Adab Berkasihan

KITAB "ADAB BERKASIH-KASIHAN, PERSAUDARAAN, PERSHAHABATAN DAN PERGAULAN DENGAN SEGALA JENIS MANUSIA".
(Yaitu Kitab Keiima dan rubu' kedua dari Adat Kebiasaan).

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menganugerahkan dengan berlimpah-ruah kepada hamba-Nya yang pilihan, kerahmat an dan kenikmatan dengan segala kehalusan penentuan. Yang men- jinakkan dengan berkasih-kasihan diantara hati mereka, lalu jadilah mereka itu bersaudara dengan kenikmatan-Nya. Yang mencabut kedengkian daripada mereka, lalu senantiasalah mereka itu di dunia berteman dan bershahabat dan diakhirat berkawan dan bertaulan.

Selawat kepada Muhammad yang pilihan dan kepada keluarganya serta para shahabatnya yang mengikuti dan menuruti jejaknya, dengan perkataan dan perbuatan, dengan keadilan dan keikhsanan. Kemudian, sesungguhnya berkasih-kasihan pada jalan Allah Ta'ala dan persaudaraan pada jalan agama-Nya, adalah pendekatan diri yang paling utama kepada-Nya. Dan faedah yang paling halus,yang diperoleh dari segala ketha'atan pada segala adat kebiasaan yang berlaku.

Dan semuanya itu mempunyai syarat-syarat, di mana dengan syarat- syarat itu, berhubunganlah segala yang bershahabat dengan orang- orang yang dikasihinya pada jalan Allah Ta'ala. Dan pada syarat- syarat itu, terdapat hak-hak, di mana dengan menjagakannya, bersihlah persaudaraan itu dari campuran segala kekotoran dan gangguan sethan.

Maka dengan menegakkan hak-haknya itu, mendekatlah ia kepada Allah dalam tingkatannya. Dan dengan menjaga hak-hak itu, terca- pailah derajat yang tinggi.

Kami akan menerangkan segala maksud dari Kitab ini dalam tiga bab :
Bab Pertama : tentang kelebihan berkasih-kasihan dan persaudaraan pada jalan Allah Ta'ala, syarat-syarat, derajat-derajat dan faedah- faedahnya.
Bab Kedua : tentang hak-hak pershahabatan, adabnya, hakikat dan segala keharusannya.
Bab Ketiga : tentang hak orang Muslim, keluarga, tetangga dan hamba sahaya yang dimiliki dan cara bergaul dengan orang-orang yang memperoleh pereobaan dengan sebab-sebab tersebut.

246
bab pertama.- Tentang kelebihan berkasih sayang (ulfah) dan persaudaraan, mengenai syarat-syarat, derajat dan faedah- faedahnya...

Kelebihan : berkasih-sayang dan persaudaraan :

Ketahuilah, bahwa berkasih-sayang, adalah buah kebaikan budi. Dan bercerai-berai, adalah buah keburukan budi. Maka kebaikan budi itu mengharuskan berkasih-kasihan, berjinak-jinakan hati dan penyesuaian paham. Dan keburukan budi itu, membuahkan bermarah-marahan, berdengki-dengkian dan belakang-membelakangi. Manakala yang mendatangkan buah itu terpuji, niscaya buahnya adalah terpuji. Dan kebaikan budi itu, tidaklah tersembunyi pada agama akan keiebihan dan keutamaannya. Dan kebaikan budi itulah yang dipujikan Allah swt. akan Nabi-Nya, di mana Ia berfirman :
 وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
 (Wa innaka la-'alaa khuluqin'adhiim).                                                                          
Artinya: "Dan sesungguhnya engkau mempunyui budi pekerti yang tinggi S. Al-Qalam, ayat 4. 
Dan Nabi saw. bersabda :
أكثر ما يدخل الناس الجنة تقوى الله وحسن الخلق
(Aktsaru maa yudkhilunnasal-jannata taqwallaahi wa husnul-khuluq).
Artinya :Yang membanyakkan manusia masuk sorga, ialah taqwa kepada Allah, dan kebaikan budi (1)

Usamah bin Syuraik berkata : "Kami bertanya : 'Wahai Rasulullah! Apakah yang terbaik diberikan kepada manusia?'. 
Nabi saw. men­jawab : 'Budi yang baik' (2)
Nabi saw. bersabda :
بعثت لأتمم محاسن الأخلاق                                                                                            
(Bu'itstu li-utammima mahaasi-nal akhlaaq).
Artinya: "Diutuskan aku untuk menyempurnahan kebaikan budi”(3)

(1)Dirawikan Ai-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah. Kalanya : shahih isiiad.
(2)Dirawikan Ibnu Majah dengan isnad shahih.
(3) Dirawikan Ahmad, Al-Baihaqi dan Alhakim dari Abu Hurairah. Dan dipandang- nya shahih.
247

Nabi saw. bersabda: "Yang terberat dari apa yang diletakkan dalam al-mizan (timbangan amal), ialah budi yang baik (1)

Nabi saw. bersabda : "Tiada dibaguskan oleh Allah akan kejadian dan budinya seseorang manusia, lalu dia itu dijadikan menjadi ma­kanan neraka(2)

Nabi saw. bersabda : "Hai Abu Hurairah Haruslah engkau berbaik budi".
Lalu Abu Hurairah ra. bertanya : "Bagaimanakah budi yang baik itu , wahai Rasulullah?". Nabi saw. menjawab :
تصل من قطعك وتعفو عمن ظلمك وتعطي من حرمك رواه البيهقي في الشعب من رواية الحسن
(Tashilu man qatha-'aka wa ta'fuu 'amman dhalamaka wa tu'thii man haramaka).
Artinya : "Engkau menyambung silaturrahmi dengan orang yang memutuskannya dengan engkau, engkau ma'afkan orang yang ber­buat dzalim kepada engkau dan engkau memberikan kepada orang yang tidak mau memberikan kepada engkau (3) 


Dan tidak tersembunyi lagi, bahwa buah kebaikan budi itu, ialah berkasih-sayang (ulfah) dan habisnya keliaran hati. Dan manakala baguslah yang mendatangkan buah, niscaya baguslah buahnya. Bagaimana tidak? Dan telah datang pujian kepada jiwa berkasih - sayang itu, lebih-lebih apabila ikatannya itu adalah : taqwa, agama, dan mencintai Allah, dari ayat-ayat, hadits-hadits dan atsar, di mana padanya cukup dan memuaskan penjelasannya.

Allah Ta'ala berfirman, untuk menjelaskan keagungan nikmat-Nya kepada manusia dengan kenikmatan berjinak-jinakan hati: "Kalau kiranya engkau belanjakan seluruh apa yang ada di bumi, niscaya engkau tidak juga dapat menyatukan (menjinakkan) hati mereka, tetapi Allah menyatukan hati mereka S. Al-Anfal, ayat 63

Dan Allah berfirman : Maka dengan nikmat Allah, kamu menjadi bersaudara’’. S. Ali Imran, ayat 103.Artinya : dengan ulfah (berjinak-jinakan hati, berkasih sayang). Kemudian Allah Ta'ala mencela perpecahan dan memperingatkan supaya perpecahan itu ditinggalkan. Maka Maha Agunglah Ia yang berfirman :
1 ) Dirawikan Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Abid Darda'.Katanya : hadits baik (hasan) dan shahih. 
2) Dirawikan Ath-Thabtani dari Abu Hurairah.
3) Dirawikan Al-Baihaqi dari Al-Hasan dari Abu Hurairah.
248
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
(WaMashimuu bihablillaahi jamii-'an wa laa tafarraquu……sampai akhir ayat 103 S. Ali Imran) .Artinya : "Dan berpegang eratlah kamu sekalian dengan tali Allah (Agama Allah) dan janganlah berpecah belah! Ingatilah kumia Allah kepada kamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu diper satukannya hati kamu (dalam agama Allah), sehingga dengan kurnia Allah itu, kamu menjadi bersaudara. Dan kamu dahulu berada di tepi lobang neraka, maka dilepaskan-Nya kamu daripadanya. Begitulah Allah menjelaskan keterangan-keterangan-Nya kepada kamu, supaya kamu mendapat petunjuk S. Ali Imran, ayat 103.

Nabi saw. bersabda :
إن أقربكم مني مجلسا أحاسنكم أخلاقا الموطئون أكنافا الذين يألفون ويؤلفون حديث إن أقربكم مني مجلسا أحاسنكم أخلاقا الموطئون أكنافا الذين يألفون ويؤلفون رواه الطبراني في مكارم الأخلاق من حديث جابر بسند ضعيف(Inna aqrabakum minnii majlisan ahaasinukum akhlaaqan, al-mu- wath-thauuna aknaafan, alladziina ya'lafuuna wayu'lafuun)- Artinya : Sesungguhnya yang terlebih dekat kedudukanmu kepadaku ialah yang terbaik akhlaq (budi pekerti) daripada kamu yang berkelakuan lemah lembut dari mereka, di mana mereka itu menji- nakkan hati orang dan orang menjinakkan hati mereka(1)

Nabi saw. bersabda : "Orang mu'min itu, ialah yang menjinakkan hati orang dan dijinakkan hatinya. Dan tiadalah kebajikan, pada orang yang tidak menjinakkan dan tidak dijinakkan hatinya, Lalu  Nabi saw, bersabda tentang pujian kepada persaudaraan dalam aga­ma : "Barangsiapa dikehendaki oleh Allah kepadanya kebajikan, niscaya dianugerahi-Nya kepadanya teman yang baik. Kalau ia lupa maka teman itu yang memperingatinya. Dan jikalau ia teringat maka teman itu yang menolongnya". (2)

Nabi saw. bersabda ; "Dua orang yang bersaudara itu, apabila berjumpa, adalah seumpama dua tangan, yang satu membasuh yang lain. Dan tidaklah sekali-kali dua orang mu'min itu bertemu melainkan

1. Dirawikan AthThabrani dari Jabir dengan sanad dla'if,
2.Dirawikan Ahmad dan AthThabrani dari Sahl bin Sa'ad dan AlHakim dari Abu Hurairah dan dipandangnya shahih.
3.Hadits ini tidak terkenal dengan susunan demikian kata Al-lraqi.

yang terkenal bunyinya yang dirawikan Abu Dawud dari 'A-isyah, ialah "Apabila Allah menghendaki kebajikan pada seseorang amir (kepala pemerintahan), niscaya dijadikan (dianugerahkan) kepadanya seorang wazir (menteri) yang benar, Kalau ia lupa, maka wazir itu memperingatinya. Dan kalau ia teringat, maka ditolongnya".diberi faedah oleh Allah dengan kebajikan akan salah seorang dari keduanya dari temannya'
249

Nabi saw, bersabda tentang mengajak kepada persaudaraan pada jalan Allah : "Barangsiapa mempersaudarakan seseorang saudara pada jalan Allah niscaya ia ditinggikan oleh Allah suatu tingkat da­lam sorga, yang tiada akan dicapainya dengan sesuatu dariamal per buatannya".

وقال أبو إدريس الخولاني لمعاذ إني أحبك في الله فقال له أبشر ثم أبشر فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ينصب لطائفة من الناس كراسي حول العرش يوم القيامة وجوههم كالقمر ليلة البدر يفزع الناس وهم لا يفزعون ويخاف الناس وهم لا يخافون وهم أولياء الله الذين لا خوف عليهم ولاهم يحزنون فقيل من هؤلاء يا رسول الله فقال هم المتحابون في الله تعالى حديث قال أبو إدريس الخولاني لمعاذ أني احبك في الله فقال أبشر ثم أبشر فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول تنصب لطائفة من الناس كراسي حول العرش يوم القيامة الحديث أخرجه أحمد و الحاكم في حديث طويل أن أبا إدريس قال قلت و الله إني لأحبك في الله قال فأني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول أن المتحابين بجلال الله في ظل عرشه يوم لا ظل إلا ظله قال الحاكم صحيح على شرط الشيخين وهو عند الترمذي من رواية أبي مسلم الخولاني عن معاذ بلفظ المتحابون في جلالى لهم منابر من نور يغبطهم النبيون و الشهداء قال حديث حسن صحيح ولأحمد من حديث أبي مالك ألاشعري أن لله عبادا ليسوا بأنبياء ولا شهداء يغبطهم الأنبياء و الشهداء على منازلهم وقربهم من الله الحديث وفيه تحابوا في الله وتصافوا به يضع الله لهم يوم القيامة منابر من نور فتجعل وجوههم نورا وثيابهم نورا يفزع الناس يوم القيامة ولا يفزعون وهم أولياء الله الذين لا خوف عليهم ولا هم يحزنون وفيه شهر بن حوشب مختلف فيه ورواه أبو هريرة رضي الله عنه و قال فيه أن حول العرش منابر من نور عليها قوم لباسهم نور ووجوههم نورا ليسوا بأنبياء ولا شهداء يغبطهم النبيون و الشهداء فقالوا يا رسول الله صفهم لنا فقال هم المتحابون في الله و المتجالسون في الله و المتزاورون في الله حديث أبي هريرة إن حول العرش منابر من نور عليها قوم لباسهم نور ووجوههم نورا ليسوا بأنبياء ولا شهداء الحديث أخرجه النسائي في سننه الكبرى و رجاله ثقات وقال صلى الله عليه وسلم ما تحاب اثنان في الله إلا كان أحبهما إلى الله أشدهما حبا لصاحبه حديث ما تحاب اثنان في الله إلا كان أحبهم إلى الله أشدهما حبا لصاحبه أخرجه ابن حبان و الحاكم من حديث أنس و قال صحيح الإسناد ويقال أن الأخوين في الله إذا كان أحدهما أعلى مقاما من الآخر رفع الآخر معه إلى مقامه وانه يلتحق به كما تلتحق الذرية بالأبوين و الأهل بعضهم ببعض لان الأخوة إذا اكتسبت في الله لم تكن دون أخوة الولادة قال عز وجل ألحقنا بهم ذرياتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء
Abu ldris Al-Khaulani berkata kepada Mu'az : "Sesungguhnya aku mencintai engkau pada jalan Allah. Maka menjawab Mu'az : "Gembiralah kamu kiranya! Gembiralah kamu kiranya! Maka sesungguh­nya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda : "Akan diletakkan untuk segolongan manusia, beberapa kursi dikeliling 'Arasy pada hari qiamat, di mana wajah mereka itu seperti bulan pada malam purnama raya, dimana manusia lain gentar dan mereka tidak gentar dan manusia lain takut dan mereka tidak takut. Mereka itu ialah wali-wali Allah, yang tak ada pada mereka ketakutan dan kegundahan ".
Lalu orang menanyakan : "Siapakah mereka itu wahai Rasulullah!' 
Nabi saw. menjawab : "Mereka itu ialah orang-orang yang berkasih- kasihan pada jalan Allah Ta'ala". Hadits ini diriwayatkan Abu Hurairah ra.

Dan Abu Hurairah ra. menerangkan, bahwa pada hadits itu tersebut: "Sesungguhnya dikeliling 'Arasy itu beberapa mimbar dari nur, di mana di atas mimbar itu suatu kaum, pakaiannya nur dan wajahnya nur. Mereka itu bukanlah nabi-nabi dan orang-orang syahid. Mereka itu disenangi oleh nabi-nabi dan orang-orang syahid". Lalu para shahabat bertanya : "Wahai Rasulullah! Terangkanlah kepada kami siapa mereka itu!".

Maka Nabi saw. menjawab : "Mereka itu adalah orang-orang yang berkasih-kasihan pada jalan Allah, sama-sama duduk pada jalan Allah dan kunjung-mengunjungi pada jalan Allah". (1)

Nabi saw. bersabda : "Tiadalah berkasih-kasihan dua orang pada ja­lan Allah, melainkan yang lebih mencintai Allah dari keduanya. Itulah yang paling mencintai temannya, dari keduanya itu". (2) Dan dikatakan, bahwa dua orang bersaudara pada jalan Allah itu, apabila seorang dari keduanya lebih tinggi kedudukannya dari yang lain, niscaya ditinggikan oleh Allah yang lain itu bersamanya kepa da kedudukannya. Dan yang lain itu akan menghubungi dengan dia, sebagaimana keturunan menghubungi dengan dua ibu bapa dan keluarga, sebagiannya dengan sebagian yang lain. Karena persauda­raan itu apabila diusahakan pada jalan Allah, niscaya tidaklah ber kurang dari persaudaraan dengan kelahiran. Allah Azza wa Jalla ber firman :
ألحقنا بهم ذرياتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء
(Alhaqnaa bihim dzurriyyatahum wamaa alatnaahum min 'amali- him min syai-in).
Artinya : "Nanti mereka akan kami pertemukan dengan turunannya itu dan tiada Kami kurangi amal mereka barang sedikitpun( S. Ath-Thur, ayat 21.)

(1)Dirawikan AnNasa-i perawi-perawinya orang-orang kepercayaan.
(2)Dirawikan Ibnu Hibban dan AlHakim dari Anas dan katanya shahih isnad
250

Nabi saw. bersabda : أن الله تعالى يقول حقت محبتي للذين يتزاورون من أجلى وحقت محبتي للذين يتحابون من أجلي وحقت محبتي للذين يتباذلون من أجلي وحقت محبتي للذين يتناصرون من أجلي "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman : 'Benarlah kesayangan-Ku kepada mereka yang kunjung-mengun jungi dari karena-Ku. Dan benarlah kesayangan-Ku kepada mereka, yang berkasih-kasihan dari karena-Ku. Dan benarlah kesayangan-Ku kepada mereka, yang beri-memberi, dari karena-Ku. Dan benarlah kesayangan-Ku kepada mereka yang tolong-menolong dari karena- Ku'" (1),

Nabi saw bersabda : إن الله تعالى يقول يوم القيامة أين المتحابون بجلالي اليوم أظلهم في ظلي يوم لا ظل إلا ظلي ''Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman pada hari qiamat : Di manakah sekarang mereka, yang berkasih-kasihan dengan sebab kebesaran-Ku? Pada hari ini, Aku naungi mereka pada naungan-Ku, pada hari yang tidak ada naungan, selain naungan-Ku' (2)

Nabi saw. bersabda : "Tujuh orang yang dinaungi oleh Allah pada naungan-Nya, pada hari yang tak ada naungan, selain dari naungan- Nya : imam yang adil, pemuda yang berkembang dalam ibadah kepada Allah, laki-laki yang hatinya tersangkut di Masjid, apabila ia keluar dari Masjid, sehingga kembalilah ia ke Masjid, dua orang laki-laki yang berkasih-kasihan pada jalan Allah, keduanya berkum pul dan berpisah di atas yang demikian, laki-laki yang mengingati Allah (berdzikir) pada tempat yang sunyi sepi lalu bergenanglah kedua matanya dengan air mata, laki-laki yang dipanggil oleh wanita bangsawan dan cantik, lalu menjawab :  Aku takut kepada Allah Ta'ala dan laki-laki yang bersedekah suatu sedekah, lalu menyembunyikannya, sehingga tiada diketahui oleh tangan kirinyaapa yang diberikan oleh tangan kanannya". (3)

1.Dirawikan Ahmad dan 'Amr bin 'Absah dan Iain-Iain.
2.Dirawikan Muslim.
3.Dirawikan AlBukhari dari Muslim dari Abu Hurairah.
251

Nabi saw. bersabda : "Tiadalah seorang laki-laki yang berkunjung kepada seorang laki-laki pada jalan Allah, karena rindu kepadanya dan ingin menjumpainya, melainkan ia dipanggil oleh Malaikat dari belakangnya dengan kata-kata : 'Baiklah engkau kiranya, baiklah tempat jalannya engkau dan baiklah sorga bagi engkau' (1)

Nabi saw. bersabda : "Bahwa seorang laki-laki berkunjung (berziarah) kepada saudaranya pada jalan Allah. Maka Allah mengirimkan kepadanya Malaikat, untuk menanyakan :'Kamu hendak kemana ?".
Laki-laki itu menjawab : "Mau mengunjungi saudaraku si Anu".
Lalu Malaikat itu bertanya lagi: "Adakah keperluanmu padanya?"
Laki-laki itu menjawab : "Tidak ada!".
Malaikat itu menyambung : "Karena kefamiliankah diantara kamu dan dia?"
Laki-laki itu menyahut: "Tidak!".
Malaikat itu bertanya lagi: "Apakah disebabkan nikmat pemberiannya kepadamu?".
Laki-laki itu menjawab : "Tidak!".
Malaikat itu bertanya pula : "Kalau begitu, apakah sebabnya?". Laki-laki itu menjawab : "Aku mencintainya pada jalan Allah".
Lalu Malaikat itu menyambung : "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengutus aku kepadamu untuk menerangkan, bahwa Dia mencintai- mu, karena cintamu kepada-Nya. Dan telah diharuskan-Nya sorga untukmu". (2)

Nabi saw. bersabda :
أوثق عرى الإيمان الحب في الله و البغض في الله                                                                                                                                                                           
(Autsaqu 'ural iimaanil hubbu fillaahi wal bughdlu fillaahi).Artinya : "Yang terlebih kokoh perpegangan tali iman, ialah kasih- sayang pada jalan Allah dan marah pada jalan Allah". (3)

Maka karena inilah, harus bagi seseorang mempunyai musuh yang dimarahinya pada jalan Allah, sebagaimana ia mempunyai teman dan saudara yang dicintainya pada jalan Allah.
ويروي أن الله تعالى أوحى إلى نبي من الأنبياء أما زهدك في الدنيا فقد تعجلت الراحة وأما انقطاعك إلى فقد تعززت بي ولكن هل عاديت في عدوا أو هل و اليت في ولياDiriwayatkan, bahwa Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada seo­rang dari nabi-nabi, dengan firman-Nya :"Adapun zuhudmu di dunia (bencimu kepada dunia), maka telah menyegerakan kamu beristirahat. Adapun putusmu dari dunia, karena beribadah kepadaKu, maka sesungguhnya kamu telah memperoleh kemuliaan dengan Aku. Tetapi adakah kamu bermusuh pada jalan-Ku akan seseorang musuh?Atau adakah kamu berkasih-sayang pada jalan-Ku dengan seseorang kekasih-Ku

(1)Dirawikan Ibnu 'Uda dari Anas.
(2)Dirawikan Muslim dan Abu Hurairah.
(3)Diriwayatkan Ahmad dari Al-Barra' bin 'Azib dan Al-Kharaithi dari Ibnu Mas'ud, dengan sanad dla’if.
252

Nabi saw. bersabda :
اللهم لا تجعل لفاجر علي منة فترزقه مني محبة
(AUaahumma laa taj-'al lifaajirin 'alayya minnatan fa tarzuquhu minnii mahabbah).
Artinya : "Wahai Allah Tuhanku, Janganlah kiranya Engkau menjadikan nikmat kepunyaan orang dzalim kepadaku, lalu Engkau anugerahkan kecintaanku kepadanya". (1)

Diriwayatkan, bahwa Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Isa as. dengan firman-Nya"Jikalau engkau mengerjakan ibadah kepada-Ku, dengan ibadah penduduk langit dan bumi dan tidak ada kecintaan pada jalan Allah dan tidak ada kemarahan pada jalan Allah, niscaya tidaklah yang demikian itu mencukupkan akan sesuatu pada engkau

Isa as. bersabda : "Berkasih-sayanglah kamu pada jalan Allah, de­ngan kemarahan orang-orang yang berbuat ma'siat! Mendekat diri- lah kamu kepada Allah, dengan menjauhkan diri dari mereka! Dan carilah kerelaan Allah dengan kemarahan mereka".

Para shahabat Isa as. bertanya"Wahai kekasih Allah! Maka dengan siapakah kami duduk-duduk?".
Isa as. menjawab : "Duduklah kamu dengan orang, yang dengan melihatnya, mengingatkan kamu kepada Allah, dengan orang, yang dengan perkataannya menambahkan amalanmu dan dengan orang, yang dengan amalannya menggemarkan kamu kepada akhirat".

Diriwayatkan dalam berita-berita zaman dahulu, bahwa Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu kepada Musa as. dengan firman-Nya :  Wahai Ibnu Imran! Hendaklah kamu waspada dan tariklah saudara-saudara itu untuk dirimu Tiap-tiap teman dan shahabat yang tidak dan menolong engkau kepada kesukaan-Ku, maka itu adalah musuh- mu"

Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Dawud as. dengan firman Nya : "Wahai Dawud! Mengapakah Aku melihat engkau tercampak sendirian Dawud as. menjawab : "Wahai Tuhanku! Aku benci kepada makhluk dari karena Engkau".

(1) Hadits ini telah diterangkan dahulu.
253
Maka Allah berfirman : "Wahai Dawud! Hendaklah engkau waspada dan tariklah teman-teman itu untuk dirimu! Dan tiap-tiap teman yang tiada sesuai dengan engkau kepada kesukaan-Ku, maka jangan­lah engkau berteman dengan dia! Karena dia musuhmu yang mengesatkan hatimu dan menjauhkan kamu daripada-Ku".

Tersebut pada akhbar (berita-berita) Dawud as. bahwa Dawud as. bertanya kepada Allah : "Wahai Tuhanku! Bagaimanakah supaya aku disukai oleh semua manusia dan aku selamat mengenai sesuatu antaraku dan Engkau?".

Allah Ta'ala menjawab : "Bergaullah dengan manusia menurut akhlaq mereka! Dan berbuat baiklah mengenai sesuatu antara Aku dan engkau ‘

Dan pada setengah akhbar tersebut : "Ber-akhlaqlah dengan penduduk dunia dengan akhlaq dunia dan berakhlaqlah dengan penduduk akhirat dengan akhlaq akhirat!".

Nabi saw. bersabda :
إن أحبكم إلى الله الذين يألفون ويؤلفون وإن أبغضكم إلى الله المشاءون بالنميمة لمفرقون بين الإخوان 
(Inna ahabbakum ilallaahil ladziina ya'-lafuuna wa yu'-lafuuna, wa inna abghadlakumul-masysyaa-uuna binnamiimatil mufarriquuna bainal ikhwaan).Artinya : "Yang amat dikasihi diantara kamu oleh Allah, ialah me­reka yang menjinakkan hati orang lain dan yang dijinakkan hatinya oleh orang lain. Dan yang amat dimarahi diantara kamu oleh Allah, ialah orang-orang yang menyiarkan khabar fitnah, yang mencerai- beraikan diantara sesama saudara" (1)

Nabi saw. bersabda : "Sesungguhnya Allah mempunyai Malaikat, setengahnya dari api dan setengahnya dari salju, di mana Malaikat itu berdo'a :'Wahai Allah Tuhanku! Sebagaimana Engkau jinakkan antara salju dan api, maka demikian pula, jinakkanlah antara hati segala hamba-Mu yang shalih " (2)

Dan Nabi saw. bersabda pula : ‘’Tiada diadakan oleh seorang hamba, akan persaudaraan pada jalan Allah, melainkan diadakan oleh Allah untuknya, suatu tingkat dalam sorga". (3)

(1)Dirawikan Ath-Thabrani dari Abu Hurairah dingan sanad dia'if.
(2)Dirawikan Abusy-Syaikh Ibnu hibban dari Mu*adz bin Jabal dengan sanad dia'if.
(3)Dirawikan Ibnu Abid-Dun-ya dari Anas.
254

Nabi saw. bersabda : "Mereka yang berkasih-kasihan pada jalan Allah, adalah di atas suatu tiang dari mutiara yaqut yang merah. Pada puncak tiang itu tujuh puluh ribu kamar. Mereka itu menoleh kepada penduduk sorga, yang kebagusan mereka, memberi cahaya kepada penduduk sorga itu, sebagaimana matahari memberi cahaya kepada penduduk dunia, Maka berkatalah penduduk sorga : Pergilah kepada kami, supaya kami melihat kepada orang-orang yang berkasih-kasihan pada jalan Allah! Lalu kebagusan mereka menyi narkan penduduk sorga, sebagaimana matahari menyinarkan. Pada mereka, kain sutera hijau, yang tertulis pada dahi mereka : 'Orang- orang yang berkasih-kasihan pada jalan Allah' ". (1)

Menurut atsar, diantara lain, 'Ali ra. berkata : "Haruslah kamu ber­saudara (berteman)! Karena teman-teman itu adalah alat (media) di dunia dan di akhirat. Apakah kamu tidak mendengar ucapan penduduk neraka :
وَلا صَدِيقٍ حَمِيمٍ, فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ
(Famaa lanaa min syaa-fi-'iina, walaa shadiiqin hamiim).Artinya : "Bahwa kami tiada mempunyai orang-orang yang akan menolong. Dan tiada mempunyai teman yang setia!". S. Asy-Syu'ara', ayat 100 -101.

'Abdullah bin 'Umar ra. berkata : "Demi Allah! Jikalau aku ber puasa siang, di mana aku tiada berbuka padanya dan aku bershalat malam, di mana aku tiada tidur padanya dan aku belanjakan harta- ku yang baik-baik pada jalan Allah, maka aku mati pada hari aku mati dan tidak ada dalam hatiku kecintaan kepada orang-orang yang mentha'ati Allah dan kemarahan kepada orang-orang yang mendur- hakai Allah, niscaya tiadalah bermanfa'at kepadaku sedikitpun dari yang demikian itu".
Ibnus Sammak mendo'a ketika akan meninggal : "Wahai Allah Tuhanku! Sesungguhnya Engkau mengetahui, bahwa aku, apabila mendurhakai Engkau, maka aku adalah mencintai orang yang men­tha'ati Engkau. Maka jadikanlah yang demikian itu, mendekatkan aku kepada Engkau!".

Al-Hasan berkata sebaliknya : "Wahai anak Adam! Janganlah kamu terperdaya dengan perkataan orang yang mengatakan : 'Manusia itu bersama orang yang dikasihinya'. Karena engkau tiada akan memperoleh derajat orang baik-baik, kecuali dengan beramal segala amal-amal mereka. Sesungguhnya orang Yahudi dan orang Nasrani, adalah mencintai nabi-nabinya dan tidaklah mereka itu bersama nabi-nabi- nya

(1) Dirawikan Al-Tirmidzi dari Ibnu Ma stud dengan sanad dia'if.
255
Dan ini menunjukkan, bahwa semata-mata demikian, tanpa bersesuaian pada sebahagian perbuatan atau seluruhnya, niscaya tidaklah bermanfaat.

Al-Fudlail berkata pada sebahagian perkataannya : "Wah, kamu ingin menempati sorga Firdaus dan mendekati Tuhan Yang Maha Pengasih pada rumah-Nya, bersama nabi-nabi, orang-orang shiddiq, orang-orang syahid dan orang-orang shalih. Dengan amal apakah yang engkau kerjakan?
Dengan syahwat apakah yang engkau tinggalkan?
Dengan kemarahan apakah yang engkau tahan kemarahan itu?
Dengan silaturrahmi manakah yang telah putus, engkau sambungkan?
Dengan kesalahan manakah bagi saudaramu, yang telah engkau ampunkan?
Dengan yang dekat manakah, yang telah engkau jauhkan pada jalan Allah?
Dan dengan yang jauh manakah, yang telah engkau dekatkan pada jalan Allah?".

Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Musa as. dengan firman-Nya  "Adakah engkau berbuat amal semata- mata bagi-Ku”?
Musa as. menjawab : "Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku menger­jakan shalat bagi-Mu, berpuasa, bersedekah dan berzakat".
Maka Allah Ta'ala berfirman : "Sesungguhnya shalat bagimu itu suatu dalil. Puasa itu suatu benteng. Sedekah itu suatu naungan. Dan zakat itu suatu nur. Maka amal manakah yang engkau perbuat untuk-Ku”
Musa mendo'a : "Wahai Tuhanku! Tunjukilah aku akan amal yang untuk-Mu?".
Tuhan berfirman : "Wahai Musa, Adakah engkau berteman untuk- Kusaja teman itu? Dan adakah engkau bermusuh pada jalan-Ku saja musuh itu”
Maka tahulah Musa, bahwa amal yang paling utama, ialah mencin­tai pada jalan Allah dan memarahi pada jalan Allah.

Ibnu Mas'ud ra. berkata : "Jikalau adalah seorang laki-laki berdiri mengerjakan shalat antara ar-rukn (sudut Ka'bah) dan Al-Maqam (Maqam Ibrahim dekat Ka'bah). Ia beribadah kepada Allah selama tujuh puluh tahun. Niscaya ia dibangkitkan oleh Allah pada hari qiamat, bersama orang yang dikasihinya".
Al-Hasan ra. berkata : "Memutuskan silaturrahmi dengan orang fasiq, adalah pendekatan diri kepada Allah".
256
Seorang laki-laki* berkata kepada Muhammad bin Wasi' : "Sesung­guhnya aku mencintai engkau pada jalan Allah".
Maka menjawab Muhammad bin Wasi': "Engkau dicintai Allah, di mana engkau mencintai aku karena-Nya". Kemudian Muhammad bin Wasi' memalingkan wajahnya dan mendo'a : "Wahai Allah Tuhanku! Sesungguhnya aku berlindung dengan Engkau, bahwa aku mencintai pada jalan Engkau, sedang Engkau memarahi aku".

Seorang laki-laki masuk ke tempat Dawud Ath-Tha-i. Lalu Dawud bertanya kepadanya : "Apakah hajatmu?".
Laki-laki itu menjawab : "Mengunjungi engkau".
Maka Dawud menyambung : "Adapun engkau sesungguhnya, telah berbuat kebajikan, ketika berkunjung kemari. Tetapi perhatikanlah, apa yang menimpa kepada diriku, apabila orang menanyakan kepa­daku : "Siapakah engkau, maka dikunjungi? Adakah termasuk orang zahid engkau ini? "Tidak demi Allah!". Adakah termasuk orang 'abid engkau ini? "Tidak, demi Allah!". Adakah termasuk orang shalih engkau ini? "Tidak, demi Allah!". Kemudian, beliau tujukan untuk menjelekkan dirinya sendiri, de­ngan mengatakan : "Adalah aku pada waktu muda dahulu, seorang yang fasiq. Maka tatkala aku telah tua, lalu aku menjadi seorang yang ria. Demi Allah, orang yang ria itu adalah lebih jahat daripada orang yang fasiq".
'Umar ra. berkata : "Apabila seorang kamu memperoleh kesayang­an dari sudaranya, maka hendaklah ia berpegang teguh dengan kesayangan itu. Amat sedikitlah orang yang memperoleh demikian".

Mujahid berkata : "Orang-orang yang berkasih-kasihan pada jalan Allah, apabila beijumpa, lalu mengerutkan muka satu sama lain. Berguguranlah segala kesalahan dari mereka, sebagaimana bergu- guran daun kayu pada musim dingin, apabila daun kayu itu telah kering".

Al-Fudlail berkata : "Pandangan seseorang kepada wajah saudara- nya (temannya) dengan kecintaan dan kesayangan, adalah ibadah".

Next

Categories: Share

Pembukaan

Klik Di bawah untuk pdf version Ihya Jilid 1 PDF Ihya Jilid 2 Pdf IHYA ULUMUDDIN AL GHAZALI Arabic Versio...