan dirinya niscaya terputuslah segala waswas daripadanya". Ia berkata pula "Berhadapan Allah 'Azza wa Jalla kepada hambaNya, dengan lapar, sa­kit dan bencana. Selain orang yang dikehendaki Allah Ta'ala". Sahal berkata lagi:. "Ketahuilah, bahwa sekarang ini suatu zaman, yang


1). Hadits "sepertiga untuk makan" sudah diterangkan dahulu.
1110

tiada akan diperoleh seseorang kelepasan padanya, kecuali dengan menyembelih nafsunya dan membunuhnya dengan lapar, tidak tidur ma­lam dan bersungguh-sungguh menta'ati Allah". Seterusnya Sahal berkata: "Tiada seorang pun yang lalu diatas permukaan bumi, yang meminum dari air ini, sehingga ia puas, lalu ia selamat dari perbuatan ma'siat, walau pun ia bersyukur kepada Allah Ta'ala. Maka bagaimanakah dengan kenyang daripada makanan?".


Ditanyakan seorang ahli hikmah (failosuf):
Dengan ikatan apakah, aku ikat nafsuku?".
Ahli hikmah itu menjawab: "Ikatkanlah nafsu itu dengan lapar dan haus! Hinakanlah dia dengan memadamkan sebutan dan meninggalkan kemegahan! Kecilkanlah dia dengan meletakkannya dibawah kaki putera-putera akhirat! Hancurkanlah dia dengan meninginggalkan pakaian para qari' dari dhahiriahnya! Lepaskanlah dia dari bahaya-bahayanya, dengan berterus-terusan jahat sangka kepadanya! Dan kawanilah dia dengan melawan keinginannya!".

Abdul-wahid bin Zaid bersumpah dengan nama Allah Ta'ala, bahwa Allah Ta'ala tiada memilih seseorang dengan kasih-sayangNya, selain de­ngan lapar. Mereka itu tiada dapat berjalan diatas air, kecuali dengan la­par. Dan bumi tiada dilipatkan bagi mereka (dapat dilintasinya), selain dengan lapar. Dan Allah Ta'ala tiada memberi kekuasaan kepada mere­ka, selain dengan lapar".


Abu Thalib Al-Makki berkata: "Perut itu adalah seperti rebab. Yaitu kayu yang berlobang, mempunyai tali-tali. Sesungguhnya bagus bunyinya, karena ringan dan tipisnya. Dan karena ia berlobang, tiada berisi penuh. Begitu pula rongga perut! Apabila ia kosong, niscaya adalah lebih manis untuk membaca (tilawa til-Qur-an), lebih lama untuk berdiri shalat dan le­bih menyedikitkan tidur".-


Abubakar bin Abdullah Al-Mazani berkata: "Tiga macam orang yang di- kasihi oleh Allah Ta'ala: orang yang sedikit tidur, sedikit makan dan se­dikit istirahat".


Diriwayatkan bahwa Isa a.s. berdiam pada suatu tempat, bermunajah dengan Tuhan enampuluh pagi, yang ia tiada makan. Lalu tergurislah di- hatinya roti, maka ia putuskan (berhenti) daripada munajah. Tiba-tiba roti itu terletak dihadapannya. Lalu ia duduk menangis karena putusnya munajah. Tiba-tiba muncul seorang tua menaunginya. Maka berkata Isa a.s. kepadanya: "Kiranya diberi barakah oleh Allah padamu, wahai wali Allah! Berdo'alah pada Allah Ta'ala bagiku! Sesung­guhnya aku berada- dalam .suatu keadaan, lalu tergurislah roti pada hatiku, maka terputuslah keadaan itu daripadaku".

Maka orang tua itu berdo'a: "Ya Allah Tuhanku Jikalau Engkau tahu bahwa roti telah terguris dihatiku semenjak aku mengenal Engkau, maka janganlah Engkau ampunkan aku. Tetapi adalah dia, apabila telah ada sesuatu dihadapanku, niscaya aku makan, dengan tiada pikiran dan gurisan pada hati".

1111


Diriwayatkan, bahwa Musa a.s. tatkala didekatkan oleh Allah 'Azza wa Jalla kelepasan, niscaya ia meninggalkan makan empat puluh hari, tiga- puluh, kemudian sepuluh, sepanjang yang tersebut dalam Al-Qur-an. Ka­rena ia menahan tanpa bermalam satu hari, lalu ditambahkan sepuluh lantaran itu.


PENJELASAN: faedqh-faedah lapar dan bahaya-bahaya kenyang.


 Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bersabda:-
جاهدوا أنفسكم بالجوع والعطش فإن الأجر في ذلك
(Jaahidu anfusakum bil-juu'i wal-'athasyi, fa innal-ajra fii dzaalik).-
Artinya: "Bermujahadahlah (berjuanglah) terhadap dirimu (nafsumu) de­ngan lapar dan haus. Sesungguhnya pahala pada yang demikian" (1). Semoga anda bertanya: "Keutamaan yang besar ini bagi lapar, dari mana datangnya? Dan apa sebabnya? Dan tak ada padanya, selain menyakitkan perut dan menderita kesakitan.


Jikalau adalah seperti demikian, maka selayaknyalah, bahwa besar pahalanya pada tiap-tiap sesuatu yang dirasa sakit oleh manusia, seperti memukul dirinya, memotong dagingnya, memperoleh hal-hal yang tidak disukai dan lain-lain sebagainya".


Ketahuilah, bahwa ini menyerupai kata-kata orang yang meminum obat,lalu ia mengambil manfa'at dengan obat tersebut. Dan menyangka bahwa kemanfa'atannya itu karena obat itu tidak disukai dan karena pahitnya.


Lalu ia memakan setiap yang tidak disukai rasanya. itu adalah salah. Akan tetapi, kemanfa'atannya itu pada khasiat obat. Bukan karena obat itu pahit. Khasiat itu hanya diketahui olehvdokter-dokter.


Maka begitu pulalah, alasan kemanfa'atan lapar, tiada diketahui, selain oleh u'lama-ula'ma yang ulung. Dan siapa yang melaparkan dirinya karena membenarkan apa yang datang pada agama, tentang pemujian lapar dan ia memperoleh manfa'at dengan lapar itu, walau pun ia tidak tahu alasan kemanfa'atannya, adalah seperti orang yang meminum obat, yang mem­peroleh manfa'at dengan obat itu, walau pun ia tiada mengetahui cara o- bat itu mendatangkan kemanfa'atan. Tetapi kami akan menguraikan kepada anda yang demikian, jikalau anda ingin meningkat dari darajat i- man kepada darajat ilmu.


(1). Hadits ini sudah diterangkan dahulu, bahwa Al-Iraqi-penulis dan penilai hadits-hadits
dalam IHYA'-belum pernah menjumpainya dalam kitab-kitab hadits. (Pent.)
1112

Allah Ta'ala'berfirman:-
 Artinya: "Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara ka­mu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan kepada derajat yang tinggi". S. AI-Mujadalah, ayat 11.


Maka akan kami terangkan mengenai lapar, ada sepuluh faedah:-

Faedah Pertama: bersihnya hati, bersinar kepintaran dan tembusnya penglihatan mata-hati. Dan kekenyangan itu mewarisi kebodohan, membutakan hati dan membanyakkan uap pada otak, menyerupai gula. Sehingga meliputi kepada tambang-tambang pikiran. Lalu dengan sebabnya itu, beratlah hati pada berlalunya pikiran dan dari cepatnya pengertian. Bahkan anak kecil, apabila ia banyak makan, niscaya hafalannya salah dan hatinya rusak. Pahamnya dan pengertiannya menjadi lambat.


Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Haruslah engkau lapar! Karena lapar itu kehinaan bagi nafsu dan kehalusan bagi hati. Dan lapar itu mengwawisi pengetahuan samawi" (1).


Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Hidupkanlah hatimu dengan sedikit tertawa dan sedikit kenyang! Dan sucikanlah hatimu dengan lapar! Niscaya hati itu bersih dan halus". (2).


Dikatakan, lapar itu seperti guruh. Qana'ah (merasa cukup menurut yang ada) itu, seperti kabut. Dan hikmah itu seperti hujan. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Barangsiapa melaparkan perutnya, niscaya tinggilah pikirannya dan cerdiklah hatinya". (3).


Ibnu Abbas berkata: "Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Barangsiapa kenyang dan tidur, niscaya kesatlah hatinya". Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Tiap sesuatu itu mempunyai zakat dan zakat tubuh itu lapar". (4).


Asy-Syibli berkata: "Kalau aku lapar sehari karena Allah, maka aku melihat pada hatiku pintu terbuka dari hikmah dan i'tibar, yang belum pernah sekali-kali aku melihatnya".


Tiadalah tersembunyi, bahwa kesudahan maksud dari ibadah, ialah pikir­an yang menyampaikan kepada ma'rifah dan melihat dengan mata-hati, akan hakekat-hakekat kebenaran. Dan kenyang itu mencegah daripada- nya- Dan lapar itu membuka pintunya. Dan ma'rifah itu salah satu dari­pada pintu sorga. Maka sudah selayaknya, bahwa membiasakan lapar itu mengetuk pintu sorga.

Karena itulah, Lukman berkata kepada anaknya: "Hai anakku! Apabila


(1).
Maksudnya, ialah pengetahuan yang datang dari samawi. Dan samawi, artinya: ke-langit- an, yang tinggi dan diatas. Seperti dikatakan: agama samawi, artinya: agama yang datang dari atas, ya'ni: dari Tuhan.
(2).
Menurut Al-Iraqi, beliau tidak pemah menjumpai hadits ini.
(3).
Menurut Al-Iraqi beliau tidak pernah menjumpai hadits ini.
(4).
Dirawikan Ibnu Majah dari Abu Hurairah.
1113



Karena itulah, Lukman berkata kepada anaknya: "Hai anakku! Apabila  perut penuh, niscaya pikiran tidur, hikmah bisu dan anggota-anggota tu­buh duduk tidak beribadah".


Abu Zaid Al-Bustami berkata: "Lapar itu kabut. Apabila hamba Allah itu lapar niscaya hati menghujani hikmah".



Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Cahaya hikmah itu lapar. Menjauhkan diri dari­pada Allah 'Azza wa Jalla itu kenyang. Mendekatkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla itu mencintai orang miskin dan mendekatinya. Janganlah kamu kenyang, lalu kamu memadamkan cahaya hikmah dari hatimu! Orang yang bermalam dalam keadaan ringan dari makanan, maka bermalamlah bidadari kelilingnya, hingga pagi hari". (1).


Faedah Kedua: halus dan bersihnya hati, yang dengan itu disiapkan un­tuk memperoleh lazat ketekunan dan berkesan dengan dzikir. Berapa ba­nyak dzikir berlalu pada lisan serta kehadiran hati. Akan tetapi hati tia­da memperoleh kelazatan dan tiada berkesan. Sehingga seakan-akan terdapat kekesatan hati yang menjadi hijab (dinding) diantara hati dan dzi­kir. Kadang-kadang pada setengah keadaan, hati itu menghalus. Lalu be­sar kesannya dengan dzikir dan kelazatannya dengan munajah. Dan kekosongan perut, adalah sebab yang menonjol padanya. Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Adalah ibadah yang paling manis kepadaku, ialah apabila bertemu belakangku dengan perutku". (2)


Al-Yunaid berkata: "Salah seorang mereka membuat uncang makanan, diantaranya dan dadanya. Ia ingin memperoleh kemanisan munajah".


Abu Sulaiman berkata: "Apabila hati itu lapar dan haus, niscaya ia jernih dan halus. Dan apabila kenyang, niscaya ia buta dan menebal. Apa­bila hati itu berkesan dengan kelazatan munajah, niscaya ia melalui dibelakang pemudahan pikiran dan pemburuan ma'rifah". Itulah faedah kedua!


Faedah Ketiga: pecah (tawar) dan hinanya nafsu, hilang memandang mu­dah kepada ni'mat, hilang gembira dan tiada mensyukuri ni'mat, yang menjadi pokok pangkal penganiayaan dan lengah kepada Allah Ta'ala. Maka nafsu itu tiada pecah dan tiada1 merasa hina dengan sesuatu, seba­gaimana ia merasa hina dengan lapar. Maka ketika itu ia tenang dan khusu' kepada Tuhannya. Tahu ia kepada kelemahan dan kehinaannya. Karena lemah kekuatannya dan sempit dayanya, disebabkan sesuap kecil makanan yang tiada diperolehnya. Dan gelaplah dunia kepadanya karena seteguk air yang terlambat didapatinya.


1). Disebutkan oleh Abu Mansur Ad-Dailami dalam "Musnadul-Firdaus", bahwa hadits ini dari Abi Hurairah.
2). Maksudnya, apabila lapar dan perut itu kosong. (pent.)
1114


Selama manusia tiada melihat kehinaan dan kelemahan dirinya, maka ia tiada melihat kemuliaan dan keperkasaan Tuhannya. Sesungguhnya kebahagiaan manusia itu, pada adanya selalu, ia melihat dirinya dengan pandangan kehinaan dan kelemahan. Dan melihat Tuhannya dengan pandangan kemuliaan, kekuasaan dan keperkasaan. Maka hendaklah selalu ia dalam keadaan lapar, berhajat kepada Tuhannya, melihat keha- jatan itu dengan perasaan. Dan karena itulah, ketika diserahkan dunia dan perbendaharaannya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم ., lalu beliau menjawab: 'Ti­dak, tetapi aku akan lapar sehari dan kenyang sehari. Maka upabila aku lapar, niscaya aku sabar dan merendahkan diri. Dan apabila aku ke­nyang, niscaya aku bersyukur". (1).



Atau sebagaimana dikatakan Nabi صلى الله عليه وسلم . pada hadits-hadits lain. Maka perut dan kemaluan itu salah satu dari pintu neraka. Dan asalnya itu kenyang. Hina dan pecah nafsu itu salah satu dari pintu sorga. Dan asalnya itu lapar. Barangsiapa menguncikan salah satu dari pintu neraka, maka sesungguhnya ia membuka salah satu dari pintu sorga dengan mu­dah. Karena keduanya itu berlawanan, seperti masyrik (tempat terbit matahari) dan magrib (tempat terbenam matahari). Dekat kepada salah satu daripada keduanya, adalah jauh dari yang lain. Faedah Keempat: bahwa ia tidak melupakan percobaan dan azab Allah. Dan tidak melupakan orang-orang yang mendapat percobaan. Sesungguh­nya orang yang kenyang itu, lupa kepada orang yang lapar dan lupa ke­pada lapar. Hamba Allah yang cerdik itu, tiada melihat akan percobaan pada orang lain, melainkan ia teringat akan percobaan akhirat. Maka ia teringat dari kehausannya, akan kehausan makhluk dilapangan kiamat. Ia teringat dari laparnya akan laparnya p.enduduk neraka. Sehingga sesung­guhnya mereka itu lapar, lalu memakan kayu berduri dan pohon zaqum (nama pohon yang sangat pahit buahnya). Dan mereka minum air yang sangat dingin dan logam hancuran. Maka tiada selayaknyalah bahwa lenyap dari seorang hamba Allah, akan azab dan kepedihan akhirat. Karena itu­lah yang menggerakkan takut. Maka orang yang tidak dalam kehinaan, penyakitan, kekurangan dan percobaan, niscaya ia lupa akan azab akhi­rat. Dan tidak tergambar azab itu pada dirinya dan tidak mengerasi pada hatinya.


Maka selayaknyalah seorang hamba Allah itu berada dalam kekasaran per­cobaan (bala-bencana) atau dalam penyaksian percobaan.. Dan yang pa­ling utama dari percobaan yang dideritanya ialah: lapar karena padanya ba­nyak faedahnya selain daripada mengingati azab akhirat. Inilah salah satu sebab yang menghendaki ketentuan percobaan itu kepa­da nabi-nabi, wali-wali dan orang-orang yang lebih mulia dari kita, lalu yang lebih mulia^agi. Karena itulah ditanyakan kepada nabi Yusuf a.s.: "Mengapa engkaii lapar, sedang dalam kedua tanganmu perbendaharaan bumi?". Nabi Yusuf a.s. menjawab: "Aku takut bahwa aku kenyang. Nanti aku lupa kepada orang lapar".


(l). Diriwayatkan Ahmad dan At-Tirmidzi dan lain-lain dari hadits Abi Amanah.
1115

Maka teringat kepada orang-orang lapar dan orang-orang yang memerlu- kan, adalah salah satu faedah lapar. Maka yang demikian itu membawa kepada rahmat, memberi makanan dan kasih sayang kepada makhluk Allah 'Azza wa Jalla. Dan orang kenyang itu, lupa akan penderitaan orang lapar.


Faedah Kelima: yaitu faedah yang terbesar, ialah: menghancurkan seluruh nafsu syahwat kepada perbuatan ma'siat dan menguasai nafsu yang menyuruh kepada perbuatan jahat. Karena sumber seluruh perbuatan ma'siat, ialah nafsu-syahwat dan tenaga. Dan unsur tenaga dan nafsu- syahwat - sudah pasti - ialah makanan. Mengurangi makanan itu mele- mahkan seluruh nafsu-syahwat dan tenaga.


Sesungguhnya seluruh kebahagiaan itu, terletak pada seseorang yang da­pat menguasai dirinya. Dan kesengsaraan itu pada orang yang dikuasai oleh dirinya. Sebagaimana anda tidak dapat menguasai binatang yang melawan, selain dengan lapar yang melemahkannya. Maka apabila ia ke­nyang, niscaya ia kuat, lari memencilkan diri dan melawan. Maka begitu- lah nafsu, sebagaimana ditanyakan kepada sebahagian mereka: "Apa hal anda serta Ianjutnya usia anda, tiada yang mengurus badan anda dan su­dah rusak?".Orang itu menjawab: "Karena badan itu lekas raj in dan keji melupakan ni'mat.

Aku takut bahwa ia; tiada mematuhi aku, lalu aku dibawanya terperosok. Maka aku lebih suka membawanya kepada kesengsaraan, daripada diba­wanya aku kepada kekejian.

Dzunnun Al-Misri berkata: "Kalau aku kenyang, maka aku berbuat ma'­siat atau bercita-cita kepada perbuatan ma'siat".

A'isyah r.a. berkata: "Bid'ah pertama yang terjadi sesudah Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . ialah kenyang. Bahwa orang banyak, manakala perut mereka telah kenyang, niscaya nafsu mereka tidak tertahan kepada dunia ini". Ini tidaklah satu faedah saja. Akan tetapi, dia adalah gudang segala fae­dah.

Karena itulah dikatakan: lapar itu salah satu dari gudang-gudang Allah Ta'ala. Dan sekurang-kurang yang tertolak dengan lapar, ialah naf­su-syahwat kemaluan dan keinginan berkata-kata. Sesungguhnya orang yang lapar itu, tidaklah ia tergerak kepada keinginan berkata-kata yang berlebihan. Maka terlepaslah ia dari bahaya lidah, seperti: upat, kata ke­ji, dusta, lalat merah dan lain-lain. Semua itu dapat dicegah oleh lapar. Apabila kenyang, niscaya memerlukan kepada kata-kata yang lucu. Maka tidak mustahil, lalu ia berbuat lucu dengan kehormatan manusia lain. Orang tidak meringkuk dalam neraka diatas hidungnya, selain oleh per­buatan lidahnya.

1116

Adapun nafsu-syahwat kemaluan, maka tidaklah tersembunyi tipuannya. Dan lapar itu akan mencukupkan (tidak membangkitkan) kejahatannya. Apabila orang kenyang, niscaya ia tidak lagi menguasai kemaluannya. Dan kalau dicegah oleh taqwanya, maka ia tidak menguasai lagi matanya. Maka matanya berzina, sebagaimana kemaluannya berzina. Kalau ia menguasai matanya dengan memincingkan mata, maka ia tiada menguasai pikirannya. Lalu tergurislah ia pikiran-pikiran hina dan bisikan jiwa de­ngan sebab-sebab nafsu syahwat dan apa-apa yang mengganggu munajahnya. Kadang-kadang yang demikian itu datang, ketika ia sedang shalat. Sesungguhnya kami sebutkan bahaya lidah dan kemaluan itu sebagai contoh.

Kalau bukan demikian, maka semua maksiat anggota badan yang tujuh itu, sebabnya adalah kekuatan yang diperoleh dengan kekenyangan.

Seo­rang ahli hikmah berkata: "Setiap murid yang sabar diatas kebijaksanaan, lalu bersabar dengan roti saja selama setahun, dimana ia tidak mencampurkan sesuatu dari keinginannya dan ia makan setengah perut, nis­caya diangkat oleh Allah daripadanya perbelanjaan wanita" (1).


Faedah-keenam: menolak tidur dan berkekalan berjaga malam (tidak atau kurang tidur). Sesungguhnya orang yang kenyang, akan minum ba­nyak. Orang yang banyak minumnya, niscaya banyak tidurnya. Dan ka­rena itulah, sebahagian syaikh (guru) berkata ketika datang makanan: "Hai semua para murid! Jangan kamu makan banyak, lalu kamu minum banyak, maka kamu akan tidur banyak. Lalu kamu merugi banyak". Telah sepakat pendapat tujuh puluh orang shiddiq, bahwa banyak tidur itu, dari banyak minum. Dan pada banyak tidur itu menyia-nyiakan umur, Iuput shalat tahajjud, dungu tabi'at dan kesat hati. Dan umur itu mutiara yang paling berharga. Itulah modal seorang hamba Allah. Pada nyalah ia berniaga. Dan tidur itu mati. Maka membanyakkannya itu, me- ngurangkan umur. Kemudian, keutamaan tahajjud itu tidaklah tersembunyi. Dan dengan tidur, hilanglah keutamaan tahajjud itu. Manakala telah mengeras tidur, maka kalau pun ia mengerjakan shalat tahajjud, niscaya ia tidak memperoleh kemanisan ibadah. Kemudian, orang membujang apabila tidur dalam kekenyangan, niscaya bermimpi (ihtilam).


Dan yang demikian itu, mencegah pula ia dari shalat tahajjud. Dan ia memerlukan kepada mandi. Adakalanya dengan air dingin, lalu ia merasa tidak enak. Atau ia memerlukan kepada sumur air panas. Dan kadang-kadang ia tidak sanggup kepada sumur itu, disebabkan malam. Lalu hilanglah shalat witir, jikalau ia kemudiankan kepada shalat tahaj­jud. Kemudian ia memerlukan kepada pembayaran sumur air panas.

(1). Maksudnya: ia tidak perlu mengeluarkan perbelanjaan untuk isteri, karena ia tidak ber- isteri. Hal ini suya dilihat secara kritis dan suasana pemikiran yang meliputi pendapat tersebut.   
Dan kita dapat memahami perihal apa yang dipaparkan tentang kenyang dan lapar itu, karena persoalannya banyak menyangkut dengan kaum shufi, para wali dan manusia- manusia istimewa lainnya. Dan pahamilah yang demikian itu secara kritis dan penuh pengertian (Peny.)
1117

Kadang-kadang terjatuh pandangan matanya kepada aurat orang pada memasuki sumur air panas itu. Maka disitu pun banyak bahaya yang te­lah kami sebutkan dahulu pada "KITAB BERSUCI". Dan semua itu adalah akibat kekenyangan.


Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Bermimpi (ihtilam) itu siksaan". Ia mengatakan demikian, karena mimpi itu mencegah banyak ibadah, di­sebabkan sukarnya mandi dalam segala hal.

Maka tidur itu sumber bahaya. Kenyang itu menarik sumber tersebut dan lapar yang memotongnya.


Faedah Ketujuh: memudahkan kerajinan kepada ibadah. Sesungguhnya makan itu mencegah daripada banyaknya ibadah. Karena memerlukan kepada waktu yang dipergunakan untuk makan. Kadang-kadang memer­lukan kepada waktu membeli makanan dan memasaknya. Kemudian, memerlukan kepada mencuci tangan dan membersihkan gigi. Kemudian banyak pula pulang-perginya ketempat buang air (untuk kencing) karena banyak minumnya. Dan waktu yang dipergunakan kepada ini semua, ji­kalau dipergunakan untuk dzikir, munajah dan ibadah-ibadah lain, nisca­ya banyaklah untungnya.


As-Sirri As-Saqati berkata: "Aku melihat syair kepunyaan Ali bin Ibra­him Al-Jurjani, yang diambilnya tanpa diaduk dengan air. Lalu aku ber­tanya: "Apakah yang mendorong anda kepada yang seperti ini?" Lalu ia menjawab: "Sesungguhnya aku hitung diantara menguyah kepada mengambil tepung tanpa diaduk dengan air itu tujuhpuluh kali membaca tasbih. Aku tiada mengunyah roti semenjak empatpuluh tahun yang lalu".


Lihatlah bagaimana ia sayang kepada waktunya dan tidak disia-siakannya waktu itu pada menguyah roti. Setiap tarikan nafas dari umur itu adalah mutiara yang berharga, yang tidak ternilai. Maka selayaknyalah meng'ambil dengan sempurna waktu itu, yang merupakan suatu simpanan yang kekal pada hari akhirat, yang tiada berkesudahan. Caranya, ialah: dengan mempergunakannya berdzikir kepada Allah dan menta'atiNya. Diantara yang sukar diperoleh dengan banyak makan, ialah tahan lama berwudlu' (dalam keadaan tiada hilang air sembahyang) dan mulazamah (tidak berpisah) dengan masjid. Karena ia memerlukan keluar dari mas- jid lantaran banyak minum air dan membuangnya. Diantara yang sukar juga dengan banyak makan, ialah: puasa. Sesung­guhnya puasa itu mudah bagi orang yang membiasakan lapar. Maka pua­sa, berterusan i'tikaf, berterusan ada wudlu' dan menyerahkan kepada ibadah semua waktu yang dipergunakan untuk makan hal-hal yang me- nyangkut dengan makan, adalah keuntungan yang sangat banyak. Keun- tungan itu dipandang leceh oleh orang-orang yang lalai, yang tidak me­ngetahui harga Agama. Tetapi mereka rela dengan kehidupan duniawi dan merasa tenteram dengan kehidupan itu.

1118

يعلمون ظاهرا من الحياة الدنيا وهم عن الآخرة هم غافلون
Artinya: "Mereka mengetahui (perkara) yang dzahir dari kehidupan du­nia ini dan mengenai hari akhirat, mereka lalaikan". - Ar-Rum, 7.


Abu- Sulaiman Ad-Darani telah mengisyaratkan enam bahaya kenyang.

Ia berkata: "Siapa yang kenyang, niscaya masuklah kepadanya enam ba­haya:


1.Hilang kemanisan munajah,
2.Sukar memelihara hikmah,
3.tidak mempunyai belas-kasihan kepada manusia, karena apabila ia telah ke­nyang, niscaya disangkanya semua orang kenyang,
4.Berat melakukan iba­dah,
5.Bertambah nafsu-syahwat
6.Kaum muslimin yang lain berputar keliling masjid dan orang-orang kenyang itu berputar keliling kakus".


Faedah Kedelapan: dari sedikitnya makan, ia memperoleh faedah badan sehat dan tertolaknya semua penyakit. Sesungguhnya, sebabnya penyakit itu karena banyak makan dan hasil sisa campuran makanan dalam perut besar dan urat-urat. Kemudian, penyakit itu mencegah ibadah dan mengganggu ketenteraman hati. Mencegah berdzikir dan berpikir, menyempitkan kehidupan, memerlukan kepada membetik, membekam, obat dan dokter. Semua itu memerlukan kepada perongkosan dan perbe­lanjaan, yang tidak terlepas manusia daripadanya, sesudah payah dengan bermacam-macam perbuatan maksiat dan menuruti nafsu-syahwat. Dan dengan lapar, semua hai itu dapat tercegah.


Menurut sahibul-hikayah, Khalifah Harun Ar-Rasyid mengumpulkan empat orang tabib: India, Rumawi, Irak dan Suadil-Irak. Khalifah bersabda: "Hendaklah masing-masing saudara menerangkan obat yang tak ada pe­nyakit padanya!".
Lalu tabib India menjawab: "Obat yang tak ada penyakit padanya, ialah: hulailij hitam".
Dan tabib Irak menjawab: "Yaitu, biji batang rasyad yang putih".
Lalu menjawab tabib Rumawi: "Menurut pendapatku, ialah: air panas". Kemudian, menjawab tabib Suadil-Irak, yang terpintar diantara semua mereka: "Hulailij itu melipatkan perut besar. Dan ini penyakit. Biji ba­tang rasyad itu menjauhkan perut besar dari tempatnya. Dan ini penya­kit. Dan air panas itu melembutkan perut besar. Dan ini penyakit". Lalu mereka bertanya: "Jadi, apa menurut pendapat anda?'. Maka tabib Suadi Mrak itu menjawab: "Menurut aku, obat yang tak ada penyakit padanya, ialah: tidak engkau makan, sebelum engkau mengingininya dan engkau mengangkatkan tangan sedang engkau masih ingin kepada makanan itu".Lalu semuanya menjawab: "Benar engkau!".


1119


Diterangkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم . kepada sebahagian failasuf dari tabib-ta­bib ahlil-kitab (Yahudi dan Nasrani) yang maksudnya: "Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafas", maka failasuf itu sangat ta'jub dan berkata: "Belum pernah saya mendengar perkataan tentang sedikit makanan, yang lebih berhikmah dari ini. Be­nar-benar itu suatu perkataan yang mengandung hikmah". Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Perut kenyang itu asal penyakit dan menjaganya itu asal obat. Biasakamah tiap-tiap tubuh apa yang dibiasakannya". (1). Berat dugaan saya, akan keta'juban tabib tadi dari hadits ini, tidak dari hadits diatas tadi.


Ali bin Salim Al-Bashari berkata: "Siapa yang makan roti gandum saja dengan adab, niscaya ia tidak akan sakit, kecuali sakit mati".
Lalu ia ditanyakan: "Apakah adab itu?".
Ali bin Salim menjawab: "Engkau makan sesudah lapar dan engkau mengangkat tangan sebelum kenyang".

Setengah para tabib utama berkata mengenai tercelanya banyak makan: "Sesungguhnya yang lebih berguna, apa yang dimasukkan seseorang kedalam perutnya, ialah: buah delima. Dan yang lebih melarat dari apa yang dimasukkannya kedalam perutnya, ialah: garam. Karena menyedi- kitkan garam itu, adalah lebih baik daripada membanyakkan buah delima"


Pada suatu hadits tersebut: "Berpuasalah niscaya kamu sehat!". (2).

Pada puasa, lapar dan menyedikitkan makanan itu kesehatan tubuh dari penyakit-penyakit dan kesehatan hati dari penyakit melampaui batas, kesombongan dan lain-lain.



Faedah Kesembilan: ringan perbelanjaan. Siapa yang membiasakan sedi­kit makan, niscaya mencukupilah baginya kadar sedikit dari harta. Dan yang membiasakan kenyang, niscaya jadilah perutnya itu berhutang, yang terus-menerus setiap hari mengambil dengan menyerat lehernya. Lalu ia menanyakan: "Apakah yang akan engkau makan hari ini?". Maka berhajatlah ia kepada memasuki segala tempat yang bisa dimasuki. Lalu ia be­rusaha dari yang haram, maka durhakalah ia. Atau dari yang halal, ma­ka hinalah ia. Kadang-kadang ia memerlukan kepada memanjangkan mata kerakusannya kepada manusia. Dan itu adalah yang paling hina dan papa. Sedang orang mukmin itu ringan perbelanjaannya. Setengah ahli hikmat (hukama') berkata: "Sesungguhnya aku laksanakan umumnya keperluanku dengan meninggalkannya. Maka yang demikian adalah lebih menyenangkan bagi hatiku".


Yang lain berkata: "Apabila aku bermaksud berhutang pada orang lain, karena suatu keinginan atau penambahan, maka aku berhutang pada diriku (nafsuku). Lalu aku tinggalkan keinginan (nafsu-yahwat) itu. Dia- lah yang lebih baik berpiutang kepadaku".


(1). Menurut Al-Iraqi, beliau tidak menjumpai hadits itu.
(2). Ditawikan Ath-Tbabrani dari Abu Hurairah dengan sanad dla'if.
1120


Adalah Ibrahim bin Adham r.a. bertanya kepada temah-temannya ten­tang harga makanan. Lalu mendapat jawapan, bahwa makanan itu mahal. Maka ia berkata: "Murahkanlah dengan meninggalkannya!".


Sahl At-Tusturi r.a. berkata: "Orang yang banyak makan itu tercela pada tiga hai. Kalau ia termasuk ahli ibadah, maka ia mates. Kalau ia pengusaha, maka ia tidak selamat dari mara-bahaya. Dan kalau ia terma­suk orang yang memperoleh sesuatu tanpa usaha, maka ia tidak insaf ke­pada Allah Ta'ala dari dirinya.


Kesimpulannya, bahwa sebab binasanya manusia, ialah rakusnya kepada dunia. Dan sebab rakusnya kepada dunia itu perut dan kemaluan. Dan sebab nafsu-syahwat kemaluan itu nafsu-keinginan perut. Dan pada me- nyedikitkan makan itu dapatlah memutuskan (menghilangkan) semua hai tersebut. Itulah pintu-pintu neraka. Dan pada menutupkannya itulah pembukaan pintu-pintu sorga, sebagaimana disabdakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم .: "Berkekalanlah (terus-meneruslah) kamu mengetuk pintu sorga dengan lapar!". (1).


Orang yang merasa cukup dengan sepotong roti tiap-tiap hari, niscaya ia merasa cukup pula pada keinginan-keinginan yang lain. Dan jadilah ia orang merdeka. Ia tidak memerlukan kepada manusia. Ia beristirahat da­ri kepayahan dan dapat menyerahkan dirinya kepada ibadah (menyembah) Allah Ta'ala dan perniagaan akhirat. Maka adalah ia termasuk dalam golongan orang-orang, yang tidak dilalaikan oleh pernia­gaan dan jual-beli daripada mengingati Allah (berdzikir). Mereka sesungguhnya tidak dilalaikan, karena mereka tidak memerlukan kepada­nya, disebabkan merasa cukup dengan apa yang ada (qana'ah). Dan orang yang memerlukan, maka sudah pasti, akan dilalaikan oleh hal-hal tersebut.


Faedah Kesepuluh: memungkinkan ia untuk memilih dan bersedekah dari makanan yang berlebih, kepada anak-anak yatim dan orang-orang mis- kin. Maka adalah ia pada hari kiamat dalam naungan sedekahnya, seba­gaimana yang tersebut pada hadits (2).


(1). Menurut Al-Iraqi* bahwa ia tiada memperoleh asalnya hadits ini. Memang kupasan me­ngenai "lapar" mi, sudah dipaparkan oleh Imam Al-Ghazali, sebagaimana pembaca su­dah menela'ahnya. Bagi penterjemah ini, berpendapat, bahwa yang tidak baik., ialah berlebih-lebihan. Tetapi hendaklah sederhana. Apalagi untuk bekerja membangun segala bidang memerlukan makanan cukup: Tidak dalam keadaan lapar. Allah s.w.t kiranya Yang Maha mengetahui. (Pent.)
(2). Dirawikan Al-Hakim dari 'Uqbah bin Amir dan telah diterangkan dahulu pada "Bab Zakat"
1121

Maka apa yang dimakannya itu, gudangnya adalah kakus. Dan apa yang disedekahkannya itu, gudangnya adalah kurnia Allah Ta'ala. Maka tiadalah bagi hamba Allah itu, daripada hartanya,,selain apa yang telah di-sedekahkannya. Maka itulah yang kekal. Atau yang dimakannya, maka lenyaplah atau yang dipakainya maka buruklah. Maka bersedekah dengan makanan yang berlebih itu lebih utama daripada memenuhkan perut dan kenyang.

Adalah Al-Hasan Al-Bashari r.a., apabila ia membaca firman Allah Ta'ala:-

Artinya: "Sesungguhnya Kami telah memberikan amanah (tanggung jawab) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi mereka enggan untuk memikulnya dan takut terhadap itu, sedang manusia mau memikulnya, sesungguhnya manusia itu amat tiada jujur dan amat bodohnya". - S. Ai-Ahzab. ayat 72.


Lalu ia menerangkan, bahwa Allah Ta'ala mem­berikan amanah itu kepada langit yang tujuh lapis, kepada jalan-jalan yang dihiasiNya dengan bintang-bintang dan pembawa-pembawa 'Arasy Agung.-

Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada langit yang tujuh itu: "Maukah engkau memikul amanah dengan apa yang didalam amanah itu?".

Lalu langit itu bertanya: "Apakah yang didalam amanah itu?".
Allah Ta'ala menjawab: "Jika engkau berbuat baik, niscaya eng­kau mendapat balasan. Dan jika engkau berbuaj jahat, niscaya engkau mendapat siksaan".
Lalu langit itu. menjawab: "Tidak!". Kemudian, Allah Ta'ala memberikan amanah itu, seperti demikian juga ke­pada bumi.
Maka bumi enggan menerimanya.
Kemudian, Allah Ta'ala memberikan amanah itu kepada bukit-bukit yang tinggi menjulang langit, keras dan sukar ditempuh.
Allah berfirman kepadanya: "Maukah engkau memikul amanah, dengan apa yang didalamnya amanah itu?".
Maka bukit- bukit itu bertanya: "Apakah yang didalam amanah itu?".
Lalu Allah Ta'ala menyebutkan balasan dan siksaan.
Maka bukit-bukit itu menjawab: "Tidak!".

Kemudian, Allah Ta'ala memberikan amanah itu kepada manusia, lalu dipikulnya. Sesungguhnya manusia itu amat tiada jujur (zalim) bagi diri­nya dan amat bodoh terhadap perintah Tuhannya. Demi Allah! Kami te­lah melihat mereka itu membeli amanah dengan hartanya. Lalu mereka mendapat beribu-ribu. Apakah yang mereka perbuat padanya? Dengan uang beribu-ribu itu mereka meluaskan rumahnya, mereka menyempitkan kuburannya, mereka menggemukkan kudanya, mereka menguruskan Agamanya dan mereka meletihkan dirinya dengan pagi dan sore, ke pin­tu sultan. Mereka datang untuk bahaya, pada hal mereka dari Allah

1122


Ta'ala dalam sehat wal'afiat. Salah seorang mereka berkata: ‘JualkanIah kepadaku tanah sekian-sekian dan akan aku tambahkan kepadamu sekian-sekian!". Ia duduk bersandar diatas kirinya. Ia makan tidak dari hartanya. Pembantu-pembantunya (khadam-khadamnya) terhina dan hartanya haram. Sehingga apabila ia tersiksa oleh berat perut dengan makanan dan menimpa dirinya oleh kepenuhan perut, lalu ia memanggil: "Hai budak! Bawalah kepadaku sesuatu yang dapat menghancurkan makananku!"

Hai orang bodoh! Apakah makananmu yang engkau hancurkan?
Sesung­guhnya Agamamu yang engkau hancurkan.
Dimana orang fakir?
Dimana perempuan janda?
Dimana orang miskin?
Dimana anak yatim yang disuruh engkau oleh Allah Ta'ala memelihara mereka?

Inilah suatu isyarat kepada faedah tersebut! Yaitu penyerahan makanan yang berlebih kepada orang fakir, supaya dengan itu, ia menyimpan pa­hala. Dan itu adalah lebih baik baginya daripada memakannya, sehingga berlipat-ganda dosanya.

Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . pernah memandang kepada se­orang laki-laki yang gemuk perutnya. Lalu beliau menunjuk kepada pe­rut orang itu dengan jarinya, seraya bersabda:

(Lau kaana haadzaa fii'ghairi haadzaa, la kaana khairan laka).
Artinya: "Jikalau ini pada lain dari ini, adalah lebih baik bagimu". Arti­nya: "Jikalau engkau dahulukan untuk akhiratmu dan engkau utamakan akan orang Iain daripadamu".


Diceriterakan dari Al-Hasan Al-Bashari r.a. yang mengatakan: "Demi Allah! Sesungguhnya aku mendapati. beberapa kaum, dimana seorang laki-laki dari mereka pada sore harinya, ada padanya makanan yang mencukupi baginya. Jikalau ia mau, niscaya dimakannya. Lalu ia berkata: "Demi Allah! Tiada akan aku jadikan semua ini untuk perutku. Teta­pi aku jadikan setengahnya bagi Allah".


Inilah sepuluh faedah lapar, yang bercabang-cabang dari tiap-tiap faedah itu, faedah-faedah yang tiada terhingga bilangannya. Dan tiada berkesu- dahan faedahnya. Maka lapaT itu gudang besar untuk faedah-faedah akhirat. Dan karena inilah, setengah ulama terdahulu (ulama salaf) ber­kata: "Lap^-itu kunci akhirat dan pintu zuhud. Dan kenyang itu kunci dunia dan pintu kegemaran". Bahkan yang demikian itu, tegas pada ha- dits-hadits yang telah kami riwayatkan.


Dengan mengetahui uraian faedah-faedah tersebut, dapatlah diketahui pengertian hadits-hadits itu dengan pengertian ilmu dan mata hati. Maka apabila anda tiada mengenal ini dan anda membenarkan keutamaan la­par, niscaya adalah anda mempunyai tingkat pengikut (muqallid) pada iman.


Allah Mahatahu dengan yang benar!

1123


PENJELASAN: jalannya latihan dalam penghancurkan nafsu-keinginan perut.


Ketahuilah, bahwa atas murid terhadap perutnya dan yang dimakannya itu, empat tugas:-


Pertama: bahwa tidak dimakannya, kecuali yang halal. Sesungguhnya iba­dah serta memakan yang haram, adalah seperti bangunan diatas ombak laut. Dan telah kami sebutkan apa yang wajib dijaga, dari tingkat-tingkat wara', pada "Kitab Halal Dan Haram".


Dan tinggallah tiga tugas lagi, yang khusus dengan makan. Yaitu: menentukan batas makanan tentang sedikit dan banyaknya, menentukan waktunya tentang lambat dan cepatnya dan menentukan jenis yang dimakan, tentang mengambil yang diingini dan meninggalkannya.


Adapun tugas pertama: tentang menyedikitkan makanan. Jalan latihan pada yang demikian, ialah: beransur-ansur. Siapa yang membiasakan makan banyak dan berpindah sekali gus kepada sedikit, niscaya tidak da­pat ditanggung oleh badannya. Ia akan lemah dan besar kesulitannya. Maka selayaknyalah ia. beransur-ansur, sedikit demi sedikit. Yang demikian itu,dengan dikuranginya sedikit demi sedikit dari makanannya yang bia- sa. Jikalau ia makan dua potong roti umpamanya dan ia bermaksud membawa dirinya kepada sepotong roti, maka dikuranginya setiap hari seperduapuluh delapan roti. Yaitu: dikuranginya sebagian dari duapuluh delapan bagian. Atau sebagian dari tigapuluh bagian roti. Maka ia akan kembali kepada sepotong roti dalam sebulan. Ia tidak akan melarat de­ngan demikian dan tidak menampak bekasnya. Jikalau ia mau, maka diperbuatnya yang demikian dengan timbangan. Dan jikalau ia mau de­ngan cara yang disaksikan oleh mata. Maka ditinggalkannya setiap hari sekedar sesuap. Dan dikuranginya yang demikian daripada yang dima­kannya kemaren.



Kemudian, mengenai ini ada empat tingkat:-

Tingkat yang paling tinggi: bahwa ia mengembalikan dirinya kepada se­kedar yang perlu, dimana ia tidak dapat kekal (hidup) tanpa yang demi­kian. Yaitu: adat kebiasaan orang-orang siddik. Yaitu: pilihan Sahl-At- Tusturi r.a. karena ia berkata: "Sesungguhnya Allah memperhambakan makhluk dengan tiga perkara: dengan hidup, akal dan kekuatan. Jikalau hamba itu takut kepada dua daripadanya, yaitu: hidup dan akal (1), niscaya ia makan dan berbuka kalau ia berpuasa. Dan ia memberatkan dirinya men­cari, jikalau ia miskin. Dan jikalau ia tidak takut kepada yang dua tadi, te- tapi ia takut kepada kekuatan (ia takut hilangnya tenaga dan kekuatan dengan kurang makan), maka At-Tusturi berkata: "Selayaknyalah ia tidak memperdulikannya, bahkan walau ia lemah sekaiipun, sehingga ia menger­jakan shalat dengan duduk. Dan ia berpendapat, bahwa shalatnya dengan duduk serta lemah badan karena lapar, adalah ia lebih utama dari pada sha­latnya dengan berdiri serta banyak makan".


(1): Maksunya, ia takut mati dan hilang pikiran, jikalau kurang sekaJi makan. (Penyalin).
1124

Ditanyakan Sahl At-Tusturi dari permulaannya dan apa yang dimakan- nya. Lalu Sahl menjawab: "Adalah makananku pada setiap tahun tiga dirham. Dengan satu dirham aku beli dibs (air manis berasal dari buah anggur atau kurma). Dengan satu dirham aku beli tepung beras. Dan de­ngan satu dirham lagi minyak samin. Aku aduk semuanya dan aku bagi sama menjadi tigaratus enampuluh butir. Aku ambil pada setiap malam sebutir, untuk makanan pagi bagiku".


Lalu ia ditanyakan: "Tentang jamnya, bagaimana anda makan?". Ia menjawab: "Dengan tiada batas dan waktu tertentu". Menurut cerita dari orang-orang yang berkhilwah (yang mengasingkan di­ri dari orang ramai), bahwa mereka kadang-kadang mengembalikan diri­nya kepada makanan sekedar sedirham.


Tingkat Kedua: bahwa ia membawa dirinya dengan latihan pada siang dan malam kepada setengah mud (satu mud = dua kati). Yaitu sepotong roti dan sesuatu, dimana empat kali daripadanya menjadi satu mann (na- ma sukatan pada masa dahulu, yang beratnya 180 mitsqal). Dan serupa, bahwa ada ini sekadar sepertiga perut pada kebanyakan orang, sebagai­mana disebut oleh Nabi صلى الله عليه وسلم . Yaitu lebih sedikit (diatas) beberapa suap kecil. Karena kata-kata ini pada jama' (plural) untuk jama' qillah (jum-- lah sedikit). Maka yaitu, untuk kurang dari sepuluh. Adalah yang demikian itu kebiasaan Umar r.a. Karena ia makan tujuh atau sembilan suap.


Tingkat Ketiga: bahwa ia membawa dirinya kepada sekedar satu mud. Ya­itu: dua setengah potong roti. Dan ini melebihi dari sepertiga perut pada kebanyakan orang. Hampir berkesudahan kepada dua pertiga perut. Dan tinggallah sepertiga untuk minuman. Dan tiada tinggal sedikit pun untuk dzikir. Dan pada sebahagian kata-kata hadits, ialah sepertiga untuk dzi­kir, sebagai ganti perkataannya untuk bernafas.


Tingkat Keempat: bahwa ia riienambahkan dari satu mud kepada satu mann. Dan menyerupailah bahwa dibalik satu mann itu berlebih-lebihan, yang menyalahi firman Allah Ta'ala:
ولا تسرفوا
(Wa laa tusrifuu).
Artinya: "Janganlah kamu berlebih-lebihan!". - Al-A'araf, 31. Ya'ni: pa da hak kebanya kan orang. Sesungguhnya kadar keperluan kepada ma­kanan itu, berbeda dengan umur, orang dan pekerjaan yang dikerjakan- nya.


1125

Disini ada jalan kelima, yang tak ada kadar padanya. Akan tetapi, dia itu tempat kesalahan. Yaitu: bahwa ia makan apabila sudah benar lapar. Dan kemudian, ia menggenggam tangannya, walaupun ia masih ingin be­nar. Akan tetapi, yang kebanyakan, bahwa orang yang tiada menentukan untuk dirinya sepotong atau dua potong roti, maka tiada terang baginya, batas lapar yang benar dan yang demikian itu meragukan kepadanya, de­ngan keinginan yang bohong. Dan telah disebutkan bagi lapar yang be­nar itu, tanda-tanda. Salah satu daripadanya, ialah: nafsu makan itu ti­dak meminta lauk-pauk. Tetapi ia makan roti saja, dengan penuh ke­inginan. Roti apapun adanya. Maka manakala nafsu itu, meminta roti tertentu atau meminta dengan lauk-pauk, maka tidaklah yang demikian itu lapar yang sebenarnya.


Ada yang mengatakan, bahwa diantara tanda lapar yang sebenarnya itu, ialah: bahwa ia meludah, lalu lalat tidak jatuh diatas ludahnya. Artinya: tak ada pada ludah itu yang berminyak dan berlemak. Maka yang demi­kian itu menunjukkan, kepada kosongnya perut.


Dan mengetahui yang demikian itu sulit. Yang betul bagi seorang murid, ialah: bahwa ia menentukan makanan bagi dirinya, sekadar yang tidak melemahkannya dari ibadah, yang ada di depannya. Maka apabila ia sampai kepadanya, niscaya ia berhenti, walaupun keinginannya masih ada.


Kesimpulannya, maka penentuan kadar makanan itu tidak mungkin. Ka­rena ia berbeda menurut keadaan dan orang. Benar, ada makanan segolongan sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم . itu segantang gandum pada tiap-tiap Jum'at (seminggu), Maka apabila mereka makan tamar (kurma kering), lalu me­reka makan sebanyak satu gantang setengah. Satu gantang gandum itu empat mud. Maka setiap hari itu, mendekati setengah mud. Dan itulah apa yang telah kami sebutkan, bahwa setengah mud itu kadar sepertiga perut. Dan diperlukan pada tamar, kepada tambahan, karena dikeluar- kan biji daripadanya.


Adalah Abu Dzar r.a. berkata: "Makananku pada tiap-tiap Jum'at (minggu) itu satu sha' syair, pada masa Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . Demi Allah! Aku tiada menambahkan sedikit pun daripadanya, sehingga aku bertemu dengan beliau. Aku mendengar beliau bersabda:
أقربكم مني مجلسا يوم القيامة وأحبكم إلي من مات على ما هو عليه اليوم
(Aqrabukum minnii majlisan yaumal-qiaamati wa ahabbukum ilayaa, man maata 'alaa maa huwa 'alaihil-yaum).

1126

Artinya: "Yang paling dekat tempatnya kepadaku pada hari kiamat dian­tara kamu dan yang paling aku kasihi, ialah siapa yang meninggal, menurut apa ia padanya, hari ini". (1).


Abu Dzar r.a. berkata tentang penantangannya terhadap sebahagian sa- habat: "Kamu telah mengubah sunnah. Tepung syair diayak untukmu, pa- dahal dahulu tidak diayak. Kamu membuat roti dari tepung halus. Kamu kumpulkan dua macam lauk-pauk. Kepadamu dihidangkan bermacam-ma- cam warn a makanan. Pada pagi hari, salah seorang kamu memakai semacam pakaian dan pada sorenya macam yang lain. Dan tidak adalah kamu de­mikian, pada masa Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . dahulu".

Adalah makanan para sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم . yang tinggal di shuffah (tem- pat berteduh dekat masjid Nabi صلى الله عليه وسلم .) itu, satu mud tamar untuk dua orang tiap-tiap hari.


Satu mud itu satu sepertiga kati. Dan dibuang bijinya. Al-Hasan Al-Bashari r.a. berkata: "Orang mukmin itu seperti kambing kecil. Mencukupi baginya segenggam tamar buruk, sekepal tepung syair dan seteguk air. Dan orang munafik itu seperti binatang buas yang ga- nas, menelan banyak dan menelan suapnya. Ia tidak melipatkan perut­nya (mengurangi makanannya) untuk tetangganya. Dan ia tidak mengu- tamakan temannya dengan kelebihan makanannya. Mereka hadapkan ke lebihan-kelebihan itu dihadapan kamu".

Sahl At-Tusturi berkata: "Jikalau dunia itu darah mentah, niscaya ma­kanan orang mukmin halal daripadanya. Karena makanan orang mukmin itu ketika terpaksa, adalah sekedar kuat berdiri saja. Tugas Kedua: mengenai waktu makan dan kadar perlambatan makan. Mengenai hal ini juga empat tingkat:-

Tingkat Tertinggi: bahwa ia menahan lapar tiga hari dan lebih dari tiga hari. Diantara murid-murid, ada yang mengembalikan latihan itu kepada tahan lapar. Tidak kepada kadarnya makan. Sehingga sebahagian mereka sampai tigapuluh hari dan empat puluh hari. Dan sampai kepada yang 'demikian, segolongan ulama yang banyak bilangannya. Diantara mereka itu, ialah: Muhammad bin 'Amr Al-Oarni, Abdurrahman bin Ibrahim Duhaim, Ibrahim At-Tamimi, Hajjaj bin Furafishah, Hafash Al-'Abid Al-Mushaishi, Al-Muslim bin Sa'id, Zuhair, Sulaiman Al-Khawwash, Sahl bin Abdullah At-Tusturi dan Ibrahim bin Ahmad AI-Khaw-wash. Adalah Abubakar Ash-Shiddq r.a. menahan lapar enam hari. Dan Ab­dullah bin Az-Zubair menahan lapar tujuh hari. Dan Abdul-Jauza' teman Ibnu Abbas, menahan lapar tujuh hari.


Diriwayatkan, bahwa Ats-Tsauri dan Ibrahim bin Adaham menahan lapar tiga hari-tiga hari. Semua itu mereka meminta tolong dengan lapar, kepada jalan akhirat.


(2). Dirawikan Ahmad dari Abu Dzar dan ini hadits terputus sanadnya.
1127


Sebahagian ulama berkata*. "Siapa yang menahan dari lapar empat puluh  hari karena Allah, niscaya menampaklah baginya kekuasaan dari alam malakut. Artinya: terbuka dengan sebahagian rahasia-rahasia ketuhanan.


Diceriterakan, bahwa sebahagian ahli golongan ini (golongan kaum shufi), lewat ditempat seorang pendeta Nasrani. Lalu ia bertukar-pikiran dengan pendeta itu mengenai keadaannya. Dan ia mengharap benar un­tuk mengislamkan pendeta tersebut dan meninggalkan tipuan yang men­jadi pegangannya. Lalu ahli shufi itu berbicara banyak dengan pendeta tadi dalam hal tersebut, sehingga pendeta itu berkata kepadanya: "Bahwa Isa Al-Masih menahan lapar empatpuluh hari. Dan yang demi­kian adalah mu'jizat, yang tak terdapat, kecuali bagi nabi atau orang sid diq (orang benar)".


Lalu orang shufi tadi menjawab: "Jikalau aku menahan lapar limapuluh hari, apakah anda akan meninggalkan agama anda dan anda bersedia masuk Islam? Dan anda tahu bahwa Islam itu benar, sedang anda berada diatas agama batil?". Pendeta itu menjawab: "Ya, baik!".
Maka orang shufi tadi, terus-menerus duduk disitu, dimana dilihat oleh pendeta tadi. Sehingga ia sudah menahan lapar limapuluh hari lamanya. Kemudian, orang shufi tersebut berkata: "Aku ingin menambahkan pula untukmu".
Lalu orang shufi itu menahan lapar lagi, sampai cukup enampuluh hari. Maka amat menakjubkan pendeta tersebut, seraya ia berkata: "Aku tiada menyangka sama sekali, bahwa ada orang yang melampaui Al- Masih". Maka adalah yang demikian itu, menjadi sebab keislamannya. Dan inilah tingkat tinggi. Sedikitlah orang yang sampai ketingkat itu, ke­cuali orang yang terbuka hijab (dinding), yang terbawa kepadanya, yang sibuk dengan musyahadah, memutuskan dia dari tabi'at dan adat-kebiasaannya. Ia menyempurnakan dirinya pada kelazatan itu dan melupakannya kelaparan dan keperluannya.


Tingkat Kedua: bahwa ia menahan lapar, dua sampai tiga hari. Dan yang demikian, tidaklah keluar dari kebiasaan. Tetapi itu hal yang dekat, yang mungkin sampai kepadanya, dengan kesungguhan dan mujahadah.


Tingkat Ketiga: yaitu yang paling rendah, dimana ia memendekkan, pada sehari semalam, dengan sekali makan. Inilah yang paling sedikit! Dan yang melampaui demikian, itu pemborosan dan berkekalan kenyang. Sehingga ia tidak mempunyai keadaan lapar. Dan itulah perbuatan orang-orang pemboros. Dan itu jauh dari sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم .


Diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri r.a., bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم . apabila makan siang, lalu beliau tiada makan malam. Dan apabila makan malam, Ialu beliau tiada makan siang. (1).

Adalah ulama salaf (ulama terdahulu) makan pada tiap-tiap hari sekali. (1).

Menurut Al-Iraqi, ia tidak pernah menemui hadits ini.
1128

Dan Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda kepada 'A'isyah r.a: "Awaslah daripada pem- borosan! Sesungguhnya dua kali makan sehari itu termasuk pemborosan. Sekali makan dalam tiap-tiap dua hari itu kikir. Dan sekali makan pada tiap-tiap hari itu sedang diantara yang demikian. Dan itu terpuji pada Kitab Allah 'Azza wa Jalla". (1).

Siapa yang memendekkan sehari sekali makan saja, maka disunatkan ia makan pada waktu sahur, sebelum terbit fajar. Maka makanannya itu adalah sesudah shalat tahajjud dan sebelum Shubuh. Maka ia berhasil la­par siang untuk puasa, lapar malam untuk berdiri shalat, kesunyian hati untuk kekosongan perut, halusnya pikiran, terkumpulnya cita-cita dan tenteramnya jiwa kepada yang diketahui. Maka tidaklah mendesakkan- nya sebelum waktunya.


Pada hadits yang dirawikan 'Ashim bin Kulaib dari ayahnya, dari Abi Hurairah, dimana Abi Hurairah berkata: "Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . tiada sekali- kali berdiri (untuk shalat) sebagaimana berdirinya kamu ini. Dan jikalau ada beliau berdiri, niscaya beliau berdiri, sehingga bengkaklah kedua ta- pak kakinya. Dan beliau tiada sekali-kali menyambung sebagaimana pe- nyambunganmu ini, selain beliau menta'khirkan (melambatkan) berbuka sampai kepada sahur". (2).


Pada hadits 'A'isyah r.a., dimana 'A'isyah berkata: "Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم . menyambung sampai kepada sahur". (3).


Kalau ada hati orang yang berpuasa itu sesudah maghrib berpaling kepa­da makanan dan yang demikian itu, mengganggunya dari kehadiran hati pada shalat tahajjud, maka yang lebih utama, ia membagikan makanan­nya dua bahagian. Kalau ada dua potong roti-umpamanya-niscaya dima­kannya sepotong ketika berbuka dan sepotong lagi ketika sahur. Supaya tenteram jiwanya dan ringan badannya ketika shalat tahajjud. Dan tidak bersangatan laparnya disiang hari, karena memakan sahur. Maka ia mendapat pertolongan dengan roti pertama untuk shalat tahajjud dan de­ngan roti kedua Untuk puasa. Dan siapa yang berpuasa sehari dan berbu- Ica sehari, maka tiada mengapa ia makan tiap-tiap hari berbukanya (hari ia tiada berpuasa) pada waktu dhohor. Dan hari puasanya, ia makan waktu sahur.


Jalan-jalan ini adalah mengenai waktu-waktu makan, berjauhan dan ber dekatan makan itu.



Tugas Ketiga: tentang macam makanan dan meninggalkan lauk-pauk. Makanan yang tertinggi, ialah: tepung gandum. Kalau diayak, maka ada­lah terlalu mewah.

(1). Dirawikan Al-Baihaqi dan katanya, isnadnya lemah.
(2)-      Dirawikan An-Nasa-i dan isnadnya baik.
(3). Menurut Al-Iraqi, beliau tiada menjumpainya dari perbuatan Nabi صلى الله عليه وسلم . Akan tetapi, dari sabdanya, yang artinya: "Siapapun diantara kamu yang mau menyambung, maka sambunglab, sampai kepada waktu sahur", dirawikan Al-Bukhari dari Abu Sa'id.
1129


Makanan yang sedang: ialah syair yang sudah diayak. Dan makanan yang paling rendah, ialah: syair yang tidak diayak. Lauk-pauk yang tertinggi, ialah: daging dan manisan. Yang terendah, ia­lah: garam dan cuka. Dan yang sedang, ialah: makanan yang bercampur dengan minyak, tanpa daging.


Kebiasaan orang-orang yang berjalan kejalan akhirat, ialah: mencegah terus-menerus dari lauk-pauk. Bahkan mencegah pula dari segala nafsu- keinginan. Sesungguhnya setiap yang enak, yang diingini oleh manusia lalu dimakannya; niscaya yang demikian, menghendaki akan kesombong- an pada dirinya, kekesatan pada hatinya dan menjinakkannya dengan kelazatan dunia. Sehingga ia suka kepada kelazatan dunia dan benci kepa­da mati dan menemui Allah Ta'ala. Jadilah dunia itu sorga padanya dan mati itu penjara baginya. Dan apabila ia mencegah dirinya dari keingin­an-keinginan dunia, ia menyempitkannya dan ia haramkan kelazatannya, niscaya jadilah dunia itu penjara baginya dan menyempitkan kepadanya. Maka dirinya ingin terlepas dari dunia. Maka matilah yang melepaskan- nya.


Kepada itulah diisyaratkan dengan perkataan Yahya bin Ma'az, dimana ia berkata: "Wahai para orang-orang siddiq! Laparkanlah dirimu untuk pesta sorga firdus! Sesungguhnya keinginan kepada makanan itu 'ala ka­dar melaparkan jiwa".


Maka semua yang telah kami sebutkan dari bahaya kekenyangan, sesung­guhnya berlaku pada semua nafsu-keinginan dan memperoleh keenakan. Maka tiada kami perpanjangkan lagi dengan mengulanginya. Maka kare­na itu, besarlah pahala pada meninggalkan nafsu-syahwat dari segala yang mubah (yang diperbolahkan). Dan besarlah bahaya pada mengambilkannya. Sehingga Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Yang jahat dari umatku, ialah mereka yang memakan tepung gandum". (1). Ini tidaklah diharamkan. Bahkan itu diperbolehkan (mubah), dengan pengertian, bahwa siapa yang memakannya sekali atau dua kali, niscaya ia tidak berbuat maksiat. Dan siapa yang terus-menerus pula pada yang demikian, ia tidak berbuat maksiat dengan memakannya. Tetapi nafsunya terdidik dengan kenikmatan, lalu ia jinak dengan dunia dan menyukai kesenangan. Dan berusaha mencarinya. Maka yang demikian itu membawanya kepada perbuatan maksiat. Maka mereka menjadi ummat yang jahat. Karena tepung gandum itu membawa mereka kepada mengerjakan pekerjaan-pekerjaan. Dan pekerjaan itu maksiat.


(1). Kata Al-Iraqi, ia belum pemah menjumpai hadits ini.
1130

Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:-


(Syiraaru ummati'lladziina ghadzau bi'n-na 'imi wa nabatat 'alaihi ajsaa- amuhum wa innamaa himmatuhum al waa nuth-tha'aami wa anwaa'ul-li- baasi wa yatasyaddaquuna fil-kalaami).Artinya: "Yang jahat dari ummatku, ialah mereka yang makan dengan yang enak-enak (penuh keni'matan) dan tubuh mereka tumbuh atas ma­kanan itu. Dan cita-cita mereka ialah macam-macam warna makanan dan berbagai macam bentuk pakaian. Mereka berbicara banyak, tanpa dijaga dan hati-hati". (1).

Allah Ta'ala menurunkan vvahyu kepada Musa a.s.: "Ingatlah bahwa engkau itu menetap dikubur. Dan yang demikian itu melarang engkau dari banyak nafsu-keihginan".


Para ulama terdahulu (ulama salaf) sangat takut memakan makanan yang lazat-lazat dan mencobakan diri kepadanya. Mereka berpendapat, bahwa yang demikian itu tanda kecelakaan. Mereka melihat akan larangan Allah Ta'ala daripadanya itu, kebahagiaan yang penghabisan. Sehingga diriwayatkan, bahwa Wahab bin Manbah Al-Yamani berkata: "Bertemu dua orang malaikat pada langit keempat, lalu bertanya salah seorang da­ripada keduanya kepada yang lain: "Dari mana?". Maka yang ditanya itu menjawab: "Aku disuruh menghalau ikan dari laut, yang diingini oleh si Anu-Yahudi itu, yang kena kutukan Allah Ta'ala. Lalu yang lain ber­kata: "Aku disuruh menuangkan minyak, yang diingini oleh si Anu-yang banyak beribadah itu".


Maka inilah suatu peringatan, bahwa memudahkan sebab-sebab nafsu keinginan itu, tidaklah termasuk tanda-tanda kebajikan. Dan karena ini­lah, Umar r.a. tidak mau meminum air dingin dengan madu. Dan beliau berkata: "Nyahkanlah daripadaku perhitungannya!". Maka tiada ibadah kepada Allah Ta'ala yang lebih besar, daripada r^fenyalahi nafsu keinginan dan meninggalkan yang lazat-lazat, sebagaimana telah kami kemukakan dahulu pada "Kitab Latihan Jiwa". Diriwayatkan Nafi\ bahwa Ibnu 'Umar r.a. itu sakit. Ia ingin ikan pang- gang, lalu saya carikan dikota, maka tidak dapat. Kemudian saya peroleh, sesudah beberapa hari. Lalu saya belikan dengan harga satu sete­ngah dirham. Lalu saya goreng dan saya bawakan kepadanya atas roti. Maka berdiri dipintu seorang peminta-minta. Lalu berkata Ibnu Umar kepada budaknya (yaitu: Nafi' sendiri): "Bungkuskanlah ikan itu dengan rotinya dan berikanlah kepada peminta itu!".

(1). Dirawikan diantara Iain, oleh Al-Baihaqi. Dan dirawikan Abu Na'im dari A'isyah. Isnad­nya tidak apalah, dapat dipakai.
1131



Lalu menjawab budak (Nafi'): "Kiranya Allah membaikkan engkau! Engkau ingin akan ikan itu semenjak beberapa hari yang lalu, tetapi kami tiada mendapatinya. Waktu kami mendapatinya, lalu kami belikan dengan harga satu setengah dirham. Kami berikan saja kepadanya harganya'

Ibnu Umar berkata lagi: "Bungkuslah dan serahkanlah kepada peminta itu!".

Kemudian, budak itu (Nafi') bertanya kepada peminta itu: "Maukah engkau mengambil uang sedirham dan engkau tinggalkan ikan ini?". Peminta tadi menjawab: "Ya, boleh!".


Lalu diserahkan oleh Nafi' uang sedirham kepada peminta tersebut. Dan ikan itu diambilnya. Dan dibawanya, seraya diletakkannya dihadapan Ibnu Umar. Dan ia berkata: "Sudah aku berikan kepada paminta itu uang sedirham dan ikan aku ambil kembali".



Maka Ibnu Umar menjawab: "Bungkuslah ikan itu dan serahkanlah kepada peminta itu! Dan uang yang satu dirham itu, jangan engkau ambil daripadanya. Karena aku mendengar Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Siapapun yang ingin akan sesuatu keinginan, lalu menolak keinginannya dan mengutamakan orang lain dengan keinginan itu daripada dirinya, niscaya diampunkan oleh Allah akan dosanya". (1). Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Apabila engkau sumbat keinginan makan banyak dengan roti dan segelas air bersih, maka kebinasaanlah atas dunia dan penduduknya". (2).



Nabi صلى الله عليه وسلم . mengisyaratkan, bahwa yang dimaksud, ialah: menolak kepe- dihan lapar dan haus dan menolak kemelaratannya, tanpa bersenang-se­nang dengan keenakan duniawi.

Sampai berita kepada Umar r.a. bahwa Yazid bin Abi Sufyan makan de­ngan bermacam-macam makanan. Lalu Umar r.a. berkata kepada pembantu yazid (bekas budaknya, bernama: Yarfa): "Apabila engkau tahu, bahwa telah datang waktu makan malam, maka beri-tahukanlah kepada­ku!". Lalu pembantu Yazid itu memberi-tahukan kepada Umar r.a. Maka masuklah Umar r.a. Lalu hampirlah waktu makanan malam itu. Maka mereka membawa kepada Yasid daging yang dipotong-potong, lalu Umar r.a. memakannya bersama Yasid. Kemudian, didekatkan daging go- reng. Yasid membuka tangannya untuk mengambil daging itu. Maka dicegah oleh Umar r.a. tangan Yasid, seraya berkata: "Allah! Allah! Hai Yasid bin Abi Sufyan! Adakah makanan sesudah makanan? Demi Allah yang jiwa Umar didalam tanganNya Sesungguhnya jikalau engkau menyalahi dari sunnah mereka, niscaya mereka akan menyalahi dengan kamu dari jalan me­reka!".

(1). Diriwayatkan oleh Abusy-Syaikh Ibnu Hibban dengan isnad yang lemah sekali.
(2). Diriwayatkan Abu Mansur Ad-Dailami dari Abi Hurairah dengan isnad dla'if.
1132

Dari Yassar bin 'Umair, dimana ia berkata: "Tiada pernah sekali-kati aku mengayak tepung untuk Umar r.a. Kalau aku lakukan, maka aku durhaka kepadanya".



Diriwayatkan, bahwa 'Atbah Al-Ghallam meramas tepungnya dengan air dan mengeringkannya pada matahari, kemudian memakannya. Dan mengatakan: "Sepotong roti dan garam, sehingga tersedialah di akhirat sepotong' daging goreng dan makanan yang baik". Ia mengambil gelas, lalu diciduknya air dari kendi besar, yang ada pada siangnya dimatahari. Maka berkata babunya (bekas budak wanitanya yang sudah dimerdekakan): "Wahai 'Atbah! Jikalau engkau berikan tepungmu itu kepadaku, niscaya aku buat roti untukmu dan aku dinginkan air untukmu". Maka menjawab 'Atbah: "Hai ibu si Anu! Sudah aku usir daripadaku kesangatan lapar".



Syaqiq bin Ibrahim berkata: "Aku bertemu dengan Ibrahim bin Adham di Makkah dikampung Sauqul-lail- tempat lahirnya Nabi صلى الله عليه وسلم .sedang menangis. Ia duduk disuatu sudut jalan. Lalu aku berpaling kepadanya dan aku duduk disisinya, seraya bertanya: "Apakah tangisan ini, wahai Abu Ishak?".

Lalu ia menjawab: "Baik!".

Maka aku mengulangi menanyakannya sekali - dua kali tiga kali. Lalu ia menjawab: "Hai Syaqiq! Tutuplah aku!".

Lalu aku menjawab: "Hai saudaraku! Katakanlah apa yang engkau ke- hendaki!". Maka ia berkata kepadaku: "Nafsuku ingin sejak tigapuluh tahun yang lalu akan sikbaj (gulai yang diperbuat dari daging dan cuka). Aku cegah nafsu itu dengan segenap tenagaku. Sehingga kemaren, ada­lah aku sedang duduk dan aku sangat mengantuk. Tiba-tiba datanglah seorang anak muda. Ditangannya mangkok hijau, yang meninggi uap dan bau sikbaj daripadanya".

Syaqiq berkata: "Maka aku kumpulkan dengan cita-citaku dari hal Ibra­him bin Adham itu. Lalu pemuda tersebut mendekatinya, seraya berka- ra: "Hai Ibrahim, makanlah!".

Ibrahim bin Adham menerangkan selanjutnya: "Maka aku menjawab: "Tiada akan aku makan. Aku sudah meninggalkannya karena Allah 'Azza wa Jalla".

Lalu pemuda itu mengatakan kepadaku: "Sesungguhnya engkau telah di- beri makan oleh Allah, maka makanlah!i Maka tiada lagi bagiku jawab- an, selain aku lalu menangis".

Pemuda itu berkata lagi kepadaku: "Makanlah! Semoga Allah mencurah- kan rahmat kepadamu!".

Maka aku menjawab lagi: "Kami sudah disuruh, supaya kami tidak men- campakkan dalam perut kami, selain dari kira-kira yang kami ketahui". Pemuda itu lalu berkata pula: "Makanlah! Kiranya engkau diberi sehat dan afiat oleh Allah! Sesungguhnya aku berikan sikbaj tersebut, lalu

1133

dikatakan kepadaku: "Hai Khidlir! Pergilah dengan makanan ini dan be- rikanlah makanan ini untuk memenuhi keinginan Ibrahim bin Adham! Allah telah mencurahkan rahmat kepada keinginan nafsu Ibrahim, dari lama kesabarannya, diatas tanggungannya mencegah nafsu keinginan itu. Ketahuilah, wahai Ibrahim! Sesungguhnya aku mendengar para malaikat itu berkata: "Orang yang diberikan, lalu tidak mengambil, niscaya ia mencari, lalu tidak diberi". Maka aku berkata: "Jikalau ada seperti de­mikian, maka inilah aku dihadapan engkau, lantaran karena ikatan serta Allah Ta'ala".'



Kemudian, aku menoleh, maka tiba-tiba aku bersama pemuda lain, yang memberikan sesuatu kepada Ibrahim bin Adham, seraya berkata: "Hai Khidlir! Engkau suapkanlah!". Maka terus-meneruslah ia menyuapkan aku, sehingga aku tertidur. Waktu aku terbangun, kemanisannya itu dalam mulutku".



Syaqiq berkata: "Lalu aku berkata: "Perlihatkanlah tapak tanganmu kepadaku!". Lalu aku ambil tapak tangannya. Maka aku cium tapak tangannya, seraya aku berdo'a: "Wahai Yang Memberi makanan orang- orang yang lapar akan nafsu keinginan, apabila mereka itu benar-benar mencegahnya! Wahai Yang Mencela dalam batin akan keyakinan! Wahai Yang Menyembuhkan hati mereka dari kecintaanNya! Adakah Engkau melihat sesuatu keadaan bagi Syaqiq pada sisi Engkau?". Kemudian, aku angkat tangan Ibrahim kelangit, seraya aku berdo'a: "Menurut kadar tapak tangan ini pada sisi Engkau dan menurut kadar yang mempunyai- nya. Dan dengan kemurahan yang ia peroleh daripada Engkau, ia ber- sungguh-sungguh kepada hamba Engkau yang berhajat kelimpahan, ke- baikan dan rahmat Engkau, walaupun ia tidak berhak yang demikian". Syaqiq lalu menyambung: "Maka bangunlah Ibrahim dan berjalan, sehingga kami mendapati Baitu'llah (Ka'bah)".



Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, bahwa beliau selama empatpuluh ta- hun ingin roti dengan susu, tetapi tidak dimakannya. Dan pada suatu ha­ri, dihadiahkan orang kepadanya tamar masak, lalu ia berkata kepada te- man-temannya: "Makanlah! Aku tiada pernah merasakannya semenjak empat puluh tahun yang lalu".



Ahmad bin Abil-Hawari berkata: "Abu Sulaiman Ad-Darani ingin kepa­da roti panas dengan garam. Lalu aku bawa roti tersebut kepadanya. Maka digigitnya sekali gigit. Kemudian dicampakkannya dan terus mena- ngis, sambil berkata: "Aku tergopoh-gopoh kepada keinginanku, sesudah lama aku berusaha menjauhkannya. Alangkah celakanya aku! Aku berci- ta-cita akan tobat. Maka kurangilah dosaku!" Ahmad bin Abil-Hawari berkata: "Maka tiada aku melihat lagi ia memakan roti dengan garam, sampai ia bertemu dengan Allah Ta'ala (meninggal)". Malik bin Dlaigham berkata: "Aku Ialu di Basrah dipasar, maka aku melihat sayur-sayuran, lalu nafsuku berkata kepadaku: "Jikalaulah aku makan nanti makan sayuran ini! Lalu aku bersumpah, bahwa tiada akan aku makan sayuran selama empatpuluh malam".



1134

Malik bin Dinar bertempat di Basrah limapuluh tahun lamanya, Ia tiada memakan sekali-kali tamar masak dan tamar muda. Ia berkata: "Hai penduduk Basrah! Aku telah hidup bersamamu limapuluh tahun, tiada pernah aku makan tamar masak dan tamar muda kepunyaanmu. Maka tidaklah bertambah pada kamu apa yang kurang daripadaku. Dan tiada berkurang daripadaku, apa yang bertambah padamu". Ia berkata lagi: "Aku ceraikan dunia semenjak limapuluh tahun. Diriku ingin kepada su­su semenjak empatpuluh tahun yang lalu. Demi Allah, aku tiada mema- kannya, sehingga aku menghubungi Allah Ta'ala (meninggal)". Hammad bin Abi Hanifah berkata: "Aku datangi Daud Ath-Tha-i dan pintunya terkunci. Maka aku mendengar ia berkata: Nafsuku! Engkau ingin kepada Iobak, maka aku berikan makananmu lobak itu. Kemudian, engkau ingin tamar, maka aku bersumpah supaya tiada engkau mema- kannya selama-lamanya".



Kata Hammad seterusnya: "Lalu aku memberi salam dan aku masuk. Tiba-tiba ia sendirian".

Pada suatu hari Abu Hazim lalu dipasar. Maka ia melihat buah-buahan, lalu ingin ia akan buah-buah itu. Ia berkata kepada puteranya: "Belilah untuk kita dari buah-buahan ini, yang terpotong, lagi terlarang! Mudah- mudahan kita akan pergi kepada buah-buahan yang tiada terpotong dan tiada terlarang".

Sesudah dibeli oleh anaknya dan dibawanya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya: "Engkau telah menipuku, sehingga aku melihat dan ingin. Engkau telah mengalahkan aku, sehingga buah-buahan itu dibeli. Demi Allah! Tidak engkau akan merasakannya!". Lalu dikirimkannya buah-buahan itu kepada anak-anak yatim yang miskin. Dari Musa Al-Asyaj, dimana ia mengatakan: "Nafsuku ingin kepada ga­ram yang tidak tertumbuk halus, semenjak duapuluh tahun yang lalu". D^rri Ahmad bin Khalifah, yang berkata: "Nafsuku ingin semenjak dua­puluh tahun yang lalu, dimana ia tidak meminta padaku, selain air untuk menghilangkan hausnya. Maka aku tidak menghilangkan hausnya itu". Diriwayatkan, bahwa 'Atabah Al-Ghallam mengingini daging sudah tujuh tahun lamanya. Lalu sesudah itu ia berkata: "Aku malu pada diriku menolaknya semenjak tujuh tahun yang lalu, tahun demi tahun. Maka aku beli sepotong daging atas roti. Aku goreng dan aku tinggalkan diatas roti. Lalu aku bertemu dengan seorang anak kecil, seraya aku bertanya: "Bukankah engkau anak si Anu dan ayahmu sudah meninggal?". Anak itu menjawab: "Benar!". Maka aku berikan kepadanya daging itu".





1135

Mereka mengatakan, bahwa 'Atabah lalu menangis, seraya membaca ayat:-



(Wa yuth 'imuunath-tha'aama 'alaa hubbihi miskiinan wa ya-tiiman wa asiiraa).

Artinya: "Mereka memberikan makanan dengan kasih sayangnya kepada orang miskin, anak yatim dan orang tawanan (terpenjara)" - S. Ad- Dahr, ayat 8.



Kemudian, sesudah itu ia tidak pernah merasakannya lagi. Bertahun-tahun 'Atabah ingin kepada tamar. Maka pada suatu hari, ia membeli tamar dengan harga satu qirath (seperduapuluh dinar). Dan di- angkatnya sampai malam untuk ia makan pagi. 'Atabah berkata: "Lalu berhembuslah angin kencang, sehingga menggelapkan dunia. Maka manusia pun terkejut. Lalu 'Atabah menghadap kepada dirinya, seraya berkata: "Inilah karena keberanianku kepada engkau dan pembe- lianku tamar dengan qirath itu". Kemudian ia berkata kepada dirinya: "Aku tiada menyangka siksaan manusia, selain disebabkan dosa engkau. Atas tanggunganku, bahwa engkau tiada merasakan tamar itu". Daud Ath-Tha-i membeli sayur dengan harga setengah fals (uang temba- ga pada masa itu) dan dengan satu fals. Ia menghadap malam seluruh- nya, dengan mengatakan kepada difinya: "Celaka engkau hai Daud! Alangkah panjangnya hisab (perhitungan amal) kamu pada hari akhirat!". Kemudian, tiada ia makan sesudah itu, selain roti tiada berlauk. Pada suatu hari 'Atabah Al-Ghallam berkata kepada Abdulwahid bin Zaid: "Bahwa si Anu menyifatkan dari dirinya suatu tempat yang tiada aku kenal dari diriku". Lalu Abdulwahid menjawab: "Karena engkau memakan tamar serta roti engkau. Dan dia tidak menambahkan sesuatu diatas roti".

Maka 'Atabah menjawab: "Jikalau aku meninggalkan makan tamar, nis­caya aku kenal tempat itu?".

Lalu Abdulwahid menjawab: "Ya dan tempat yang lain dari itu lagi". 'Atabah pun lalu menangis.



Maka berkatalah sebahagian sahabat 'Atabah kepadanya: "Kiranya Allah tidak mempertangiskan mata engkau! Adakah engkau menangis diatas ta­mar?".



Lalu Abdulwahid berkata: "Biarkanlah dia! Karena dirinya sudah menge­tahui akan kebenaran cita-citanya tentang meninggalkan itu. Yaitu, apa­bila ia meninggalkan sesuatu, niscaya tidak akan diulanginya lagi". Ja'far bin Nasar berkata: "Aku disuruh oleh Junaid membeli untuknya buah tin al-waziri (nama semacam buah-buahan). Sesudah aku beli, lalu diambilnya sebuah ketika makan pagi. Diletakkannya dalam mulutnya,

1136

kemudian dicampakkannya dan terus ia menangis. Kemudian ia berkata "Bawalah!"

Lalu aku bertanya kepadanya tentang yang demikian. Maka ia menja­wab: "Dipanggil aku oleh Pemanggil dengan kata-kata: "Apakah engkau tidak malu? Telah engkau tinggalkan dari karenaJCu, kemudian engkau kembali lagi kepadanya".



Saleh Al-Marri berkata: "Aku berkata kepada 'Atha As-Salmi: "Sesung­guhnya aku dengan rasa berat membuat sesuatu untukmu. Maka janganlah engkau tolak demi kehormatanku!".

Lalu 'Atha menjawab: "Buatlah apa yang engkau kehendaki!".. Saleh menerangkan seterusnya: "Lalu aku bawa kepadanya bersama pu- teraku, minuman dari tepung yang sudah aku ramas dengan minyak samin dan air madu. Aku katakan kepadanya: "Silakan!". Sehingga di- minumnya.

Pada keesokan harinya, aku buat lagi seperti itu. Tetapi ditolaknya dan tidak diminumnya. Lalu aku maki dan mencacinya diatas sikapnya yang demikian. Dan aku mengatakan: "Subhana'llah! Engkau tolak aku atas kehormatanku". Demi ia melihat perasaanku disebabkan yang demikian, lalu ia menjawab: "Jangan menyakitkan engkau oleh sikapku ini! Sesung­guhnya aku sudah meminumnya pada kali pertama. Dan aku mencoba diriku pada kali kedua untuk meminumnya. Lalu aku tidak sanggup yang demikian. Tiap kali aku bermaksud demikian, lalu aku teringat.akan fir­man Allah Ta'ala:-

يَتَجَرَّعُهُ وَلاَ يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِن وَرَآئِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ

(Yatajarra'uhu wa laa yakaadu yusiighuhu, wa ja'tiihil-mautu min kulli makaanin wa maa huwa bi-mayyitin, wa min waraa-ihi 'adzaabun ghaliidh).

Artinya Dihirupnya sedikit dan hampir tidak dapat diteguknya dan kematian datang kepadanya dari segala penjuru, tetapi dia tidak mati dan dibelakangnya siksaan yang keras". S. Ibrahim, ayat 17. Saleh berkata: "Lalu aku menangis dan aku berkata pada diriku: "Aku berada pada suatu lembah dan engkau berada pada lembah yang lain". As-Sirri As-Saqati berkata: "Semenjak tigapuluh tahun yang lalu, nafsuku meminta padaku untuk aku rendamkan daging sembelihan dalam air manis. Tetapi aku tidak memakannya".



Abubakar Al-Jalla' berkata: "Aku kenal seorang laki-laki yang dikatakan kepadanya oleh nafsunya: "Aku bersabar karena engkau, tidak makan se­puluh hari. Berikanlah kepadaku sesudah itu, suatu keinginan yang aku ingini". Lalu laki-laki tersebut menjawab kepada nafsunya: "Aku tiada menghendaki engkau tahan lapar sepuluh hari. Tetapi tinggalkanlah nafsu keinginan itu!".



1137

Diriwayatkan, bahwa seorang 'abid (yang banyak beribadah) memanggil sebahagian temannya. Lalu 'abid tersebut mendekatkan roti kepadanya. Maka temannya itu membalik-balikan roti, untuk dipilihnya yang terbaik. Lalu 'abid itu berkata kepadanya": "Hai! Apa yang anda perbuat? Apa­kah tidak anda ketahui, bahwa dalam roti yang tidak anda sukai itu, terdapat demikian banyak hikmahnya? Dan telah bekerja padanya sekian banyak pembuatnya. Sehingga ia berputar dari awan yang membawa air dan air yang menyirami bumi, angin, bumi, binatang ternak dan anak Adam (manusia). Sehingga jadilah roti itu kepada anda. Kemudian, anda sesudah yang tersebut ini, anda membalik-balikkannya. Dan tidak merelainya".

Pada hadits, disebut, yang maksudnya: "Roti itu tidak berputar dan ter- letak dihadapan engkau, sebelum bekerja tigaratus enampuluh pembuat padanya. Yang pertama, malaikat Mikail a.s. yang menyukati air dari gudang rahmat. Kemudian para malaikat yang menghalau awan, matahari bulan, bintang-bintang, para malaikat angin dan binatang bumi. Dan yang terakhir dari mereka itu, ialah: tukang roti. Wa in ta 'udduu mi'matal-laahi laa tuhshuuhaa).Artinya: "Kalau kamu hitung nikmat Allah, niscaya tidak akan sanggup kamu menghitungnya" - S. Ibrahim, ayat 34. (1).



Sebahagian mereka mengatakan: "Aku datangi Qasim Al-Jau'i. Lalu aku tanyakan tentang zuhud. Yang manakah yang dikatakan zuhud?" Maka Qasim Al-Jau'i menjawab: "Apa saja yang engkau dengar pada­nya? Maka engkau hitung kata-kata". Lalu Qasim itu diam, Maka aku tanyakan: "Apakah yang engkau katakan lagi?" Lalu ia menjawab: "Ketahuilah, bahwa perut itu dunia hamba Allah. Maka sekadar yang dimilikinya dari perutnya itu, dimilikinya dari zuhud. Dan dengan kadar yang dimiliki oleh perutnya itu, ia dimiliki oleh dunia".



Pada suatu kali Bisyr bin Al-Hars sakit. Lalu ia datang kepada Abdur­rahman tabib, menanyakan tentang sesuatu makanan yang sesuai dengan dia. Maka menjawab tabib: "Anda menanyakan aku. Apabila aku te- rangkan kepada anda, niscaya anda tidak akan menerima dari padaku?" Bisyr bin Al-Hars menjawab: "Terangkanlah kepadaku, supaya aku de­ngar!".



Tabib menjawab: "Anda minum sakanjabin (terbuat dari cuka dan madu). Anda menghirup safarjal dan sesudah itu anda makan isfidzibaj". Lalu Bisyr bertanya: "Tahukah anda sesuatu yang lebih murah dari sa­kanjabin, yang dapat menggantikannya?" Abdurrahman tabib menjawab: "Tidak!"



1.Menurut AlIraqi beliau tak pernah menjumpai hadits ini.
1138

Lalu Bisyr menjawab: "Aku tahu".

"Apakah itu?" - tanya tabib.

Bisyr menjawab: "Al-handaba dengan cuka".

Kemudian, Bisyr bertanya lagi: "Tabukah anda sesuatu yang lebih murah

dari safarjal, yang dapat menggantikannya?".

Tabib menjawab: "Tidak!".

Bisyr menjawab: "Aku tahu".

"Apakah itu?" - tanya tabib.

Bisyr menjawab: "Al-Khurnub Asy-Syami".

Bisyr bertanya pula: "Tahukah anda sesuatu yang lebih murah dari isfi- dzibaj, yang dapat menggantikannya?" Tabib menjawab: ."Tidak!"

Bisyr menjawab: "Aku tahu, yaitu: air himmish (kacang putih) dengan minyak samin sapi dan yang serupa dengan dia".

Lalu Abdurrahman tabib berkata kepada Bisyr: "Anda lebih tahu daripa­daku, tentang ketabiban. Maka mengapakah anda bertanya kepadaku?". Dengan ini tahulah kita bahwa mereka itu, mencegah diri dari keinginan nafsu-syahwat dan dari kekenyangan dengan makanan. Mereka mencegah itu karena faedah-faedah yang telah kami sebutkan. Dan pada setengah waktu, karena mereka berada dalam keadaan tidak dibersihkan oleh yang halal. Maka mereka tidak mempermudahkan untuk dirinya, selain sekadar darurat. Dan keinginan nafsu-syahwat itu tidak termasuk baha- gian darurat. Sehingga Abu Sulaiman pernah berkata: "Garam itu suatu keinginan, karena tambahan atas roti. Dan dibalik roti itu nafsu keingin­an".

Inilah tingkat penghabisan! Orang yang tak sanggup atas yang demikian, maka selayaknyalah tidak lalai tentang dirinya dan tidak terjerumus dalam keinginan nafsu-syahwat. Maka cukuplah keborosan bagi manusia, bahwa ia makan setiap yang diingininya dan berbuat setiap yang menjadi hawa- nafsunya. Maka selayaknyalah ia tidak membiasakan memakan daging. mi r.a. berkata: "Siapa yang meninggalkan makan daging empatpuluh hari, niscaya buruklah kejadiannya. Dan siapa yang terus-menerus makan daging empatpuluh hari, niscaya kesatlah hatinya". Dan ada yang mengatakan, bahwa terus-menerus makan daging itu mem­punyai kecanduan, seperti kecanduan khamar. Bagaimana pun ia lapar dan nafsunya ingin bersetubuh, maka tiada selayaknyalah ia makan dan bersetubuh. Ia memberikan kepada nafsunya dua keinginan, maka kuatlah keinginan itu kepadanya. Kadang-kadang nafsu itu meminta makan, un­tuk raj in bersetubuh.



Disunatkan tidak tidur waktu kenyang, karena ia mengumpulkan antara dua kelalaian. Lantaran itu, maka terbiasalah ia kelesuan tubuh. Dan ke­satlah hatinya karena yang demikian. Tetapi hendaklah ia mengerjakan shalat atau duduk, lalu berdzikir kepada Allah Ta'ala. Sesungguhnya itu-

1139

lah yang lebih mendekatkan kepada syukur.



Pada hadits tersebut:-

أذيبوا طعامكم بالذكر والصلاة ولا تناموا عليه فتقسو قلوبكم

(Adziibuu tha'aamakum bidz-dzikri wash-shalaati wa laa tanaamuu 'alaihi fa taqsuu quluubukmn)Artinya: "Hancurkanlah makananmu dengan dzikir dan shalat. Dan janganlah kamu tidur atas makanan (tidur sedang kekenyangan), maka ke- satlah hatimu".- (1).



Sekurang-kurangnya yang demikian itu mengerjakan shalat ernpat raka'at atau membaca tasbih seratus kali atau membaca sejuz Al-Qur-an sesudah baru saja makan.

Adalah Sufyan Ats-Tsauri apabila kenyang pada malam hari, lalu ia hi- dupkan malam tersebut dengan ibadah. Dan apabila ia kenyang pada siang hari, niscaya disambungkannya dengan shalat dan dzikir. Ia mengatakan: "Telah kenyang budak hitam itu dan memayahkannya untuk me- layani tuannya".

Pada suatu kali Sufyan berkata: "Keledai itu kekenyangan dan menyusahkannya".

Manakala mengingini sesuatu makanan dan buah-buahan yang baik, maka selayaknyalah meninggalkan roti dan memakan buah-buahan itu, seba­gai ganti dari roti. Supaya menjadi makanan dan tidak menjadi penyedapan semata-mata. Agar tidak terkumpul bagi nafsu antara kebia­saan dan keinginan.

Sahl memandang kepada Ibnu Salim dan dalam tangannya roti dan ta­mar. Lalu Sahl berkata kepadanya: "Mulailah dengan tamar! Kalau terdapat kecukupan bagi engkau dengan tamar itu, maka baik sekali. Kalau tidak, ambillah roti sesudah itu sekedar keperluan engkau!". Manakala diperoleh makanan halus dan kasar, maka hendaklah didahulukan makanan halus. Karena tidak akan mengingini lagi makanan kasar sesudahnya. Kalau didahulukan makanan kasar, niscaya akan makan lagi makanan halus, karena kehalusannya.

Setengah mereka berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Jangan engkau makan yang diingini! Kalau engkau makan, maka jangan engkau cari. Kalau engkau cari, maka jangan engkau cintai. Dan mencari sebahagian dari bermacam-macam roti itu nafsu keinginan namanya". Abdullah bin Umar r.a. berkata: "Tiada buah-buahan yang datang kepa­da kami dari Irak yang paling kami sukai, selain dari roti". Ia meman­dang roti itu sebagai buah-buahan.



(1). Diriwayatkan Ath-Thabrani dari 'A'isyah, dengan sanad daif.
1140

Kesimpulannya, tiada jalan kepada menyianyiakan nafsu dalam keinginan-keinginan yang diperbolehkan dan menurutinya dalam setiap hal. Maka dengan kadar yang dicukupkan oleh seorang hamba Allah dari nafsu-keinginannya itu, ditakuti akan dikatakan kepadanya pada hari kiamat:-

أذهبتم طيباتكم في حياتكم الدنيا واستمتعتم بها

Adzhabtum thayyibaatikum fii hayaatikumud-dun-ya was-tam-ta'tum bihaa).

Artinya: "Kesenanganmu telah kamu habiskan dalam kehidupanmu didu­nia dan kamu telah bersukacita dengan itu". - S. Al-Ahqaf, ayat 20. Dan dengan kadar ia menentang hawa-nafsunya dan meninggalkan keinginannya itu, ia akan memperoleh kesenangan pada hari akhirat dengan keinginan-keinginannya.

Setengah ulama dari penduduk Basrah berkata: "Nafsuku bertengkar de­ngan aku, karena ingin kepada roti beras dan ikan. Lalu aku cegah kei­nginan itu. Maka kuatlah tuntutannya dan sangat beratlah perjuanganku menentangnya, selama duapuluh tahun".

Tatkala ulama tersebut tadi meninggal, lalu berkata sebahagian mereka: "Aku bermimpi dia dalam tidurku, lalu aku bertanya kepadanya: "Apa­kah yang diperbuat oleh Allah dengan engkau?". Ia menjawab: "Tiada yang lebih baik untuk aku terangkan, apa yang dipertemukan aku oleh Tuhanku dari berbagai macam nikmat dan kemuliaan. Dan adalah yang mula pertama^ la menerimakan aku itu, roti beras dan ikan. Ia berfir­man: "Makanlah hari ini menurut keinginanmu dengan puas, tanpa per- hitungan!".

Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman:-



(Kuluu wasy-rabuu hanii-an bimaa aslaftum fil-ayyaamil-khaaliyah) A^nya: "Makan dan minumlah dengan penuh kepuasan, disebabkan (perbuatan baik) yang telah kamu kirimkan lebih dahulu dihari yang lampau". - S. Al-Haqqah, ayat 24.

Mereka telah mendahului dengan meninggalkan nafsu-syahwat. Karena itulah Abu Sulaiman berkata: "Meninggalkan sesuatu nafsu-syahwat dari nafsu-nafsu syahwat itu, lebih bermanfa'at bagi hati daripada puasa seta­hun dan bangun mendirikan shalat setahun. Kiranya Allah memberi taufiq kepada kita bagi yang diridlaiNya!



1141

PENJELASAN: perbedaan hukum lapar dan keutamaannya dan perbeda­an keadaan manusia tentang lapar.

Ketahuilah, bahwa tuntutan yang paling jauh pada semua pekerjaan dan budi-pekerti, ialah: ditengah-tengah (sedang). Karena pekerjaan yang baik. ialah: ditengah-tengah. Masing-masing dari kedua tepi pekerjaan yang dimaksud, adalah tercela. Dan apa yang telah kami bentangkan tentang keutamaan lapar, kadang-kadang menunjukkan kepada bersangatan padanya itu diminta (dituntut). Dan jauhlah yang demikian! Akan tetapi setengah dari rahasia hikmah Syari'at, ialah, bahwa tiap-tiap yang dimin­ta oleh tabiat manusia itu, tepi yang terjauh. Dan ada padanya kerusak- an. Maka datanglah Syariat dengan keras mencegah (melarang)nya, dia­tas cara yang menunjukkan pada orang bodoh, bahwa yang dicari (yang dituntut), ialah: melawani apa yang dikehendaki olek tabiat manusia itu, sejauh mungkin. Dan orang yang berilmu mengetahui, bahwa yang di­maksud, ialah: ditengah-tengah. Karena tabiat manusia apabila menuntut sangat kenyang, maka syariat selayaknyalah memuji sangat lapar. Sehingga tabiat manusia itu adalah penggerak dan syariat itu pencegah. Lalu kedu­anya berlawanan. Dan berhasil: yang sedang (ditengah-tengah). Karena orang yang sanggup secara keseluruhan mencegah keinginan tabiatnya itu, amat jauh dari kenyataan. Maka ia tahu, bahwa ia tidak berkesudah an kepada penghabisan. Karena jikalau ada orang yang berlebih-lebihan melawan tabiatnya, niscaya pada Syariat juga ada yang menunjukkan atas buruknya yang demikian. sebagaimana syariat bersangatan memuji bangun malam hari (untuk shalat) dan puasa siang hari. Kemudian, keti­ka diketahui oleh Nabi صلى الله عليه وسلم . tentang keadaan sebahagian mereka (saha- batnya) berpuasa sepanjang waktu dan bangun malam seluruhnya, lalu beliau melarang yang demikian (1).



Apabila anda telah mengetahui ini, maka ketahuilah, bahwa yang lebih utama (afdlal) dengan mendasarkan kepada sifat (tabiat) manusia yang sedang itu, bahwa: makan kira-kira tidak merasa berat perut dan tidak merasa dengan pedih lapar. Tetapi ia lupa kepada perutnya, lalu tidak sekali-kali membekas lapar padanya.



Sesungguhnya yang dimaksud dari makan itu, kekekalan hidup, kekuatan ibadah. Dan berat perut itu mencegah ibadah. Dan pedih lapar juga membimbangkan hati dan mencegah dari ibadah. Maka yang dimaksud itu, bahwa makan dengan makan yang tidak meninggalkan bekas bagi yang dimakan. Supaya adalah ia menyerupai dengan malaikat. Dan para malaikat itu sesungguhnya qudus (suci) dari beratnya makanan dan pe- dihnya lapar. Dan maksud manusia itu mengikuti para malaikat. Apabila tidak ada bagi manusia, dari kenyang dan lapar, maka keadaan yang terjauh dari dua tepi itu, ialah: ditengah-tengah. Yaitu: sedang (i'ti­dal). Tuntutan manusia buat jauh dari tepi-tepi yang berhadapan ini de­ngan kembali kepada: ditengah-tengah, adalah seperti semut yang dicam- pakkan ditengah-tengah lingkaran yang dipanaskan atas api, yang dicam- pakkan diatas lantai. Maka semut itu Iari dari kepanasan lingkaran. Dan

(1). Dirawikan Al-Bukhari dan Muslim.
1142

lingkaran itu mengelilinya. Ia tidak sanggup keluar dari lingkaran terse­but. Maka senantiasalah ia lari, sehingga ia tetap pada pusat (markaz), yaitu: ditengah-tengah. Kalau ia mati, maka matilah ia ditengah-tengah. Karena ditengah-tengah itu adalah tempat terjauh dari kepanasan yang ada dalam lingkaran yang mengelilinginya.



Maka seperti demikian juga nafsu-keinginan yang mengelilingi manusia, , sebagai pengelilingan lingkaran tersebut dengan semut. Dan para malai­kat diluar dari lingkaran itu. Dan tak ada harapan bagi manusia untuk keluar.



Manusia itu ingin menyerupai malaikat pada kelepasan. Maka yang lebih menyerupainya dengan para malaikat, ialah: jauh. Yang terjauh tempat dari tepi-tepi itu, ialah: tengah-tengah. Maka jadilah tengah-tengah itu yang dicari pada semua hal yang berhadapan ini. Dan mengenai itulah yang disabdakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم . :-
خير الأمور أوساطها
(Khairul-umuuri ausaathuhaa).
Artinya: "Sebaik-baik pekerjaan, ialah: yang ditengah-tengah". (1). Dan kepadanyalah disyaratkan dengan firman Allah Ta'ala:-

وكلوا واشربوا ولا تسرفوا

(Wa kuluu wasy-rabuu wa laa tusrifuu).

Artinya: "Dan makanlah dan minumlah dan jangan melampaui batas!". S. Al-A'raf, ayat 31.

Manakala manusia tiada merasa lapar dan kenyang, niscaya mudahlah bagia ibadah dan berpikir. Ringanlah pada dirinya dan kuatlah beramal dengan keringanan itu. Akan tetapi ini adalah sesudah kesederhanaan tabiat.

Adapun pada permulaan pekerjaan, apabila nafsu itu galak, rindu kepada segala keinginan, cenderung kepada berlebih-lebihan, maka kesederhanaan (i'tidal) tiada bermanfa'at. Tetapi tak boleh tidak dengan ber- sangatan menyakitkan nafsu itu dengan kelaparan, sebagaimana menya- kitkan hewan yang tidak terlatih, dengan kelaparan, pukulan dan lainnya. Sehingga ia sederhana (lurus).

Apabila hewan itu telah-terlatih, lurus dan kembali kepada kesederhanaan, nicaya ditinggalkan penyiksaan dan menyakitkannya. Dan karena rahasia inilah, guru (syekh) itu menyuruh muridnya dengan apa yang tidak

(1). Dirawikan Al-Baihaqi, sebagai hadits mursal.
1143

dilakukannya pada dirinya sendiri. Ia menyuruh muridnya lapar dan ia sendiri tidak lapar. Ia melarang muridnya buah-buahan dan keinginan-ke­inginan dan ia sendiri kadang-kadang tidak melarang daripadanya. Kare­na ia telah selesai mendidik dirinya, lalu tidak perlu lagi menyiksakannya.

Manakala kebanyakan keadaan nafsu itu rakus, mempunyai keinginan, liar dan tak mau beribadah, niscaya yang lebih pantas bagi nafsu itu la­par, yang merasakan dengan kepedihannya dalam banyak hai, supaya nafsu itu hancur. Dan yang dimaksud, bahwa ia hancur, sehingga ia lu­rus. Maka dikembalikan sesudah itu, pada makanan juga, kepada kelurusan (i'-tidal).

Sesungguhnya dilarang terus-menerus lapar pada orang-orang yang men­jalani jalan akhirat, apakah ia orang siddiq atau orang tertipu, yang bodoh.

Adapun orang siddiq, karena ketegakan dirinya diatas jalan yang lurus dan ketidak perluannya lagi, ia dihalau dengan cambuk kelaparan kepada kebenaran.

Mengenai orang yang tertipu, maka lantaran persangkaannya kepada dirinya, bahwa ia orang siddiq, yang tidak memerlukan lagi kepada men­didik dirinya, yang menyangka dirinya orang baik. Dan ini adalah tipuan besar. Dan itulah yang terbanyak.

Sesungguhnya diri (jiwa) amat sedikit memperoleh pendidikan yang sem­purna. Kebanyakannya tertipu, lalu memandang kepada orang siddiq dan mentolerir (bersikap membolehkan) dirinya pada yang demikian, Maka bersikap membolehkan dirinya seperti orang sakit yang memandang ke­pada orang yang telah sembuh dari penyakitnya. Lalu memakan apa yang dimakan oleh orang yang sudah sembuh itu. Dan menyangka diri­nya sudah sehat. Maka binasalah dia.

Dan yang menunjukkan bahwa pengkadaran makanan dengan kadar yang sedikit, pada waktu tertentu dan macam tertentu, tidaklah itu yang dimaksudkan padanya. Sesungguhnya yang menjadi maksud, ialah: melawan nafsu yang jauh dari kebenaran, yang tidak sampai kepada ting­kat kesempurnaan. Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . tidak mempunyai pengkadaran dan pengwaktuan bagi makanannya. 'A'isyah r.a. berkata: "Adalah Rasulu'­llah صلى الله عليه وسلم . berpuasa, sehingga kami mengatakan: ia tiada berbuka, Dan ia berbuka, sehingga kami mengatakan: ia tiada berpuasa" (1). Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . datang kepada isterinya, lalu bertanya: "Adakah padamu sesuatu (untuk dimakan)?". Kalau dijawab: ada, maka Rasulu'­llah صلى الله عليه وسلم . makan. Kalau dijawab: tidak ada, lalu beliau berkata: "Kalau begitu, aku puasa". (2).

(1). Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim.
(2). Diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tiimidzi dan An-Nasa-i dari 'A'isyah.
1144

Adalah dibawa kepada beliau sesuatu, lalu beliau bersabda: "Sesungguh­nya aku tadinya bermaksud puasa". Kemudian beliau makan makanan yang dibawa itu. (1).

Pada suatu hari, Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . mau pergi keluar, seraya bersabda: "Aku berpuasa!". Lalu 'A'isyah r.a. menjawab: "Orang telah menghadiahkan hats (tamar yang sudah dikeluarkan bijinya, dihancurkan dan dira- mas dengan minyak samin) kepada kita". Maka beliau menjawab: "Tadi­nya aku bermaksud puasa. Tetapi bawalah kemari!". (2). Karena itulah diceriterakan dari Sahl, bahwa orang bertanya kepadanya: "Bagaimana anda pada permulaan anda?". Lalu ia menceritakan dengan bermacam-macam latihan.

Diantaranya, ia makan pada suatu waktu daun nabiq. Diantaranya, ia makan buah tin yang ditumbuk pada masa tiga tahun. Kemudian, ia me- nerangkan, bahwa dengan tiga dirham, ia makan untuk tiga tahun. Lalu orang bertanya kepadanya: "Bagaimana engkau pada waktu sekarang ini?". Ia menjawab: "Aku makan tanpa batasan dan pengwaktuan". Dan tidaklah dimaksud dengan katanya: tanpa batas dan pengwaktuan, bahwa: aku makan banyak. Tetapi, yang dimaksud, ialah: bahwa aku ti­dak kadarkan dengan suatu kadar tertentu, apa yang akan aku makan. Dihadiahkan orang makanan yang baik-baik kepada Ma'ruf Al-Karkhi. Lalu ia makan. Maka orang bertanya kepadanya: "Saudara anda Bisyr tidak makan seperti ini". Lalu ia menjawab: "Saudaraku Bisyr telah dipegang oleh sifat wara. Dan aku sendiri, disenangi oleh ilmu- ma'rifah".

Kemudian, Ma'ruf menyambung: "Sesungguhnya aku adalah tamu pada rumah tuan-hamba. Apabila aku diberi makan, niscaya aku makan. Apabila aku dilaparkan, niscaya aku sabar. Tak ada padaku menentang dan membeda-bedakan".

Ibrahim bin .Adham menyerahkan uang beberapa dirham kepada sebaha- giaflF temannya, seraya berkata: "Belilah untuk kita dengan dirham- dirham ini: zubdah (kepala dadih), mad'u dan roti hawari!". Lalu ia ditanyakan: "Hai Aba Ishak! Dengan ini semuanya?". Ibrahim bin Adham menjawab: "Kasihan engkau! Apabila kita dapat, niscaya kita'makan sebagaimana makanan laki-laki. Apabila kita dalam keadaan tidak ada, niscaya kita sabar, sebagaimana sabarnya laki-laki". Pada suatu hari, Ibrahim bin Adham menyediakan banyak makanan dan mengundang sejumlah kecil teman-temannya. Diantaranya: Al-Auza'i dan Ats-Tsauri. Lalu Ats-Tsauri berkata kepadanya: "Hai Aba Ishak! Apakah anda tidak takut, bahwa ini bertebih-lebihan?". Ibrahim bin Adham menjawab: "Tidak ada berlebih-Iebihan pada ma­il). Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari 'A'isyah. (2). Diriwayatkan oleh Muslim dari 'A'isyah.

1145

kanan. Berlebih-lebihan itu hanya pada pakaian dan perabot rumah-tang- ga".

Maka orang yang mengambil ilmu dengan mendengar dan menyalin seca­ra taqlid (mengikuti begitu saja), melihat yang demikian ini dari Ibrahim bin Adham, Dan mendengar dari Malik bin Dinar, bahwa ia berkata: "Tidak masuk garam kerumahku semenjak duapuluh tahun yang lalu". Dan dari Sirri As-Saqathi, didapat kabar, bahwa ia semenjak empatpuluh tahun yang lalu, ingin merendamkan daging yang sudah dipotong dalam dibs (air manis dari buah anggur atau tamar). Tetapi tidak dilakukannya. Maka orang yang mengambil ilmu tadi, melihat ada pertentangan (antara ulama-ulama tersebut). Lalu ia heran atau memutuskan, bahwa salah se­orang dari keduanya itu salah. Dan orang yang dapat melihat rahasia-ra- hasia perkataan itu tahu, bahwa semua itu benar. Tetapi didasarkan ke­pada perbedaan keadaan. Kemudian keadaan-keadaan yang berbeda ini, akan didengar oleh orang cerdik yang hati-hati atau orang dungu yang tertipu dengan dirinya. Lalu orang yang hati-hati itu berkata: "Tidaklah aku termasuk dalam kumpulan orang-orang yang arif (arifin), sehingga aku bertoleransi akan diriku (nafsuku). Tidaklah diriku (nafsuku) itu, le­bih ta'at dari diri (nafsu) Sirri As-Saqathi dan Malik bin Dinar. Dan me­reka ini, termasuk sebagian dari orang-orang yang mencegah nafsunya dari segala keinginan hawa nafsu. Lalu ia mengikuti mereka itu. Orang yang tertipu dengan dirinya berkata: "Tiadalah nafsuku lebih dur- haka daripada nafsu Ma'ruf Al-Karkhi dan Ibrahim bin Adham, lalu aku ikuti mereka. Dan aku buang pengkadaran pada makananku. Maka aku tamu pula pada rumah tuan-hambaku (penghuluku). Lalu bagaimana aku mengelaknya?".

Kemudian, kalau seseorang menyingkatkan mengenai hak dan kemulia- annya atau mengenai harta dan kemegahannya dengan suatu jalan saja, niscaya datanglah kiamat kepadanya. Dan ia sibuk dengan pengelakan. Dan ini adalah jalan yang lapang bagi setan bersama orang-orang dungu. Bahkan membuang pengkadaran pada makanan dan puasa dan memakan segala yang diingini itu, tiada akan selamat, kecuali bagi orang yang me­lihat dari lobang ke^wali-an dan ke-nabi-an. Lalu ada tanda diantara dia dan Allah pada pelepasan dan penggenggamannya. Dan yang demikian itu tidak akan ada, kecuali sesudah keluar diri daripada mengikuti ha\ya- nafsu dan adat kebiasaan secara keseluruhan. Sehingga adalah makannya itu, apabila ia makan diatas niat, sebagaimana imsaknya (menahan diri tidak makan) itu, dengan niat. Maka ia adalah beramal karena Allah pa­da makannya dan berbukanya.

Maka selayaknyalah dipelajari tentang berhati-hatinya Umar r.a. Adalah U- mar r.a. melihat Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . menyukai madu dan memakannya

(I). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari 'A'isyah.
1146

Lalu Umar r.a. tidak meng-kias-kan (membandingkan) dirinya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم . Bahkan ketika dibawa kepada Umar r.a. minuman dingin bercampur dengan madu, ia memutar-mutarkan gelas itu ditangannya, se­raya berkata: "Aku minum dia dan hilanglah kemanisannya dan tinggal- lah ikutannya. Nyahkanlah daripadaku perhitungannya dan ketinggalan- nya!".

Rahasia-rahasia ini tiada boleh bagi seorang guru membukakannya kepa­da muridnya. Tetapi ia pendekkan saja kepada memujikan lapar. Dan ti­dak diajaknya kepa,da i'tidal (sedang atau tengah-tengah). Karena - tidak mustahil - bahwa murid itu akan memendekkan dari apa yang diajakkan dia kepadanya. Maka selayaknyalah, bahwa ia diajak kepada kesudahan lapar, sehingga memudahkan baginya i'tidal. Dan tidak disebutkan kepa­da murid itu, bahwa orang arif yang sempurna, tidak memerlukan kepa­da latihan. Maka sesungguhnya, setan itu memperoleh tempat bergantung dari hatinya. Lalu setan itu, membisikkan kepadanya setiap saat: "Bahwa engkau itu orang arif yang sempurna. Dan apa yang meng­hilangkan ma'rifah dan kesempurnaan daripada engkau?". Bahkan diantara kebiasaan Ibrahim Al-Khawwash itu, ia masuk bersama muridnya dalam setiap latihan (riadlah) yang disuruhnya. Supaya tidak terguris dihati murid itu, bahwa guru tidak menyuruhnya dengan apa yang tiada diperbuatnya. Lalu yang demikian melarikan murid itu dari latihan.

Orang kuat, apabila sibuk dengan latihan dan memperbaki orang Iain, niscaya harus turun kebatas orang-orang lemah, untuk menyerupai de­ngan mereka dan berlemah-lembutan dalam membawa mereka kepada kebahagiaan.

Dan ini percobaan besar bagi nabi-nabi dan wali-wali! Apabila batas i'tidal itu tersembunyi pada semua orang, maka selayaknyalah tidak ditinggalkan kehati-hatian dan penjagaan dalam semua hal. Karena itulah, Umar r.a. mendidik-puteranya Abdullah, tatkala ia masuk ketem- patnya, lalu didapatinya puteranya sedang memakan daging yang dima- sak dengan minyak samin. Maka dipukulnya dengan cambuk, seraya ber­kata: "Kamu tak punya ibu! Makanlah sehari roti dan daging, sehari roti dan susu, sehari roti dan minyak samin, sehari roti dan minyak zait, se­hari roti dan garam dan sehari roti saja!".

Inilah yang dinamakan i'tidal! Adapun terus-menerus daging dan keingin- an-keinginan lainnya, maka itu keterlaluan dan berlebih-lebihan. Dan meninggalkan daging secara keseluruhan itu kikir. Dan ini (yang tersebut tadi diatas) adalah sedang diantara yang demikian. Allah Ta'ala maha-tahu!

1147

PENJELASAN: bahaya ria yang berjalan kepada orang yang meninggalkan memakan segala yang diingini dan menyedikitkan makanan.

Ketahuilah, bahwa akan masuk kepada orang yang meninggalkan segala keinginan, dua bahaya besar. Kedua bahaya tersebut itu lebih besar dari­pada memakan segala keinginan itu:

Pertama: bahwa tidak sanggup nafsu meninggalkan setengah dari segala keinginan, Ialu mengingininya, Akan tetapi tidak bermaksud diketahui orang, bahwa ia mengingininya. Maka disembunyikan keinginan itu. Dan ia memakan pada tempat tersembunyi, apa yang tidak dimakannya serta orang banyak.

Inilah yang dinamai: syirik tersembunyi!

Ditanyakan kepada setengah ulama tentang sebahagian orang-orang zahid (orang yang bersifat zuhud, meninggalkan duniawi, melakukan segala amal akhirat). Lalu ulama itu diam.

Maka ditanyakan lagi kepadanya: "Adakah anda mengetahui apa-apa padanya?"

Ulama tadi menjawab: "la makan pada tempat tersembunyi, apa yang ti- ,dak dimakannya serta orang banyak".

Inilah bahaya besar! Tetapi menjadi hak seorang hamba, apabila ia men­dapat percobaan dengan segala keinginan hawa-nafsu dan menyukainya, bahwa ia melahirkannya. Karena ini adalah keadaan yang benar. Dan itu menunjukkan daripada hilangnya mujahadah dengan segala amal-perbu- atan.

Sesungguhnya menyembunyikan kekurangan dan melahirkan lawannya, yaitu: kesempurnaan, adalah dua kekurangan yang berganda. Kedustaan serta menyembunyikan itu, dua kedustaan. Maka adalah ia berhak bagi dua cacian. Dan ia tidak akan diridlai daripadanya, kecuali dengan dua tobat yang benar. Karena itulah urusan orang munafik itu, diperkeras. Allah Ta'ala berfirman:-

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

(Innal-munaafiqiina fid-darkil-asfali minan - naari

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada ting- katan yang paling bawah dalam neraka". - S. An-Nisa', ayat 145. Karena orang kafir itu, ia telah kafir dan melahirkannya. Dan ini (orang munafik), ia kafir dan menutupkannya. Maka ditutupkannya kekafiran- nya itu, kekafiran lain lagi. Karena ia memandang ringan pandangan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hatinya. Dan membesarkan pandangan makhluk. Lalu ia menghapuskan kekafiran dari zahiriahnya.

1148

Dan orang-orang arif itu, dicoba dengan nafsu-nafsu keinginan, bahkan dengan berbagai macam maksiat. Dan mereka tidak dicoba dengan ria, tipuan dan penyembunyian. Tetapi orang yang sempurna arif itu, me­ninggalkan semua nafsu-keinginan, karena Allah Ta'ala. Dan melahirkan dari dirinya keinginan itu, karena menjatuhkan martabatnya (kedudukannya) dari hati makhluk.

Sebahagian mereka membeli keinginan-keinginan itu dan menggantung- kannya dirumah, sedang ia termasuk orang zahid pada keinginan-keingin­an tersebut. Maksudnya dengan yang demikian, ialah untuk meragukan orang dengan keadaannya. Supaya terpaling hati orang-orang lalai dari­pada dirinya. Sehingga orang-orang itu tidak mengganggu keadaannya. Maka penghabisan zuhud, ialah: zuhud dalam zuhud dengan melahirkan lawannya. Dan inilah amalan orang-orang siddiq. Ia mengumpulkan dian­tara'dua sidq (kebenaran). Sebagaimana orang yang pertama itu, me­ngumpulkan diantara dua kedustaan. Dan ini telah membebankan kepada diri, dua beban berat. Dan menegukkan kepada diri, gelas kesabaran dua kali. Sekali dengan meminumnya dan sekali dengan. melem- parkannya. Maka tidak ragu lagi, mereka diberi pahala dua kali dengan kesabarannya.



Ini menyerupai jalan orang yang diberikan kepadanya sesuatu secara terang-terangan, lalu diambilnya. Dan dikembalikannya pemberian itu de­ngan jalan rahasia, untuk menghancurkan jiwanya dengan kehinaan seca­ra terang-terangan dan dengan kemiskinan secara rahasia. Maka siapa yang hilang jalan ini, maka tiada selayaknyalah ia dihilangkan oleh lahirnya nafsu keinginannya, kekurangannya dan kebenaran pada­nya. Dan tiada selayaknyalah ia tertipu oleh perkataan setan: "Bahwa anda apabila anda lahirkan, niscaya anda diikuti oleh orang lain. Maka tutupi- lah demi perbaikan bagi orang lain!". Karena kalau dimaksud perbaikan orarig lain, maka perbaikan diri sendiri adalah lebih penting dari orang lain.



Sesungguhnya ini yang dimaksudkan adalah ria semata-mata. Dan dilakukan oleh setan kepadanya dalam semboyan perbaikan orang lain. Maka karena itulah, berat lahirnya yang demikian daripadanya, walau ia tahu bahwa orang yang melihatnya, tidak akan mengikutinya pada perbuatan tersebut. Atau tidak ia tercegah, disebabkan keyakinannya, bahwa ia me­ninggalkan segala nafsu-keinginan.



Bahaya Kedua: bahwa ia sanggup meninggalkan segala nafsu keinginan. Akan tetapi, ia merasa gembira, bahwa ia dikenal dengan demikian. Lalu menjadi masyhur dengan kesanggupannya, menjaga diri dari segala nafsu-keinginan. Maka ia telah menentang nafsu-syahwat yang lemah, yaitu: nafsu keinginan makan. Dan ia mematuhi suatu nafsu-keinginan yang lebih jahat, yaitu: nafsu-keinginan kemegahan. Dan itu adalah naf­su-keinginan yang tersembunyi.

1149

Manakala ia merasakan demikian dari dirinya, maka menghancurkan naf- su-keinginan ini lebih penting daripada menghancurkan nafsu-keinginan makanan. Maka hendaklah ia makan! Dan itu adalah lebih utama bagi- nya.

Abu Sulaiman berkata: "Apabila datang kepada engkau suatu keinginan, dan engkau sudah meninggalkan keinginan tersebut, maka penuhilah ba- rang sedikit dari padanya. Dan janganlah engkau berikan dirimu menjadi mangsanya. Dengan demikian, engkau sudah menjatuhkan nafsu-keingin- an dari diri engkau. Dan sudah engkau sempitkan nafsu itu, karena tiada engkau berikan keinginannya".

Ja'far bin Muhammad Ash-Shadiq berkata: "Apabila datang kepadaku suatu keinginan, Ialu aku memandang kepada diriku. Kalau ia melahir- kan keinginannya, niscaya aku berikan makanannya. Dan yang demikian adalah lebih utama daripada mencegahnya. Dan kalau nafsuku itu me­nyembunyikan keinginannya dan melahirkan keinginan membujang, nis­caya aku siksakan dia, dengan meninggalkan nafsu keinginan itu. Dan tiada aku berikan sedikitpun daripadanya".

Inilah jalan penyiksaan diri (nafsu) diatas keinginan yang tersembunyi itu!.

Kesimpulan, siapa yang meninggalkan nafsu-keinginan makan dan ia jatuh dalam nafsu-keinginan ria, adalah seperti orang yang lari dari kala- jengking dan dikejuti kepada ular. Karena nafsu-keinginan ria itu, lebih banyak melaratnya daripada nafsu-keinginan makan. Allah yang mencurahkan taufiq!

1150

PEMBICARAAN: tentang nafsu-keinginan kemaluan.

Ketahuilah, bahwa nafsu-keinginan bersetubuh itu, telah menguasai ma­nusia untuk dua faedah -

Pertama: bahwa ia memperoleh ke-lazat-annya. Lalu ia memperbanding- kan dengan kelazatan tersebut, akan kelazatan akhirat. Sesungguhnya ke­lazatan bersetubuh itu jikalau terus-menerus, niscaya adalah yang terkuat kelazatan tubuh, sebagaimana api dan kepedihannya, adalah yang terbe- sar kepedihan tubuh.

Penggemaran dan penakutan itu, membawa manusia kepada kebahagia- annya. Tiadalah yang demikian itu, kecuali dengan kepedihan dan kelazat­an yang dirasakan dan yang dapat diketahui, Apa yang tidak diketahui dengan rasa, maka tidaklah besar kerinduan kepadanya. Faedah Kedua: kekalnya keturunan dan terus-menerusnya ada manusia. Inilah faedahnya! Akan tetapi, padanya bahaya-bahaya yang membinasa­kan agama dan dunia, jikalau tidak dikendalikan dan tidakdikuasai. Dan tidak dikembalikan kepada batas; i'tidal. Ada orang yang mengatakan tentang penta'wilan firman Allah Ta'ala:-

(Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih). Artinya: "Wahai Tuhan kami! Janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak bisa kami pikul!".-S.Al-Baqarah, ayat 286. Maksudnya: sangat berahi kepada wanita. Dan dari Ibnu Abbas:"Tentang firman Allah Ta'ala:-

(Wa min syarri ghaasiqin idzaa waqab).

Artinya: "Dan dari bahaya kegelapan (malam) ketika ia telah datang". S. Al-Falaq, ayat 3.

Ibnu Abbas berkata: yaitu bangunhya dzakar (kemaluan laki-laki) (1). Dan setengah dari perawi hadits, menyandarkan perkataan tadi kepada Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . Kecuali perawi tersebut, mengatakan tentang penafsir- annya: "Dzakar itu apabila telah masuk. Dan dikatakan, apabila dzakar laki-laki itu bangun, niscaya hilanglah duapertiga akalnya". Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم . mengucapkan dalam do'anya:-

اللهم إني أعوذ بك من شر سمعي وبصري وقلبي وهني ومني

(1). Kata Al-Iraqi, hadits ini tak ada asalnya.
1151

(A'uudzu bika min syarri sam'ii wa basharii wa qalbii wa haniyyi wa ma- niyyi).

Artinya: "Aku berlindung dengan engkau dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, hatiku, kesenanganku dan air maniku". Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Wanita itu jaringan setan". (1). Jikalau tidaklah nafsu-syahwat ini, niscaya wanita tidak mempunyai kekuasaan atas laki-laki.

Diriwayatkan, bahwa Musa a.s. duduk pada sebahagian majelisnya. Tiba- tiba datang Iblis menghadap kep&danya. Iblis itu memakai burnus (kopi- ah yang bersambung dengan baju), yang berwarna dengan berbagai macam warna. Tatkala Iblis itu sudah dekat dengan Musa a.s., lalu dibukanya burnus dan diletakkannya. Kemudian, ia mendatangi Musa a.s., seraja memberi salam: "Assalaamu'alaikayaa Muusa". Artinya: "Salam sejahtera kepada engkau, hai Musa".

Lalu Nabi Musa a.s. menjawab: "Siapa engkau?". Iblis itu menjawab: "Aku Iblis".



Lalu Nabi Musa a.s. berkata: "Tiada diberi penghormatan kepada engkau oleh Allah. Apakah yang membawa engkau datang kemari?". Iblis itu menjawab: "Aku datang untuk mengucapkan selamat kepada engkau, karena kedudukan engkau dan tempat engkau daripada Allah". Lalu Nabi Musa a.s. bertanya: "Apakah yang aku lihat dikepala eng­kau?".

Iblis menjawab: "Burnus, untuk aku rebut dengan burnus ini, hati anak Adam".

Maka Musa a.s. bertanya: "Apabila manusia itu berbuat sesuatu, maka bagaimanakah engkau memperoleh kemenangan diatas manusia itu?". Iblis menjawab: "Apabila manusia itu mengherani dirinya sendiri (takjub kepada dirinya), merasa banyak amalnya dan lupa akan dosanya. Aku peringatkan engkau (hai Musa) tiga perkara;-

(1). Jangan engkau pada tempat sepi (berdua-dua) dengan wanita yang tiada halal bagi engkau. Karena apabila seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita yang tiada halal baginya, maka akulah temannya, tanpa te- man-temanku. Lalu aku goda laki-laki itu dengan wanita tersebut dan wani­ta tersebut dengan laki-laki itu.

(2). Jangan engkau berjanji dengan noma Allah sesuatu janji, kecuali engkau tepati janji itu.

(3).  Tidak engkau mengeluarkan sedekah, kecuali engkau laksanakan terus dengan perbuatan. Sesungguhnya tiadalah seseorang yang mau mengeluar­kan sedekah, lalu tidak dilaksanakannya, maka aku menjadi temannya, tanpa teman-temanku. Aku halangi dia daripada menepati sedekahnya itu".

(1). Dirawikan Al-Ashfahani dari Khalid bin Zaid Al-Yahni, dengan isnad yang tidak di­ketahui padanya.
1152

Kemudian Iblis itu pergi, seraya mengeluh: "Aduh! Telah diketahui oleh Musa, apa yang menakutkan anak Adam".

Dari Sa'id bin AI-Musayyab, dimana ia mengatakan: "Apabila Allah Ta'­ala mengutus seseorang nabi pada musa yang lalu, maka Iblis tiada berpu- tus asa untuk membinakan nabi itu dengan wanita. Tiada suatu pun yang lebih aku takuti, selain kaum wanita. Dan tiada sebuah rumahpun di Madinah, yang aku masuki, selain rumahku dan rumah puteriku. Aku mandi dirumah itu pada hari Jum'at, kemudian aku pergi". Setengah mereka berkata: "Bahwa setan itu berkata kepada wanita: "Engkau setengah tentaraku. Engkau mata-panahku yang aku lempar- kan, maka aku tidak salah. Engkaulah tempat rahasiaku. Engkaulah utusanku pada keperluanku!".

Maka setengah tentaranya itu nafsu-syahwat dan setengahnya lagi sifat marah. Nafsu-syahwat yang terbesar, ialah nafsu-syahwat kepada wanita. Dan nafsu-syahwat ini mempunyai pula: keterlaluan, sangat berkurang dan sedang. Keterlaluan itu memaksakan akal, sehingga mengalihkan ci- ta-cita laki-laki kepada bersenang-senang dengan kaum wanita dan bu- dak-budak perempuan. Lalu ia tidak memperoleh jalan untuk menempuh jalan akhirat. Atau ia memaksakan agama, sehingga ia terhela kepada mengerjakan perbuatan keji. Kadang-kadang keterlaluan nafsu-syahwat itu pada suatu golongan, berkesudahan kepada dua hal yang sangat bu- ruk:-

Pertama: bahwa mereka memakan yang menguatkan nafsu-syahwatnya untuk dapat banyak bersetubuh, sebagaimana setengah manusia mema­kan obat-obat, yang menguatkan perut, supaya besar nafsu makan. Contoh yang demikian, adalah seperti orang yang dicoba dengan bina- tang buas dan ular berbisa. Lalu binatang dan ular itu tidur pada seba­gian waktu. Maka orang itu berusaha untuk membangunkan dan mengge- rak^gerakkannya. Kemudian ia bekerja memperbaiki dan mengobatinya. Sesungguhnya nafsu-keinginan makan dan bersetubuh pada hakikatnya itu, penderitaan yang dikehendaki oleh manusia, melepaskan diri daripa­danya. Lalu ia memperoleh kelazatan disebabkan kelepasan itu. Jikalau anda berkata, bahwa diriwayatkan pada hadits ghar.ib (hadits yang sangat asing dan lemah), bahwa Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Aku mengadu kepada Jibril akan kelemahan bersetubuh, lalu Jibril menyuruh aku memakan harisah (bubur masak daging)". (1). Maka ketahuilah, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم . mempunyai sembilan isteri. Dan ha­rus memelihara mereka dengan hak batin. Dan haram orang lain meni- kahi isteri-isteri Nabi صلى الله عليه وسلم ., walaupun sudah diceraikannya. Maka per- mintaan Nabi صلى الله عليه وسلم . akan ketakutan itu, adalah karena sebab tersebut, tidak karena untuk mencari kesenangan.

(1). Al-Iraqi mengatakan, bahwa ini hadits palsu (maudlu')
1153

Hal Kedua: bahwa kadang-kadang nafsu-syahwat itu dengan sebab sete­ngah kesesatan, berkesudahan kepada asyik-wal-maksyuk (penuh kerinduan). Dan itu adalah sangat bodoh, dengan maksudnya bersetu- buh. Dan itu melampaui pada kebinatangan bagi batas binatang-bina- tang. Karena orang yang asyik-wal-maksyuk itu, tidak merasa puas de­ngan menumpahkan nafsu-syahwat persetubuhan. Dan itu adalah nafsu- syahwat yang paling keji. Dan yang paling wajar, bahwa ia merasa malu daripadanya, Sehingga aku berkeyakinan, bahwa nafsu-syahwat itu tidak terselesaikan, kecuali dari satu tempat. Dan binatang itu, melaksanakan nafsu-syahwatnya, dimana kebetulan terdapat saja. Lalu ia merasa cukup dengan demikian. Sedang ini tidak merasa cukup, kecuali dengan satu orang tertentu. Sehingga dengan demikian, ia bertambah hina di atas kehinaan dan perbudakan di atas perbudakan. Dan sampai ia mengguna- kan akal-pikiran untuk memenuhi nafsu-syahwat. Pada hai ia dijadikan supaya menjadi prang yang ta'at, tidak untuk menjadi pelayan hawa-nafsu dan berdaya-upaya karena hawa-nafsu. Dan asyik-wal-maksyuk itu adalah meluasnya kesangatan nafsu-syahwat. Dan itu adalah penyakit hati ko­song, yang tidak bercita-cita.

Sesungguhnya haruslah dijaga dari permulaannya, dengan meninggalkan berulang-ulang kembali melihat dan berpikir tentang itu. Jikalau tidak, maka apabila telah kokoh, niscaya sulitlah menolaknya. Maka begitu pula kerinduan kepada harta, kemegahan, tanah ladang dan anak, sampai kepada kesukaan bermain dengan burung, gitar dan catur. Semua hal-ihwal tersebut itu, kadang-kadang sampai menguasai segolong- an manusia, yang dapat mengeruhkan agama dan dunianya. Dan tidak dapat lagi sekali-kali, mereka menahan diri daripadanya. Orang yang menghancurkan tanda-tanda asyik-wal-maksyuk pada permulaan kebang- kitannya, adalah seperti orang yang menarik tali kekang binatang kende­raan, ketika binatang itu menuju ke pintu untuk dimasukinya. Alangkah mudah melarang hewan tersebut dengan menarik tali kekangnya! Orang yang mengobati tanda-tanda itu sesudah kokoh kuat, adalah, seperti orang yang membiarkan binatang tadi, sampai ia masuk dan melewati pintu. Kemudian baru dipegang ekornya dan ditariknya kebelakang. Alangkah besarnya berlebih-kurangnya diantara kedua keadaan itu, ten­tang mudah dan sulitnya! Maka hendaklah berhati-hati pada permulaan segala pekerjaan! Adapun pada penghabisan segala pekerjaan, maka tidak akan menerima pengobatan, kecuali dengan kesungguhan yang sungguh-sungguh, yang mendekati membawa kepada tercabutnya nyawa. Sesungguhnya berlebih-lebihan nafsu-syahwat itu, dapat mengalahkan akal-pikiran sampai kepada batas tersebut. Dan itu sangat tercela. Dan sangat berkurangnya nafsu-syahwat dengan kehilangan tenaga (impoten) atau dengan kelemahan daripada memberi kesenangan kepada isteri, itu pun tercela. Dan yang terpuji, ialah nafsu-syahwat itu sedang, mematuhi

1154

akal-pikiran dan agama tentang kuncup dan berkembangnya. Manakala nafsu-syahwat itu berlebih-lebihan, maka hancurkanlah dengan lapar dan kawin! Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Hai para pemuda! Kawinlah! Siapa yang tidak sanggup, maka haruslah berpuasa. Puasa itu, dapat memutuskan- nya". (1).

PENJELASAN: apa yang harus atas murid, tentang meninggalkan perkawinan dan melaksdnakan perkawinan.

Ketahuilah, bahwa pada permulaan pekerjaannya, selayaknyalah murid itu tidak menyibukkan dirinya dengan perkawinan. Perkawinan itu menyibukkan orang yang sibuk, yang mencegahnya daripada suluk (menempuh jalan ibadah). Dan menariknya kepada berjinak-jinakan dengan isteri. Si­apa yang berjinak-jinakan dengan selain Allah Ta'ala, niscaya ia menjadi sibuk, jauh dari Allah. Dan janganlah ia tertipu dengan banyaknya kawin Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . Karena semua yang dalam dunia itu, tiada mengganggu hati Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . untuk mengingati Allah Ta'ala. Maka tidaklah dibandingkan para malaikat dengan tukang-tukang besi. Karena itulah Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Siapa yang kawin, ma­ka sesungguhnya ia telah cenderung kepada dunia". Seterusnya Ad-Dara­ni berkata: "Tiada pernah aku melihat seorang murid yang kawin, lalu ia tetap dalam keadaannya yang pertama".

Pada suatu kali, orang berkata kepadanya: "Alangkah perlunya anda ke­pada seorang wanita, yang dapat anda berjinak-jinakan hati dengan dia!".

Lalu Ad-Darani menjawab: "Tidak dapat aku berjinak-jinakan hati de­ngan Allah bersama wanita". Maksudnya: "Berjinak-jinakan hati dengan wanita akan mencegah berjinak-jinakan hati dengan Allah Ta'ala". A^Darani berkata pula: "Setiap yang mengganggu engkau daripada me­ngingati Allah, baik keluarga, harta dan anak, maka itu tercela kepadamu".

Maka bagaimanakah dibandingkan yang lain dari Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . de­ngan -Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم .? Adalah tenggelamnya dalam mencintai Allah Ta'ala itu, dimana ia memperoleh keterbakarannya padanya kepada ba­tas, yang ditakuti pada sebagian keadaan, bahwa menjalar yang demikian' kepada tubuhnya. Lalu merobohkan tubuh itu. Maka karena itulah, pada sesuatu ketika,* Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . meletakkan tangannya atas paha 'A'i­syah, seraya berkata: "Berkatalah kepadaku, wahai 'A'syah!". Supaya 'Aisyah menyibukkan Nabi صلى الله عليه وسلم . dengan perkataannya, daripada mengi­ngati pekerjaan besar yang dihadapinya. Karena kurang kemampuan tubuhnya daripadanya (2).

(1). (2).
Mengenai hadits ini telah diperkatakan dahulu pada "Kitab Nikah". Menurut Al-Iraqi, hadits ini tidak pernah dijumpainya.
1155

Adalah sifat pribadi Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . itu, ber jinak-jinakan hati dengan Allah 'Azza wa Jalla. Dan adalah kejinakan hatinya dengan makhluk itu, keadaan mendatang, karena kasihan kepada tubuhnya. Kemudian, Rasu­lu'llah s.a .w. itu, tidak sanggup bersabar lama bersama orang banyak, apabila beliau duduk-duduk dengan mereka. Apabila telah sempit dadanya, lalu beliau berkata: "Senangkanlah kami, dengan shalat, wahai Bilal!". Sehingga beliau kembali, kepada yang menjadi cahaya matanya (1).

Orang yang lemah, apabila memperhatikan hal-ihwal Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . dalam keadaan yang seperti ini, maka ia tertipu. Karena pemahamannya itu singkat, daripada dapat mengetahui segala rahasia perbuatan Rasulu'­llah صلى الله عليه وسلم .

Maka menjadi syarat bagi seorang murid pada permulaannya, meninggal­kan kawin, sehingga ia kuat dalam mengenali Allah (ma'rifah). Hal ini apabila nafsu-syahwatnya tidak mengeras. Jikalau nafsu-syahwat mengerasinya, maka hendaklah dihancurkannya dengan lapar panjang dan puasa terus-menerus! Kalau nafsu-syahwat itu tidak terbendung de­ngan demikian dan ia tidak mampu - umpamanya - menjaga mata, wa­laupun ia mampu menjaga kemaluan, maka lebih utama ia kawin, supaya tenteram nafsu-syahwat. Kalau tidak demikian, maka manakala ia tidak menjaga matanya, niscaya tidaklah terjaga pikirannya dan bercerai-berai- lah cita-citanya. Kadang-kadang ia terperosok dalam bencana, yang tidak sanggup dipikulnya. Dan zina mata itu termasuk sebahagian dari dosa kecil yang besar. Dan membawa kepada mendekati dosa besar yang keji, Yaitu: zina kemaluan.

Orang yang tidak mampu raemicingkan matanya, niscaya tidak mampu menjaga kemaluannya. Nabi Isa a.s. bersabda: "Jagalah daripada me­mandang! Karena pandangan itu menanamkan nafsu-syahwat dalam hati dan cukuplah dengan itu menjadi fitnah".

Sa'id bin Jubair berkata: "Sesungguhnya datanglah fitnah kepada Nabi Daud a.s. dari karena memandang. Karena itulah, ia bersabda kepada puteranya (Sulaiman) a.s.: "Hai anakku! Berjalanlah dibelakang singa dan singa-singa! Janganlah engkau berjalan dibelakang wanita!". Orang bertanya kepada Nabi Yahya a.s.: "Apakah permulaan zina?" Nabi Yahya a.s. menjawab: "Melihat dan berangan-angan". Al-Fudlail berkata: "Kata Iblis itu adalah busur lamaku dan anak-panah- ku yang tidak akan aku salah". Maksudnya: memandang. Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Memandang (wanita) itu adalah panah be- racun dari panah Iblis. Siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah Ta'ala, niscaya ia dianugerahi oleh Allah Ta'ala -iman, yang dida- patinya kemanisannya didalam hati".

(1). Yang menjadi cahaya mata dan kecintaan Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم ., ialah: shalat.
1156

Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda;-

(Maa taraktu ba'dii fitnatan adlaraa 'ala'rrijaali mina'nnisaa-i). Artinya: "Tiada aku tinggalkan suatu fitnah pun sesudahku yang lebih mendatangkan kemelaratan kepada laki-laki, selain: wanita". (1). Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:- .

(Ittaquu fitnata'ddun-ya wa fitnata 'nnisaa-i. Fa inna awwala fitnati banii Is-raaila kaanat min qibali'nnisaa-i).

Artinya: "Jagalah dari fitnah dunia dan fitnah wanita! Fitnah pertama bagi kaum Bani Israil, adalah dari pihak kaum wanita". (2). Allah Ta'ala berfirman

(Qui lil-mu-miniina-yaghudl-dluu min-ab-shaarihim wa yah-fadhuu furuu- jahum, dzaa-lika azkaa lahum).

Artinya: "Katakan kepada laki-laki yang :beriman itu, supaya mereka menahan penglihatan dan menjaga kehormatannya. Yang demikian lebih suci bagi mereka". S. An-Nur, ayat 30.

Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Tiap-tiap anak Adam (manusia) itu, mempunyai bahagian dari zina. Dua matanya berzina. Dan zina dua mata itu, ialah: mematftlang. Dua tangannya berzina. Dan zinanya itu memegang. Dua kakinya berzina. Dan zinanya itu berjalan. Mulutnya itu berzina dan zi­nanya itu: mencium. Dan hati itu bercita-cita atau berangan-angan. Dan dibenarkan yang demikian oleh kemaluan atau didustakannya". (3). Ummu Salmah berkata: "Ibnu Ummi Maktum yang buta itu meminta izin masuk kepada Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم ., sedang aku dan Maimunah duduk disitu. Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Masuklah dalam tabir (hijab)!". Lalu kami menjawab: "Bukankah ia buta, tidak dapat melihat kami?". Lalu Nabi s.a

.w. menjawab: "Engkau berdua tidak melihatnya?" (4). Hadits ini menunjukkan, bahwa tidak boleh bagi wanita duduk-duduk bersama orang buta, sebagaimana berlaku adat-kebiasaan pada waktu- waktu musibah dan pestaan. Maka haram orang buta bersunyi-sunyi (du-

(1). Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid.
(2). Dirawikan Muslim dari Abi Sa'id AI-Khudri.
(3). Dirawikan Muslim dari Abi Hurairah.
(4). Dirawikan Abu Daud dan Iain-lain, hadits baik dan shahih.
1157

duk dua-duaan) dengan kaum wanita. Dan haram wanita duduk-duduk dengan orang buta dan menunjukkan pandangan kepada orang buta, tan­pa ada keperluan.

Dipetbolehkan kepada wanita berbicara dengan laki-laki dan memandang kepada mereka, karena ada keperluan.

Jikalau sanggup menjaga mata dari wanita dan tidak sanggup menjaga- nya dari anak-anak muda-belia, maka dalam hai ini, kawin lebih utama. Karena kejahatan pada anak-anak muda belia itu lebih banyak. Sesung­guhnya kalau hati cenderung kepada seorang wanita, niscaya mungkin sampai kepada pembolehannya dengan kawin. Dan memandang kepada anak muda-belia dengan nafsu-syahwat itu haram. Bahkan, setiap orang yang membekas dihatinya, kecantikan rupa anak muda-belia, dimana ia memperoleh perbedaan diantara anak muda-belia dan orang yang berjanggut, maka tidak halal ia memandang kepada anak muda-belia itu. Jikalau anda berkata, bahwa setiap yang mempunyai perasaan, sudah pasti mengetahui perbedaan antara cantik dan jelek dan muka anak-anak muda-belia itu selalu terbuka. Maka aku menjawab, bahwa tidaklah aku maksudkan perbedaan mata saja. Akan tetapi selayaknyalah terdapatnya perbedaan itu, seperti terdapatnya perbedaan antara pohon yang hijau dan yang lain kering, antara air yang bersih dan air yang keruh. Antara pohon yang berbunga dan berbunga-bungaan putih dan pohon yang telah berguguran daun-daunannya. Maka sesungguhnya, ia cenderung kepada salah satu dari yang dua itu, dengan matanya dan tabiatnya. Tetapi ke­cenderungan yang kosong dari nafsu-syahwat. Dan karena itu, ia tidak bernafsu keinginan, menyentuh bunga-bungaan, bunga-bungaan putih dan menciumiriya. Dan tidak menciumi air yang putih bersih. Begitu pula wanita tua yang cantik, kadang-kadang cenderung mata kepadanya dan diketahui perbedaan antara wanita tua itu dan wajah lain yang jelek. Akan tetapi, perbedaan yang tak ada nafsu-syahwat padanya. Yang demikian itu dapat diketahui, dengan kecenderungan hati untuk mendekati dan menyentuhinya. Manakala kecenderungan itu telah terda- pat pada hatinya dan diperoleh perbedaan antara muka yang cantik dan tumbuh-tumbuhan yang bagus, kain-kain yang berlukisan dan loteng- loteng yang berkeemasan, lalu pandangannya itu, pandangan nafsu- syahwat, maka itu haram. Dan ini termasuk diantara hal-hal yang diper- mudah-mudahkan oleh manusia. Dan yang demikian, menghelakan mere­ka kepada kebinasaan, sedang mereka sendiri tiada mengetahuinya. Setengah ulama tabi'in berkata: "Tiada yang lebih aku takuti dari bina­tang buas, atas pemuda yang banyak ibadahnya, dari anak muda belia yang duduk dekat pemuda itu".

Sufyan berkata: "Jikalau seorang laki-laki bermain-mam dengan anak muda-belia, diantara dua anak jari kakinya, dengan maksud memenuhi nafsu-syahwat, maka itu adalah liwath (homosek)

1158

Dari setengah ulama terdahulu (ulama salaf), ada yang mengatakan, bah­wa akan ada pada ummat ini tiga jenis orang homosek: sejenis meman­dang, sejenis berpegang-tangan dan sejenis berbuat. Jadi, bahaya memandang kepada anak-anak muda itu besar. Maka mana­kala murid itu lemah daripada memicingkan matanya dan mengendalikan pikirannya, maka yang betul baginya, ialah: menghancurkan nafsu-syah- watnya dengan kawin. Banyak nafsu yang tidak tenteram keinginannya dengan lapar.

Setengah mereka berkata: "Telah keras nafsu-syahwatku pada permulaan kehendakku, dengan apa yang aku tidak sanggupi. Lalu aku perbanyak- kan memekik mengadu kepada Allah Ta'ala. Maka aku bermimpi dalam tidurku melihat seseorang. Orang itu bertanya: "Apa kabar?". Maka aku mengadu kepadanya. Lalu ia berkata: "Maju kemari kehadapanku!". La­lu aku datang kepadanya. Maka ia meletakkan tangannya atas dadaku. Aku memperoleh dinginnya pada hatiku dan seluruh tubuhku. Maka waktu pagi-pagi aku merasa, telah hilang apa yang ada padaku. Dan aku tinggal sehat wal-afiat selama setahun. Kemudian, orang itu kembali lagi kepadaku seperti demikian. Maka aku perbanyak meminta tolong kepada Allah Ta'ala. Lalu datanglah seseorang kepadaku dalam' tidur. Ia berta­nya kepadaku: "Sukakah kamu hilang apa yang kamu peroleh itu dan aku memukul lehermu?". Aku menjawab: "Ya!". Lalu orang itu berka­ta: "Panjangkan lehermu!". Lalu aku panjangkan. Maka dicabutnya pe- dang dari nur (cahaya). Lalu dipukulnya leherku. Maka aku merasa pada paginya, telah hilang apa yang ada padaku. Dan tinggallah aku sehat- wal'afiat selama setahun. Kemudian, orang itu datang lagi kepadaku seperti demikian atau lebih keras dari itu. Aku melihat, seolah-olah orang itu antara lembungku dan dadaku berbicara dengan aku. Dan ber­kata: "Kasihan! Berapa kali kamu sudah bermohon pada Allah Ta'ala *supaya dihilangkan apa yang tidak disukai untuk dihilangkan". Lalu orang tersebut berkata: "Maka aku kawin. Lalu hilanglah yang de­mikian daripadaku dan aku memperoleh anak".

Manakala murid itu berhajat kawin, maka tiada selayaknyalah ia meninggal­kan syarat kemauan pada permulaan kawin dan kekalnya perkawinan. Adapun pada permulaan kawin, maka dengan niat yang baik. Dan pada kekalnya perkawinan itu,. dengan baiknya akhlak, betulnya jalan hidup dan menegakkan segala hak kewajiban, sebagaimana telah kami uraikan semuanya pada "Kitab Adab Perkawinan". Maka tidak kami perpanjang- kan mengulanginya.

Tanda benar kemauan, ialah ia kawini wanita miskin yang beragama. Ia tidak mencari wanita yang kaya.

Setengah mereka berkata: "Siapa yang kawin dengan wanita kaya, nisca­ya adalah baginya dari wanita itu, lima perkara, Yaitu: mahalnya mas kawin, melambat-lambatkan peresmian perkawinan, hilangnya layanan is-

1159

teri (kurang) dan banyaknya perbelanjaan. Dan apabila ia mau mencerai- kannya, niscaya ia tidak sanggup, karena takut hilang hartanya. Dan wa­nita yang miskin adalah sebaliknya.

Setengah mereka berkata: "Selayaknyalah wanita itu, kurang dari laki-laki dalam empat hai. Kalau tidak, niscaya wanita itu akan menghina laki- laki. Yaitu: tentang umur, tinggi badan, harta dan keturunan. Dan hen­daklah wanita itu diatas laki-laki dalam empat hai, yaitu: tentang cantik, adab sopan, warn' dan akhlak. Dan tanda benarnya kemauan untuk ke- kalnya perkawinan, ialah: akhlak.

Sebahagian murid dari orang-orang shufi itu kawin dengan seorang wani­ta. Lalu selalulah murid itu (suami wanita tadi) melayani isterinya. Se­hingga wanita itu merasa malu. Dan mengadukan yang demikian kepada ayahnya. Wanita itu berkata: "Aku heran tentang laki-laki ini. Aku ber- ada dirumahnya semenjak beberapa tahun yang lalu. Tiada pernah seka- li-kali aku pergi kekakus (w.e,), melainkan ia sudah mendahului aku membawa air kekakus".

Sebahagian mereka kawin dengan seorang wanita yang cantik. Sewaktu telah mendekati hari pengantenannya, wanita tersebut diserang penyakit cacar. Maka sangatlah berduka-cita keluarga wanita itu karena yang de­mikian. Karena takut laki-laki itu akan memandang keji kepada calon is­terinya. Lalu laki-laki tersebut memperlihatkan kepada keluarga calon is­terinya, bahwa ia telah diserang oleh penyakit mata. Kemudian, ia mem­perlihatkan kepada mereka, bahwa penglihatannya sudah hilang. Sehing­ga wanita itu dilaksanakan pengantenannya dengan laki-laki tersebut. Maka hilanglah kegundahan hati kaum keluarganya. Wanita tersebut te- tap bersama suaminya (laki-laki) itu, selama duapuluh tahun. Kemudian wanita tadi meninggal. Maka pada ketika itulah, laki-laki itu membuka kedua matanya. Lalu orang bertanya kepadanya tentang yang demikian. Maka ia menjawab: "Aku sengaja berbuat demikian, demi kaum keluar­ganya, sehingga mereka itu tidak berduka-cita". Lalu orang mengatakan kepadanya: "Engkau telah mendahului saudara-saudaramu dengan akhlak ini".

Sebahagian orang shufi itu kawin dengan seorang wanita yang buruk akh­laknya. Maka ia bersabar atas akhlak wanita itu. Lalu orang bertanya kepadanya: "Mengapa tidak engkau ceraikan saja?". Orang shufi tadi menjawab: "Aku takut nanti ia dikawini oleh orang yang tidak sabar atas sikapnya. Lalu ia sakiti wanita itu".

Maka kalau murid itu kawin, maka beginilah seyogianya ia berada. Dan kalau sanggup ia meninggalkan perkawinan, maka adalah lebih utama, apabila tidak mungkin ia mengumpulkan antara keutamaan kawin dan menempuh jalan ke akhirat. Dan ia tahu bahwa yang demikian menyi- bukkannya dari hal-ihwalnya. Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Muhammad bin Sulaiman Al-Hasyimi memiliki hasil dunia sebanyak de-

1160

tapan puluh nbu dirham setiap hari. Lalu ia menulis surat kepada pendu- duk dan ulama Basrah tentang seorang wanita yang akan dikawininya. Maka sepakatlah mereka semua pada Rabi'ah Al-'Adawiah r.a. Lalu Muhammad bin Sulaiman itu menulis surat kepada Rabi'ah, sebagai berikut:

Bismi'Uaahi'rrahmaani'rrahiim.

"Ammaa ba'du, sesungguhnya Allah Ta'ala telah menganugerahkan men­jadi milikku dari hasil dunia sebanyak delapan puluh ribu dirham setiap hari. Dan tidak akan lalu beberapa hari dan malam lagi, sehingga sem- purnalah seratus ribu dirham. Dan aku jadikan bagi engkau seperti itu. Maka perkenankanlah permintaanku". Maka dibalas oleh Rabi'ah kepadanya, sebagai berikut:-

Bismi'Uaahi'rrahmaani'rrahiim.

"Ammaa ba'du, sesungguhnya zuhud didunia itu menyenangkan hati dan badan. Dan gemar pada dunia mempusakai rusuh hati dan duka-cita. Maka apabila sampai suratku ini kepadamu, maka sediakanlah perbekal- anmu dan kemukakanlah untuk akhiratmu! Hendaklah engkau itu mene- rima wasiat bagi dirimu dan janganlah engkau jadikan laki-laki lain yang menerima wasiatmu! Lalu mereka nanti akan membagi-bagikan pusakamu.

Puasalah sepanjang masa! Dan hendaklah pembukaan puasamu itu mad! Adapun aku, jikalau sekiranya dianugerahkan oleh Allah Ta'ala kepada­ku, seperti yang dianugerahkanNya kepadamu dan berlipat-ganda lagi, maka tidaklah menyenangkan aku untuk lengah daripada mengingati Allah, walau sekejap mata sekalipun".-

Ini suatu isyarat, bahwa setiap yang mengganggu daripada mengingati Allah Ta'ala, maka itu adalah kekurangan, Maka hendaklah murid itu memandang kepada keadaannya dan hatinya. Jikalau diperolehnya ketenangan hati pada tidak kawin, maka itu lebih mendekati kepada su- luknya (didalam peribadatannya). Dan jikalau ia Iemah daripada yang demikian, maka kawin adalah lebih utama baginya. Obat penyakit ini tiga perkara: lapar, memincingkan mata dan bekerja dengan pekerjaan yang menguasai hati. Jikalau tiga perkara ini tidak bermanfa'at, maka perkawinanlah saja yang akan mencabut maddahnya (materinya). Dan karena inilah, para ulama terdahulu (ulama salaf) ber- segera kawin dan mengawinkan puteri-puterinya. Sa'id bin Al-Musayyab berkata: "Iblis itu tiada berputus asa dari seorang pun. Ia akan menda- tanginya dari pihak kaum wanita".

Sa'id tadi berkata pula, sedang ia waktu itu berusia delapanpuluh empat

1161

tahun dan telah hilang salah satu dari kedua matanya. Dan ia melihat waktu maiam, dengan matanya yang satu itu. Katanya: "Tiada yang lebih aku takuti, selain kaum wanita".

Dari Abdullah bin Abi Wida'ah, yang berkata: "Aku duduk-duduk de­ngan Sa'id bin Al-Musayyab. Lalu ia tiada bertemu dengan aku beberapa hari lamanya. Tatkala aku mendatanginya, maka ia bertanya: "Dimana engkau dalam beberapa hari ini?". Aku menjawab: "Isteriku meninggal. Lalu aku sibuk mengurusnya. Maka ia bertanya: "Mengapa tidak engkau beri kabar kepada kami, supaya dapat kami menghadiri jariazahnya?". Abdullah bin Abi Wida'ah meneruskan ceriteranya: "Kemudian, aku ingin berdiri dari duduk, lalu Sa'id bin Al-Musayyab bertanya: "Adakah engkau bicarakan wanita lain?". Maka aku menjawab: "Kiranya Allah mencurahkan rahmatNya kepada engkau! Siapakah kiranya yang akan mengawinkan aku, sedang aku tiada mempunyai uang, selain dua atau tiga dirham?" Lalu Sa'id bin Al-Musayyab menjawab: "Aku!". Ma­ka aku menyambung: "Sanggup engkau laksanakan?". Ia menjawab. "Ya, sanggup!".

Lalu ia memuji Allah Ta'ala dan berselawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم . Dan di- kawinkannya aku dengan uang dua atau tiga dirham saja". Abdullah bin Abi Wida'ah meneruskan ceriteranya. "Lalu aku bangun berdiri. Dan aku tidak tahu apa yang akan aku perbuat, lantaran gembi­ra. Maka aku menuju kerumahku. Dan aku berpikir, dari siapa aku me­ngambil dan pada siapa aku berhutang. Lalu aku bershalat Maghrib. Dan aku kembali kerumahku dan aku pasang lampu. Dan tadi aku berpuasa. Lalu aku makan makanan malam untuk berbuka. Makanan itu hanyalah roti dan minyak zaitun. Tiba-tiba pintu rumahku diketok orang. Lalu aku bertanya: "Siapa itu?"; Ia menjawab: "Sa'id!".

Abdullah bin Abi Wida'ah meneruskan ceriteranya: "Lalu aku terpikir pada setiap orang yang namanya Sa'id, selain Sa'id bin Al-Musayyab. Se- babnya, orang tiada melihatnya selama empatpuluh tahun, selain dia diantara rumahnya dan masjid".

Abdullah bin Abi Wida'ah meneruskan ceriteranya: "Lalu aku keluar menemui tamu tersebut. Tiba-tiba benarlah kiranya Sa'id bin Al-Musay­yab. Lalu aku menyangka, telah ada pikiran dan pendapat baginya. Lalu aku berkata: "Hai Aba Muhammad! Jikalau engkau mengirim surat ke­padaku, niscaya aku datang kepada engkau". Sa'id bin Al-Musayyab menjawab: "Tidak! Engkau lebih berhak untuk didatangi". Lalu aku menjawab: "Apa yang engkau perintahkan?".

Sa'id bin Al-Musayyab menjawab: "Engkau adalah laki-laki yang tidak beristeri. Maka engkau kawin. Aku tiada suka engkau tidur malam sen- dirian. Inilah perempuanmu!".

Tiba-tiba perempuan itu berdiri dibelakang Sa'id, setinggi dia. Kemudian dipegangnya tangannya, lalu didorongnya kepintu dan ditutupnya pintu.

1162

Lalu wanita itu jatuh karena malu. Lalu ia berpegang pada pintu. Kemu­dian aku datang kepiring besar, yang didalamnya roti dan minyak zaitun. Lalu aku letakkan piring tersebut pada bayang-bayang lampu, supaya ia tiada melihatnya. Kemudian aku naik kebahagian atas rumah, lalu aku lemparkan tetangga dengan batu-batu kecil. Maka tetangga itu datang kepadaku. Mereka itu bertanya: "Apa kabar?". Lalu aku menjawab: "Wahai saudara-saudara! Sa'id bin Al-Musayyab telah mengawinkan aku dengan puterinya pada hari ini. Dia sudah datang membawa puterinya dengan diam-diam kemari malam ini". Lalu mereka itu bertanya: "Sa'id mengawinkan engkau?". Aku menjawab: "Ya!".

Mereka bertanya lagi: "Wanita itu sekarang dikamar?". "Ya!" - jawabku.

Lalu mereka turun dari bagian atas ketempat wanita itu. Kejadian ini sampai kepada ibuku. Maka beliau datang dan berkata: "Mukaku haram memandang mukamu, jikalau engkau menyintuhnya, sebelum aku memperbaikinya sampai tiga hari".

Abdullah bin Abi Wida'ah meneruskan ceriteranya: "Maka aku tinggal sendirian tiga hari. Kemudian baru aku bersebuh dengan dia. Rupanya dia termasuk wanita yang tercantik, manusia yang terpandai menghafal Kitab Allah Ta'ala (Al-Qur-an), yang terbanyak pengetahuannya tentang Sunnah Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . dan yang paling mengetahui tentang hak suami".

Abdullah bin Abi Wida'ah meneruskan ceriteranya: "Maka aku berdiam sebulan, Sa'id tidak datang kepadaku dan aku tidak datang kepadanya. Maka sesudah sebulan, baru aku datang kepadanya. Dan ia berada di- pondoknya (halqahnya). Lalu aku memberi salam kepadanya. Ia menja­wab salamku dan tidak berkata-kata dengan aku, sampai orang banyak pergi dari majelisnya. Lalu ia bertanya: "Apa kabar manusia itu?". Aku menjawab: "Baik, wahai Aba Muhammad, menurut yang disukai teman dan dibenci musuh".

Lalu Sa'id bin Al-Musayyab menyambung: "Jikalau meragukan engkau sesuatu dari manusia itu, ambillah tongkat!".

Maka aku kembali kerumahku. Lalu Sa'id memberikan kepadaku duapu- Iuh ribu dirham".

Abdullah bin Sulaiman (salah seorang perawi kissah ini) berkata: "Ada­lah puteri Sa'id bin Al-Musayyab ini telah dipinang oleh khalifah Abdul- malik bin Marwan untuk puteranya Al-Walid ketika dilantik menjadi pu- tera-mahkdta. Sa'id enggan mengawinkannya dengan Al-Walid. Dan sela­lu Abdulmalik mencari jalan pada Sa'id, sampai dipukulnya Sa'id seratus kali dengan cambuk pada suatu hari yang dingin. Dan dituangkannya seember air kebadan Sa'id. Dan diselimutinya Sa'id dengan baju jubah bulu".

1163

Bersegeranya Sa'id mengawinkan puterinya pada malam itu, memberikan pengertian kepada kita akan bahayanya nafsu-syahwat. Dan harus berse- gera - menurut agama - memadamkan apinya dengan kawin. Allah Ta'ala meridlai dan mencurahkan rahmatNya kepada Sa'id bin Al- Musayyab!

PENJELASAN: keutamaan orang yang menentang nafsu syahwat kema-

Ketahuilah, bahwa nafsu-syahwat ini adalah yang paling mengerasi pada manusia dan yang paling mendurhakai akal-pikiran ketika ia berkobar. Kecuali, yang dikehendakinya itu keji. Orang malu daripadanya dan ta­kut mengerjakannya. Dan tidak maunya kebanyakan manusia daripada yang dikehendaki oleh nafsu-syahwat itu, adakalanya karena lemah atau karena takut atau karena malu atau karena menjaga jasmaniahnya. Dan tidak ada pa­da suatu pun dari yang demikian itu, pahala. Karena yang demikian itu mengutamakan sesuatu bahagian dari bahagian-bahagian nafsu, terhadap bahagian lainnya. Benar, termasuk sebagian dari penjagaan, bahwa ia ti­dak mampu mengerjakan sesuatu yang menyalahi. Maka pada pencegahan-pencegahan ini, ada faedahnya. Yaitu: tertolak- nya dosa. Maka orang yang meninggalkan zina, niscaya tertolakiah dari­padanya dosanya, dengan sebab apa pun adanya ia meninggalkan zina itu.

Sesungguhnya keutamaan dan banyaknya pahala pada meninggalkan zina itu, karena takut kepada Allah Ta'ala, serta mampu dan menghilangkan halangan-halangan serta mudahnya sebab-sebab untuk zina itu. Apalagi ketika nafsu-syahwat itu sudah benar-benar.

Inilah tingkat orang-orang siddiq. Karena itulah Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:

(Man 'asyiqa fa'affa fa katama fa maata fa huwa syahiid). Artinya: "Siapa yang sudah rindu sekali, lalu menjaga diri serta me­nyembunyikan, lalu ia meninggal, maka orang itu syahid". (1). Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Tujuh orang akan dilindungi oleh Allah pada hari kiamat pada naungan 'ArasyNya, pada hari yang tak ada naungan, sela­in naungannya". Dan terhitung dari orang tujuh tersebut, laki-laki yang dipanggil oleh seorang wanita cantik dan bangsawan, kepada dirinya. Lalu laki-laki tadi menjawab: "Aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam". (2).

(1).
Dirawikan AI-Hakim dari Ibnu Abbas.
(2).
Dirawikan Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah. Dan hadits ini telah diterangkan
1164



luan dan rnata.


dahulu.

1164

Kissah Nabi Yusuf a.s. dan tidak maunya dengan Zalikha, serta mampu dan sukanya Zalikha itu terkenal. Dan Allah Ta'ala memuji Yusuf a.s. de­ngan demikian dalam Kitab SuciNya. Dan Yusuf itu pemuka (imam) bagi setiap orang yang mendapat taufik untuk berjuang melawan setan pa­da nafsu-syahwat yang besar ini.

Diriwayatkan, bahwa Sulaiman bin Yassar, adalah termasuk manusia yang tercantik wajahnya. Lalu masuklah seorang wanita ketempatnya. Wanita itu menanyakanSulaiman akan nafsunya. Sulaiman tidak mau kepada pe­rempuan itu dan keluar, lari dari tempatnya. Dan ditinggalkannya wanita itu disitu. Sulaiman berkata: "Maka pada malam itu aku bermimpi berte- mu dengan Yusuf a.s. Seakan-akan aku berkata kepadanya: "Engkau Yu­suf?".

Orang itu menjawab: "Ya, saya Yusuf yang suka (hamamtu) dan engkau

Sulaiman yang tidak suka".

Ia mengisyaratkan kepada firman Allah Ta'ala:-

(Yi-Suifi&jffiyteifa j+c&^j

(Wa laqad hammat bihii wa hamma bihaa, laulaa an ra-aa burhaana rab- bih).

Artinya: "Dan perempuan itu memang suka kepadanya. Dan dia suka pu­la kepada perempuan itu, kalau dia tidak melihat keterangan dari Tuhan­nya". - S. Yusuf, ayat 24.

Dari Sulaiman juga, yang lebih ajaib dari ini lagi. Yaitu: Sulaiman itu ke­luar dari Madinah untuk naik haji. Dan bersamanya seorang teman. Se­hingga keduanya sarnpailah di Abwa\ Lalu temannya bangun berdiri dan mengambil alas meja dan pergi ke pasar untuk membeli sesuatu. Dan Su- "^timan duduk dalam kemah. Sulaiman itu termasuk orang yang paling cantik mukanya dan paling wara'. Lalu ia dilihat oleh seorang wanita desa dari puncak bukit. Wanita itu lalu turun,' datang kepada Sulaiman dan berdiri dihadapannya. Wanita itu memakai kain tudung muka dan dua sa- rung tangan. Lalu dibukanya mukanya, seakan-akan mukanya itu bulan purnama. Dan wanita itu berkata: "Berilah aku kepuasaan!". Sulaiman menyangka, bahwa wanita itu menghendaki makanan. Lalu ia bangun berdiri mengambil makanan diatas alas meja, untuk diberikannya kepada wanita tersebut. Wanita itu menjawab: "Aku tidak bermaksud ke­pada ini. Aku bermaksud, apa yang dari laki-laki kepada isterinya". Lalu Sulaiman menjawab: "Rupanya Iblis menyediakan engkau kepada­ku".

Kemudian, Sulaiman meletakkan kepalanya diatara dua lututnya dan terus menangis dengan suara keras. Ia menangis terus menerus, tiada berhenti. Maka sewaktu wanita tadi melihat demikian, lalu menurunkan kain tu-

1165

dung muka ke atas mukanya dan terus pergi kembali. Sehingga sampailah ia kepada keiuarganya.

Teman Sulaiman pun datang. Lalu ia melihat Sulaiman, kedua matanya sudah bengkak, lantaran menangis dan suaranya sudah -putus-putus. Lalu bertanya: "Apakah yang membuat engkau menangis?". Sulaiman menjawab: "Baik! Aku teringat kepada anak kecilku". Teman itu menyambung: "Tidak, demi Allah! Kecuali engkau mempunyai kissah sendiri. Masa engkau berpisah dengan anak kecil engkau, baru se­menjak tiga hari atau kira-kira demikian".

Teman itu terus bertanya, sehingga Sulaiman menceriterakan kepadanya berita tentang wanita desa itu. Lalu temannya itu meletakkan alas meja dan terus menangis dengan suaia keras. Lalu Sulaiman bertanya: "Apa­kah yang membawa engkau kepada menangis?".

Teman itu menjawab: "Aku lebih berhak menangis dibandingkan dengan engkau. Karena aku takut, sekiranya aku berada pada tempat engkau, nis­caya aku tidak akan sabar terhadap wanita itu".

Maka senantiasalah kedua menangis. Tatkala, Sulaiman sudah sampai di Mak- kah, lalu ia mengerjakan sa'i dan thawaf. Kemudian ia datang ke Hajaras- wad, Lalu duduk dengan membelitkan kain dari pinggang kelutut (duduk ihtiba'). Matanya meminta tidur, lalu ia tertidur. Maka ia bermimpi, seo­rang laki-laki yang cantik parasnya tinggi semampai, mempunyai pemba- waan bagus dan bau yang harum. Sulaiman lalu bertanya kepada laki-laki tersebut: "Kiranya Allah mencurahkan rahmat kepada engkau. Siapakah engkau ini?".

Laki-laki itu menjawab: "Aku Yusuf!".

Sulaiman bertanya lagi: "Yusuf Siddik (yang selalu benar)?".

Orang itu menjawab: "Ya!".

Lalu Sulaiman menyambung: "Keadaan engkau dengan wanita yang mulia itu, sungguh mena'jubkan".

Maka Yusuf ri^enjawab: "Keadaan engkau dengan wanita Abwa' itu lebih mena'jubkan lagi".

Diriwayatkan dari Abudullah bin Umar, yang mengatakan: "Aku mende­ngar Rasulu'llah صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Tiga orang dari orang-orang sebelum kamu pergi berjalan, sehingga datanglah malam, lalu mereka bermalam disuatu gua. Maka mereka masuk ke gua itu. Lalu jatuhlah sebuah batu besar dari bukit. Maka menutup pintu gua. Mereka itu berkata sesama- nya: "Sesungguhnya tiada yang melepaskan kita dari batu besar ini, selain kita berdo'a kepada Allah Ta'ala dengan amal shalih (amal yang baik). Lalu se­orang dari mereka bertiga itu berdo'a: "Wahai Allah Tuhanku! Sesung­guhnya Engkau mengetahui, bahwa aku mempunyai ibu-bapa yang sudah tua dan lanjut usianya. Aku tiada memberi minuman kepada anak isteriku dan budak hartaku, sebelum keduanya. Pada suatu hari aku pergi jauh tempat menggeinbala ternak. Maka aku tiada sampai kepada ibu-bapaku

1166

pada sore hari. Sehingga keduanya sudah tidur. Lalu aku sediakan minuman malam untuk keduanya. Maka aku dapati keduanya masih tidur. Aku tiada senang, memberi minuman anak-isteriku dan budak hartaku se­belum keduanya (ibu-bapaku). Maka terus aku menunggu sampai kedua­nya bangun, sedang gelas minuman itu dalam tanganku, sampai terbit fa- jar. Anak-anakku yang kecil-kecil memekik-mekik menangis karena lapar keliling tapakku. Maka bangunlah keduanya, lalu meminum muumannya. Wahai Allah Tuhanku! Jikalau adalah aku berbuat demikian, karena men­cari keredlaan Engkau, maka renggangkanlah kami dari batu besar ini yang sedang kami alami sekarang!". Lalu batu besar itu renggang sedikit, dimana mereka belum sanggup keluar daripadanya. Yang lain berdo'a pula: "Wahai Allah, Tuhanku! Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku mempunyai anak perempuan pamanku, yang sa­ngat aku cintai. Lalu aku bujuk dia. Tetapi ia tidak mau kepadaku. Se­hingga aku menderita setahun lamanya. Lalu ia datang kepadaku, maka aku berikan kepadanya uang seratus duapuluh dinar, asal ia menyerahkan dirinya kepadaku. Maka ia perbuat demikian, sehingga tatkala aku telah berkuasa terhadap dirinya, lalu ia berkata: "Takutlah kepada Allah! Ja­ngan engkau membawa cincin, kecuali dengan yang sebenarnya (ikatan perkawinan)!". Lalu aku menjauhkan diriku daripada bersetubuh dengan dia. Aku berpaling daripadanya, sedang dia adalah manusia yang paling aku cintai. Aku tinggalkan emas yang aku berikan kepadanya. Wahai Al­lah, Tuhanku! Jikalau aku telah berbuat itu, karena mengharap keredlaan- Mu, maka lapangkanlah dari kami, apa yang kami alami sekarang!". Ma­ka rengganglah batu besar itu dari mereka, tetapi mereka belum sanggup keluar daripadanya.

Yang ketiga berdo'a pula: "Wahai Allah, Tuhanku! Sesungguhnya aku irotemakai tenaga beberapa orang karyawan. Aku berikan kepada mereka upahnya, selain seorang saja. Ia meninggalkan upah yang menjadi milik- nya dan terus pergi. Maka bertambah-tambahlah upahnya itu, sehingga menjadi harta yang banyak. Sesudah beberapa lama kemudian, ia pun da­tang kepadaku, lalu ia berkata: "Hai hamba Allah! Beriiah kepadaku u- pahku!". Lalu aku menjawab: "Semua yang engkau lihatdari upahmu itu, unta, sapi, kambing dan budak". Orang itu lalu menjawab: "Hai hamba Allah! Apakah engkau bermain-main dengan aku?". Lalu aku jawab: "Aku tidak mempermain-mainkan engkau, ambillah!". Lalu dihalaunya dan diambilnya semuanya. Tidak ditinggalkannya sedikit pun. Wahai Al­lah, Tuhanku! Jikalau aku berbuat demikian karena mencari keredlaanMu maka renggangkanlah dari kami, apa yang kami alami sekarang ini!". Maka rengganglah batu besar itu, lalu mereka keluar dan pergi". (1). Maka ini, adalah kelebihan dari kemampuan penunaian nafsu-syahwat.

(1). Dirawikan Ai-Bukhari dalam kitab "Shahih"nya.
1167

Lalu ia menjaga diri daripadanya. Dan lebih dekat dari padanya, kemam- puan penunaian nafsu-syahwat mata. Sesungguhnya mata itu permulaan zina. Maka menjaganya penting dan itu sukar, dimana kadang-kadang di- pandang mudah dan tidak besar ketakutan daripadanya. Pada hai semua bahaya, terjadi daripadanya. Dan pandangan pertama, apabila tidak dise- ngaja, maka tidak berdosa. Mengulang kembali melihatnya itu yang disik- sa (berdosa). Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: "Bagimu yang pertama dan atasmu (tanggung jawabmu) yang kedua" (1). Artinya: pandangan pertama dan kedua.

Al-'Ala' bin Ziyad berkata: "Janganlah engkau ikutkan penglih'atanmu ke­pada selendang wanita! Sesungguhnya pandangan itu menanamkan nafsu- syahwat dalam hati".

Sedikitlah manusia itu terlepas dalam pulang-perginya, dari jatuhnya pan­dangan kepada kaum wanita dan kanak-kanak muda-belia. Manakala terkhayal kepadanya kecantikan, niscaya tabiat (instink) yang menghert- daki pengulangan kembali melihatnya. Dan selayaknyalah pada ketika itu, ia menetapkan pada dirinya, bahwa pengulangan melihat itu adalah kebo- dohan sejati. Karena jikalau ia meneguhkan betul pandangan itu, lalu ia memandang baik, niscaya berkobarlah nafsu-syahwat. Dan ia lemah sam­pai kepada yang dimaksud. Maka tiada hasilnya baginya, kecuali keluhan.

Jikalau ia memandang buruk, niscaya ia tiada memperoleh kelazatan. Dan ia merasa kepedihan. Karena ia bermaksud kelazatan, maka diperbuatnya apa yang dirasakan kepedihannya. Lalu dalam dua hai tersebut, ia tiada terlepas dari maksiat, dari kepedihan dan kekeluhan. Manakala dipeliharanya mata dengan jalan tersebut, niscaya tertolaklah banyak bahaya dari hatinya. Jikalau matanya bersalah dan ia memelihara kemaluannya dengan ketetapan hati, maka yang demikian mengajak kekuatan yang dituju dan taufik yang penghabisan. Diriwayatkan dari Abubakar bin Abdullah Al-Mazani, bahwa seorang tu^ kang potong tertarik kepada seorang budak perempuan, kepunyaan seba­hagian tetangganya. Lalu oleh keluarganya, budak itu diutus untuk suatu keperluan mereka, pada desa lain, Maka tukang potong tadi mengikuti budak itu dan mencoba membujuknya untuk berbuat jahat. Lalu budak wanita itu berkata kepadanya: "Jangan engkau berbuat demikian! Sesung­guhnya aku sangat mencintai engkau, dibandingkan dengan engkau kepa­daku. Akan tetapi, aku takut kepada Allah".

Lalu tukang potong itu menjawab: "Jadi, engkau takut kepadaNya dan aku tiada takut kepadaNya!".

Lalu Abubakar bin Abdullah itu meneruskan riwayatnya: "Maka tukang potong itu pun kembali ketempatnya dan bertaubat. Lalu ia ditimpa keha-

(1). Dirawikan Abu Daud dan At-Tirmidzi dari hadits Buraidah.
1168

usan, sehingga hampir ia binasa. Tiba-tiba ia bersama seorang utusan dari sebahagian nabi Bani Israil. Lalu utusan itu bertanya, seraya berkata: "A- pakah yang engkau deritai?". Tukang potong itu menjawab: "Haus!". Maka utusan itu berkata: "Mari kita berdo'a pada Allah, kiranya dilin- dungi kita oleh awan, sehingga kita masuk kedesa". Tukang potong itu menjawab: "Tiada bagiku amal saleh, untuk aku ber­do'a. Berdo'alah engkau saja!".

Utusan itu menyahut: "Aku yang berdo'a dan engkau mengaminkan do'a- ku". Maka utusan itu berdo'a dan tukang potong itu mengaminkan. Lalu keduanya dilindungi oleh awan, sehingga keduanya sampai didesa. Kemu­dian, tukang potong itu kembali ketempatnya. Lalu awan itu condong ke­padanya. Maka utusan tadi berkata kepadanya: "Engkau menda'wakan, bahwa engkau tiada mempunyai amal saleh. Aku yang berdo'a dan eng­kau yang mengaminkan. Lalu kita dilindungi oleh awan. Kemudian, awan itu mengikuti engkau. Hendaknya, engkau ceriterakan kepadaku keadaan engkau".

Tukang potong itu lalu menceriterakannya. Maka utusan itu berkata: "Se­sungguhnya orang yang bertobat itu, pada sisi Allah Ta'ala disuatu tem­pat, yang tiada seorang pun dari manusia ditempatnya". Dari Ahmad bin Sa'id Al-'Abid, dari ayahnya, yang mengatakan: "Pada kami di Kufah, ada seorang pemuda yang banyak beribadah, yang selalu dimasjid jami' (1).

Hampir tidak pernah ia berpisah dengan masjid itu. Ia mempunyai wajah cantik, bagus bentuknya, baik kelakuannya. Lalu seorang wanita cantik dan berakal memandang kepadanya. Maka wanita itupun amat tertarik kepadanya. Dan lamanya yang demikian itu bagi wanita tersebut. Maka pada suatu hari, wanita itu berdiri di jalan. Dan pemuda itu bermak­sud kemasjid. Lalu ia menegur. "Hai pemuda! Dengarlah daripadaku be­berapa kalimat, yang akan kukatakan kepada engkau! Kemudian, berbu- atlah apa yang engkau kehendaki!"

Pemuda tadi terus berjalan dan tiada berkata-kata dengan wanita tersebut. Sesudah itu, wanita tadi berdiri pula dijalan, yang dilalui pemuda terse­but. Dan pemuda itu bermaksud pulang kerumahnya. Wanita itu menegur lagi: "Wahai pemuda! Dengarlah beberapa kalimat daripadaku yang akan aku katakan kepadamu!".

Pemuda tersebut menundukkan kepalanya sebentar, seraya berkata: "Ini tempat perhentian kecurigaan. Aku tidak suka, bahwa aku adalah tempat kecuriagaan".

Wanita itu menjawab: "Demi Allah! Aku tidak berhenti pada tempat per- hentianku ini, lantaran kebodohanku dengan keadaanmu. Tetapi dengan berlindung kapada Allah, hendaknya orang-orang 'abid itu menjernihkan

(1). Masjid Jami', ialah: masjid yang ada diadakan shalat jum'at. Kalau tidak diadakan shalat jum'at, maka dinamakan masjid saja atau musholla.
1169

hai yang seperti ini daripadaku. Dan yang memba\va aku untuk berjumpa dengan engkau, dalam keadaan yang seperti ini dengan diriku sendiri, karena aku tahu, bahwa yang sedikit dari ini, pada manusia itu banyak. Engkau hai para abid, adalah seperti botol (keranjang sampah), hai yang paling kecil pun, akan diejek orang. Kesiropulan yang akan kukatakan ke- padamu, ialah bahwa anggota badanku seluruhnya sibuk dengan engkau. - Allah-Allah, tentang urusanku dan urusanmu". Ahmad bin Sa'id meneruskan ceriteranya: "Maka pemuda tersebut terus pulang kerumahnya. Ia bermaksud mengerjakan shalat. Lalu pikirannya terganggu, bagaimana ia mengerjakan shalat itu. Lalu diambilnya sehelai kertas dan ditulisnya sepucuk surat. Kemudian ia keluar dari rumahnya. Tiba-tiba wanita itu berdiri ditempat yang sudah-sudah. Lalu dicampak- kannya surat itu kepada wanita tadi. Dan ia terus kembali kerumahnya. Surat itu, bunyinya:-

BismillaahVrrahmaani'rrahiim

Ketahuilah, wahai wanita; bahwa Allah 'Azza wa Jalla, apabila seorang hambaNya berbuat maksiat kepadaNya, niscaya Ia amat penyantun. Apa­bila hamba itu kembali kepada perbuatan maksiat pada kali yang lain, nis­caya Allah menutupkan dosanya. Apabila hamba tersebut memakai bagi maksiat itu, pakaian-pakaiannya, niscaya Allah Ta'ala marah kepadanya, suatu kemarahan, dimana langit, bumi, gunung-gunung, pohon kayu dan hewan menjadi sempit daripadanya. Siapakah yang sanggup menahan ke- marahanNya?

Kalau apa yang aku sebutkan itu batil, maka aku peringatkan engkau akan hari, dimana langit pada hari itu seperti hancuran tembaga dan gu­nung-gunung menjadi seperti bulu yang dicelup. Dan ummat-ummat itu duduk diatas lututnya karena qudrahNya Tuhan Yang Mahaperkasa dan Mahaagung. Sesungguhnya aku, demi Allah, sudah merasa lemah untuk memperbaiki diriku sendiri, maka betapa lagi untuk memperbaiki orang lain.

Jikalau yang aku sebutkan itu benar, maka sesungguhnya aku menunjuk­kan engkau, kepada tabib penunjuk jalan, yang mengobati luka-luka yang menyakitkan dan sakit-sakit yang membakar. Yaitu: Allah Rabbul-ala- min. Maka tujukanlah itu dengan benar persoalan. Sesungguhnya aku si­buk dari engkau dengan firman Allah Ta'ala:-

1170

Artinya: "Peringatkanlah kepada mereka akan hari yang sudah dekat . waktunya; ketika itu hati (menyesak sampai) kepada kerongkongan, perih menahan hati. Orang-orang yang bersalah itu tiada mempunyai teman yang setia dan penolong yang dipatuhi. (Tuhan) mengetahui kekhianatan mata dan apa yang tersembunyi didalam hati". S. Al-Mu'min, ayat 18 19.

Kemanakah jalan lari dari ayat ini?".

Kemudian, sesudah beberapa hari sesudah itu, wanita itu datang lagi. Lalu berdiri dijalan untuk bertemu dengan pemuda tersebut. Sewaktu pemuda tadi melihat wanita itu dari jauh, lalu ia mau kembali kerumahnya. Supaya ia tidak melihatnya.

Lalu wanita tersebut menegur: "Hai/pemuda! Jangan puMng dnj-Jr Tidak ada lagi perjumpaan sesudah hari ini untuk^elama-lamany^, kecuali besok dihadapan Allah Ta'ala".

Kemudian wanita itu menangis dengan keras sekaliseraya berkata: "Aku bermohon kepada Allah, dimana didalam taiVganNya'anak kunci hati eng­kau, kiranya IA memudahkan -apa yang sulit^dairi urusan engkau!". Kemudian, wanita tadi mengikmti-p^mudaitu, seraya berkata: "Anugerah- ilah kepadaku pelajaran, yan.g akan akubawa dari engkau! Wasiatkanlah kepadaku sesuatu wasiat, yajig Eikan aku laksanakan wasiat itu!". Pemuda tadi lalu menjawa'o: -'Aku wasiatkan engkau menjaga diri eng­kau, dari diri engkau sendiiri., Dan aku ingatkan engkau akan firman Allah Ta'ala:-


huwal-Iadsii yatawaffaakum bil-laili wa ya'lamu maa jarah-tum bin- nahaar).

Artinya: Dan Dialah yang mengambil jiwa kamu dimalam hari (waktu ti­dur) ddn Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan diwaktu siang". - S. / Al-An ami, ayat 60. AhmascL bin Sa'id meneruskan ceriteranya: "Wanita itu lalu menundukkaq kei^alanya dan terus menangis dengankeras sekali, lebih keras dari tangisan- - nya jyadg pertama tadi. Kemudian, ia sadar akan dirinya dan terus mene- tap diriimahnya mengerjakan ibadah.

Terus-meneruslah wanita itu demikian, sehingga ia meninggal dalam kea­daan buta. Adalah pemuda tersebut menyebut-nyebutkan wanita tadi se­sudah meninggalnya. Kemudian ia menangis. Ada orang bertanya kepada­nya: "Mengapa engkau menangis? Bukankah engkau yang memutuskan asanya dari diri engkau?".

Pemuda tersebut menjawab: "Sesungguhnya aku telah menyembelihkau

1171

harapannya pada permulaan urusannya. Aku jadikan perpindahannya wa­nita itu, simpanan bagiku disisi Allah Ta'ala. Maka aku malu pada Allah untuk menarik kembali, simpanan yang sudah aku simpankan padaNya". Tamatlah sudah "Kitab Menghancurkan Dua Nafsu-Syahwat" dengan puji- an dan kemurahan Allah Ta'ala. Akan diiringi -insya Allah- oleh "Kitab Bahaya Lidah",

Segala pujian bagi Allah pada awal dan pada akhir, pada zahir dan pada batin. RahmatNya kepada penghulu kita Muhammad makhlukNya yang terbaik dan kepada semua hamba pilihan dari penduduk bumi dan langit. Anugerahilah kiranya ya Tuhan kesejahteraan yang banyak!

1172


Copyright © IHYA ULUMUDDIN Urang-kurai